La Sorbonne au Pakistan –

MZK~Welcome to Pakistan~

Sejatinya Kita adalah Sang Pemimpi
Bermimpilah Hingga Menembus Batas Cakrawala
Biar Allah yang Menjadikannya Nyata
(Martha Zhahira El-Kutuby)

 

Perjalanan masih panjang. Saat ini masih di Doha. Sebentar lagi akan menuju Islamabad. Aku masih sempat istirahat sejenak melepas lelah. Memang susah menjadi aku. Semuanya harus jadi terstruktur sesuai arahan dokter.

“Rud, di cek lagi semua barangnya. Nanti kita beres-beres total di Lahore saja.”

“Oke, Kak!”

Rudi kembali mengecek semua bawaan kami dari Indonesia. Memang tidak semua diturunkan. Ada yang langsung dipindahkan untuk transit. Pesawatnya masih sama ternyata. Rudi tergopoh-gopoh membawa barang-barangnya. Tak lupa camilanya. Biarpun dia suka membaca dan menonton. Temannya selalu camilan.

Masih di Doha! Rudi segera mengabari temannya untuk menunggunya di Lahore. Sesampai di Islamabad, kami tidak akan singgah dimanapun. Hanya langsung ke Lahore. Kami akan menaiki bus ke Lahore. Sekitar empat jam perjalanan menuju Lahore dariIslamabad.

***

“Welcome to Benazir Bhutto International Airport!”

Begitu bunyi operator pesawat Qatar Airway yang kami tumpangi. Banyak yang turun di bandara terbesar ketiga Pakistan itu. Aku dan Rudi segera turun dan menunggu bagasi diturunkan. Hampir satu jam menunggu bagasi. Kami keluar dari bandara dengan lega.

“Panasnya!” Rudi mendesah.

“Hehe. Selamat datang di Pakistan, Rud!” aku berceringai melihat tingkah Rudi.

“Ah, Kakak! Bisanya ngetawain aja.”

Rudi segera meninggalkanku untuk menuju kursi tunggu di luar bandara. Kami sedang menunggu jemputan taksi online untuk menuju terminal kota. Disana ada bus menuju Lahore.

Jalanan di Pakistan sangat menyeramkan. Orang-orangnya termasuk yang tidak sabar berlalu lintas bahkan bisa dibilang sangat mengerikan jika kita menyeberang jalan. Ada sebagian kota yang memang ramah di jalan raya.

Faisal Movers Bus Terminal! Terminal bus terkenal di Islamabad. Ada bus sewa eksekutif disana. Dilengkapi dengan snack dan air mineral juga ber-AC. Perjalanan selama empat jam menuju Lahore tidak akan kepanasan.

“Faisal Movers Bus Terminal, Sir!” aku menunjukkan lokasi untuk naik bus ke pengemudi taksi.

“Okay, Miss!”

Aku dan Rudi naik bergantian. Semua barang dan koper sudah diatur oleh pengemudi taksi. Tuan Baashir! Nama pengemudi taksi kami menuju Faisal Movers. Taksi dengan cat kuning itu melaju membelah kota hingga kami takjub dengan pemandangan di Islamabad. Tidak ada yang indah memang. Tapi, berkesan mendapatkan suasana baru.

“Besok, aku akan mulai bekerja. Adakah rencanamu besok, Rud?”

“Aku mau bertemu temanku di Minar-e-Pakistan. Monumen Nasional penuh sejarah.”

“Siapa nama temanmu?”

“Azeeb el Maulana!”

Pengemudi taksi yang sedari tadi diam kaget mendengar nama Azeeb el Maulana. Seolah-olah nama itu menjadi misteri dalam kasus kriminal yang pernah ada di Pakistan beberapa waktu yang lalu.

“Are you okay, Sir6?” aku mencoba membaca wajah kaget dari pengemudi.

“Hmm… I‟m okay, Miss! Sorry, I listen to your conversation7.” “Never mind8aku mengangkat bahuku tanda tidak masalah.

Taksi melaju sangat cepat. Wajah Tuan Baashir masih sekilas ketakutan. Mungkin saja dia sangat takut nanti akan terlinat dalam masalah pengadilan Azeeb el Maulana. Dia tidak akan mau dimintai saksi.

Azeeb el Maulana terlahir dari keluarga kaya keturunan Mesir-Pakistan. Dia memang hidup sesukanya. Banyak kasus yang diembannya dalam waktu enam bulan ini. Namun, kepolisian Pakistan masih bisa membebaskan dengan modal uang dari ayahnya.

Rudi mengenal Azeeb dari ikut konferensi internasional di Malaysia setahun yang lalu. Anak itu masih baik-baik saja. Tidak ada kata curiga yang menggambarkan wajah Azeeb. Rudi juga tidak menaruh rasa khawatir pada dirinya ketika berteman dengan Azeeb.

Azeeb memendam luka lama yang pernah pudar dari hatinya. Ketika dia terlahir bukan sempurna. Dia penderita down syndrom tapi dia sangat jenius. Banyak konferensi yang dia menangkan bahkan pendapatnya masih dipertimbangkan di dunia internasional.

Reputasi ayahnya juga membuat dunia kagum. Memiliki kilang minyak terbesar di Mesir. Banyak hal yang membuat Azeeb minder dalam bergaul. Apalagi saat ini dia hanya punya pekerjaan kecil setelah kasusnya selesai di tangan ayahnya.

“That is Faisal Movers Bus Terminal. You can go to ticket counter9.”

 “Thank you, Sir. This our fee for you. Sorry, we have been make you very tired today.10

“No problem, Miss. Thank you!11Tuan Baashir mengangkat bahunya lalu tersenyum menuju kemudi mobilnya.

***

Faisal Movers Bus! Salah satu bus excecutive tujuan Lahore-Islamabad. Bus ini hanya ada di terminal Faisal Movers. Aku dan Rudi membeli tiket di counter dan menaiki bus yang akan berangkat setiap tiga puluh menit sekali. Kami menunggu bus berangkat hanya lima belas menit.

Bus berangkat menembus angin sendu buatku. Perjuanganku untuk bisa menyusul Kayla memang berat. Apalagi dengan kondisiku yang tidak memungkinkan. Bersyukur sekali ada Rudi yang setia menemaniku saat ini. Walaupun kita masih belum terlalu mengenal satu sama lain. Hanya satu grup di Simposium Pakistan. Aku merasa cukup dekat dengannya.

Aku membaca wajah gusar dari Rudi. Memang dia sangat gelisah sejak awal keberangkatan ke Pakistan. Sewaktu di bandara Doha, dia gemetaran ketika aku bertanya tentang pertemuannya dengan Mustafa. Namun, dia menepisnya. Seolah-olah dia tidak mengetahui apapun tentang hubungan Mustafa danKayla.

Dulu sempat Rudi menghakimi Kayla dan menjelekkan Mustafa di depanku. Hanya karena proposal mereka telat selesai. Akhirnya, dia mengalah dan minta maaf pada Kayla. Dia juga memohon kepadaku untuk membantunya kembali. Aku masih membantunya sebagai seorang adik yang minta tolong kepada kakaknya.

“Selamat datang di Pakistan, Rud! Jangan lupa rencana kita kemarin.”

 

Pesan singkat Mustafa menghiasi notifikasi handphonenya. Dia sesegera mungkin menutup notifikasi itu dan kembali menyimpan ponselnya di kantong kemejanya. Dia mencoba mengatur napasnya. Pelan! Agar aku tak mendengarnya. Tetap saja aku curiga dan penasaran dengan kondisi Rudi saatini.

Tak lama, Rudi semakin tidak tenang. Dia mencoba untuk tidur di bus itu. Tapi, tetap saja tidak bisa. Aku yang sedari tadi tidur merasa ada yang aneh dengan gelagay Rudi saat ini.

“Kamu sakit?”

“Eh, enggak, Kak!”

“Atau lapar?”

“Enggak juga, Kak!” “Lalu, kenapa?”

“Tidak apa-apa, Kak!”

“Istirahatlah, Rud. Jaga kesehatanmu disini. Kalau kamu sakit, siapa lagi yang akan membantuku disini?”

Rudi kaget dan menundukkan kepalanya. Dia sebenarnya tidak tega melihatku pergi sendirian. Banyak pertimbangannya untuk mengikuti hingga sejauh ini. Disamping dia ingin belajar berbisnis tour luar negeri, juga dia ingin menemaniku. Sekilas dia sudah paham mengapa dia terpilih untuk menemanikukesini.

“Aku akan selalu disamping, Kakak! Janji!”

Cuaca panas terlihat terik di luar jendela bus. Rudi melemparkan pandangannya keluar. Tanpa terasa matanya panas. Berkaca-kaca. Lalu, airmatanya tiba-tiba jatuh.

“Mana mungkin aku akan mengkhianati Kayla hanya gara-gara cinta Mustafa.

Apakah aku sejahat itu? Tidak mungkin!” batinnya dalam hati.

Ponsel android itu kembali bergetar. Masih dari Mustafa. Memang ketidaksabaran Mustafa membuat Rudi gerah dan sangat menyebalkan. Dengan hati terpaksa, Rudi membalasnya.

“Ingat, Mus! Aku tidak seperti yang kamu kira. Aku tidak akan membantumu. Cukuplah! Aku tidak akan bisa dipaksakan sesuai kehendak hatimu. Hidupku tidak senajis itu. Kayla, sahabatku! Kamu juga temanku. Jangan jadi laki-laki lemah dan pengecut. Kamu urus saja sendiri urusan cintamu. Aku tidak akan ikut campur.”

Rudi menutup chat whatsapp itu. Dia tidak mau aku terbangun hanya gara-gara kegusarannya. Dia mencoba menenangkan hatinya. Kontak Mustafa sudah diblokirnya. Sudah sedikit santai saat ini.

***

Deru angin di luar perjalanan sangat kencang. Panasnya juga sangat terik. Banyak pohon-pohon hijau yang menuju kekeringan. Tanah pun ada beberapa yang tandus. Bahkan, ada retak. Sepanjang perjalanan dihiasi dengan kabut pasir dan debu. Bus melaju kencang untuk bisa sampai di Lahore.

Sudah setengah jalan. Di tengah perjalanan nampak sebuah desa dengan beberapa rumah di tengah tanah tandus. Tidak ramai. Rumahnya juga berjarak tidak teratur. Ada beberapa pabrik dan juga perusahaan yang beroperasi di sepanjang jalan Lahore-Islamabad Motorway.

Suasana perjalanan kali ini kering dan banyak pasir. Kabut dan debu juga beterbangan akibat dari gulungan roda bus yang lumayan besar. Beberapa kali klakson bus mengejutkan penumpangnya. Masih seperti biasa kulihat. Desa memang sepi. Terkadang ada pengembala yang melewati jalanan tanpa tahu kendaraan juga melewatinya.

Sembrawutan siang menjelang sore mendekam dalam benakku. Aku mencoba membuang semua pikiran aneh yang memang sudah beberapa kali gentayangan di otakku. Rudi terlihat lelap sekali. Dia memang lelah. Sejak dari penerbangan ke Doha hingga Pakistan, dia tidak tidur nyenyak.

“Terima kasih, Rud!” aku bergumam dalam hati.

Aku melempar senyumku kepada alam yang terbentang luas. Ada perang yang bisa kuungkapkan saat ini. Yang pasti, aku akan menjalani ini dengan baik. Ini caraku untuk menuju Sorbonne. Aku akan segera bertemu kembali dengan Kayla.

***

“Rud, bangun! Sudah sampai di Lahore!”

“Masa sih, Kak?” Rudi mendesah karena baru bangun dari tidurnya.

“Udah, yang jelas kita turun. Terserahmu mau percaya atau tidak. Okay!

Aku menarik lengan Rudi untuk turun. Laki-laki ini sangat malas diganggu ketika sedang tidur dan makan. Memang surga sekali buat dia kalau sudah bertemu tempat nyaman untuk tidur dan makan.

Lahore! Ibukota dari Punjab, Pakistan. Terletak di bagian timur Pakistan. Lokasinya berdekatan dengan India. Terutama dengan Kashmir. Kota Lahore dialiri oleh Sungai Ravi. Lahore juga terkenal dengan banyak kerajaan. Salah satunya Kerajaan Hindu Shahi, Kerajaan Ghaznavid, dan Kerajaan Ghurid, serta kesultaan Delhi.

Kota Lahore pernah mencapai puncak kejayaan sekitar abad ke enam belas hingga abad ke delapan belas, yakni pada masa kelahiran Mughal. Kota ini mempunyai banyak tempat wisata yang bisa dikunjungi. Disini juga sering mengadakan even tahunan berupa Festival Sastra Lahore. Even ini untuk mencapai Lahore yang sejak dulu menjadi kota perdagangan. Wisatawan biasanya menggunakan bus dari Kota Islamabad atau Atmisar, India untuk menuju Lahore.

“Lahore ini kota yang sangat bersejarah, Rud. Dulu banyak kerajaan disini.” “Wah. Aku belum tahu, Kak!”

“Makanya, jangan main game mulu. Sekali-kali kita membaca sejarah.” “Iyeee     Kak!”

Aku tertawa mendengar sungutan wajah Rudi. Kami sedang menunggu jemputan dari Direktur Asscociated Press of Pakistan App Lahore. Salman Abdullah! Anak dari Prof. Singh Abdullah di India. Saat ini, dia ditugaskan untuk mendampingiku diPakistan.

“Welcome to Lahore, Miss Hanifa!12sapa seorang laki-laki berkulit coklat di belakangku.

“Oh. Thank you, Sir! Are you, Salman?13aku mencoba bertanya.

“Yes. I‟m Salman! Follow me to go to your apartment. We have provided an apartmen for you in The Pelham Lahore.14

“Thank you!”

Aku dan Rudi memasuki mobil mewah itu. Maklum direktur memang selalu kental dengan kemewahan. Namun, di Pakistan, kendaraan seperti ini sudah mewah. Sekilas dilihat masih terlihat sederhana.

“Is he your friend.15

 “Yes. He is not only as my friend. But, my borther.16” “Oh, good! How about your illness?17

“It is very okay, today. No problem with my heart.18” “Alhamdulillah.”

Rudi sejak tadi diam saja. Dia masih mengantuk. Sekali-kali dia menguap lebar. Cuaca sedikit sejuk di dalam mobil membuat matanya kembali sayu. Dia tidur lelap lagi sebelum sampai di apartemen.

Aku sedang menikmati keindahan Kota Lahore dan juga bercerita panjang dengan Salman. Salman seumuran denganku. Dia memang mewariskan kepintaran ayahnya yang profesor. Entah bagaimana dia bisa meraih semuanya. Aku hanya bermodal semangat saja bisa menjelajah Pakistan. Terutama Lahore.

***

Catatan kaki:

6 Kamu baik-baik saja, Pak?

7 Saya baik-baik saja, Nona! Maaf, saya mendengar percakapanmu.

8 Tidak apa-apa

9 Itu Terminal Bus Faisal Movers. Kamu bisa pergi ke loket.

10 Terima kasih, Pak. Ini ongkosnya. Maaf, kami sudah membuatmu lelah hari ini.

11 Tidak apa-apa, Nona. Terima kasih.

12 Selamat datang di Lahore, Hanifa.

13 Oke. Terima kasih, Tuan. Apakah kamu Salman?

14 Ya, saya Salman! Ikuti aku ke apartemenmu. Kita sudah menyediakan apartemen untukmu di The Pelham Lahore.

15 Apakah ini temanmu?

16  Ya. Dia tidak sekedar teman. Tapi,adikku.

17  Oh, baguslah! Bagaimana dengansakitmu?

18 Sangat baik! Tidak terlalu bermasalah dengan jantungku

Comment