Malam Menggenang di Kota

Cerpen: Amalia Aris Saraswati

Hari cepat sekali berlalu.

Kemarin rasanya masih Minggu, tiba-tiba sudah Kamis saja. Kemarin rasanya baru lepas SMA dan masuk kuliah, tiba-tiba harus sudah bergelut dengan skripsi. Oh, makhluk bernama skripsi itu, ya? Kabarnya sedang hibernasi panjang. Ia terkulai kesepian di antara tumpukan buku-buku yang memang hanya dibeli atau dipinjam untuk ditumpuk, bukan untuk dibaca.

Pernah aku membaca artikel di media bahwa ada kelainan-kelainan pada orang-orang seputar buku. Ada yang gemar sekali mengoleksi buku sebanyak-banyaknya tanpa membacanya. Mungkin aku termasuk kaum itu. Ada lagi yang gemar membaca buku apa pun, baik dipinjam maupun dibeli, karena orientasinya adalah membaca sebanyak-banyaknya. Lalu, ada orang yang suka membaca dan berani menyobek halaman yang menarik baginya, baik itu buku perpustakaan maupun buku sendiri. Itu tindakan yang sangat merusak. Ada juga orang yang memakan buku, bahkan dengan saus yang dipesan khusus!

Hari cepat berlalu.

Aku menghabiskan waktu di kamar kost 3×3 meter karena wabah Covid-19 di mana-mana. Aku harus tetap di dalam rumah demi menghindari rantai penularan virus. Ia tak ubahnya hantu. Tak kasat mata dan menyerang sekehendak hatinya. Aku menulis ini diiringi lagu-lagu folk milik seniman gondrong bernama Jason Ranti. Akhir-akhir ini, aku memang sedang jatuh cinta pada lirik-liriknya yang jujur, menikam, dan penuh kritik sosial. Kadang, ia seperti membaca puisi. Kadang, ia melengking. Satu lagu kesayanganku yang paling lembut.

Aku tak ingin menangis menerka gerimis

Di sepanjang lorong itu

Aku tak ada nyali

Ternyata hatiku selembar daun, ah sialan

Aku mudah terombang-ambing

Tapi kutahu Tuhan akan merawat segalanya

Sebab katanya Jakarta itu kasih sayang

Selain menghabiskan waktu bersama Jason Ranti di bilik yang temaram, sesekali aku harus keluar untuk menemui sahabatku, Eva, dari Semarang. Kemudian disusul Gus Imam dan Adi. Kedua lelaki itu adalah sahabatku satu tongkrongan. Sore itu, lengang sekali di Pantai Padang. Orang-orang tidak berani keluar. Ombak sedang pasang saat itu. Daun-daun waru berbentuk hati melambai-lambai diterpa angin laut seakan meledekku yang sedang gamang-gamangnya soal cinta.

Ponselku bergetar. Ada pesan masuk dari Hafidh, juniorku di kampus. Ia meminta bantuan untuk mencarikan pendonor untuk ibunda dari dosennya yang menderita luka lambung dan harus segera mendapat pertolongan dan transfusi darah A+ sebanyak 2 kantong. Gus Imam golongan darahnya A+, tetapi sudah donor darah sukarela sepekan lalu. Mataku menyasar kepada Adi yang sedang mengerjakan tugas kuliah online-nya tentang tafsir hadits.

“Semalam aku begadang, Mbak. Takkan bisa donor.”

Ia langsung beralasan ketika kuminta donor.

Setelah kubujuk karena tidak ada lagi pendonor untuk pasien tersebut, akhirnya Adi bersedia untuk mendonorkan darahnya. Wajahnya kecut. Ia bergidik ngeri membayangkan jarum besar yang akan menembus lengannya.

Kami menuju Unit Transfusi Darah milik Palang Merah Indonesia (PMI). Awan-awan halus Maret seperti tumpukan bulu-bulu ayam ras ditimpa cahaya matahari hingga menjadikannya tersipu-sipu jingga. Pun permukaan laut menjadi keemasan. Perahu-perahu nelayan miskin menjadi noktah di tengah lautan. Tercepuk-cepuk di permukaannya. Maghrib menggenang di kota.

Adi ragu-ragu memasuki UTD. Aku segera memandunya ke dalam. Di pintu masuk, kami langsung diminta membersihkan tangan dengan hadsanitizer dan dicek suhu tubuh. Ini dilakukan demi mendeteksi gejala-gejala yang mungkin timbul akibat Covid-19. Aku memandunya mengisi formulir pendonor pengganti. Adi bukan pertama kalinya donor, tapi melihat bahasa tubuhnya yang ragu dan mengaku ngeri melihat darah. Aku merasa harus mendampinginya sampai cek kesehatan, bahkan di ruang transfusi. Aku khawatir ia menunjukkan reaksi berlebihan melihat darah atau paling parah ia akan pingsan setelahnya.

Aku terus memantaunya lewat jendela kaca demi memastikan ia baik-baik saja, sambil tak kuasa menahan tawa karena selama ini aku mengenalnya sebagai pribadi yang cool, penuh wibawa, pandai beretorika, dan banyak bicara hal-hal yang tinggi. Tapi di hadapan sebatang jarum dan darah yang mulai mengalir keluar tubuhnya melalui sebuah selang, ia jadi pucat. Kaki dan tangannya putih dingin. Aku susah payah menahan tawa.

Usai dari PMI kami lanjut ngobrol di kawasan GOR. Aku agak ketar-ketir sewaktu-waktu diciduk Satpol PP karena keluyuran di luar. Padahal, di Padang sudah ada himbauan untuk tetap di rumah selama wabah menyelimuti kota. Sampai hari tulisan ini kutulis, pasien positif Covid-19 sebanyak 12 orang dengan kematian 1 orang.

Kami duduk berempat di sebuah cafe yang lengang. Diskusi banyak hal. Mulai dari pergerakan, strategi perang, organisasi-organisasi kepemudaan yang beraliansi dengan partai politik, politik kampus, sampai bahasan soal cinta. Semua Adi yang banyak mendominasi karena ia sudah masuk ke banyak organisasi, baik yang ekstrim kanan maupun yang agak ke kiri, tapi tetap saja ia adalah seorang santri yang mesti menjunjung tinggi citra santrinya di manapun.

Lain halnya dengan Gus Imam. Ia anak super metal yang bahkan tidak pernah memakai baju kaos kecuali warna hitam dan bergambar tengkorak. Latar belakang pendidikannya adalah Ilmu Perikanan di universitas yang dibangun oleh sebuah ormas besar Indonesia. Ia bermukim di kampung nelayan di tepi barat Pantai Padang. Sesekali, ia membongkar ikan jika kapal besar banyak mendapat ikan atau berjualan ikan di pasar. Pekerjaannya selalu berhubungan dengan ikan. Ia juga merupakan mahasiswa yang tergabung dalam organisasi pergerakan mahasiswa yang bernuansa ke-Islaman. Kurasa ia orang yang menurutku kadar introver-nya tinggi. Ia tak banyak bicara dan lebih suka mengamati. Berbeda sekali dengan Adi yang suka bicara dan menunjukkan banyak isi kepalanya. Ringkasnya, hidup Gus Imam ditandai dengan 3 hal. Ikan, metal, dan Islam. Tidak adakah yang ingin menanyakan mengapa ia dipanggil “Gus”?

Eva. Ia seorang mahasiswi Semarang yang kebetulan sedang mengurus pamannya yang sakit di RSUP M. Jamil Padang. Dari ceritanya, ia adalah perempuan yang dibesarkan oleh luka sehingga kini tampil sebagai gadis yang begitu tangguh dan dewasa di atas usianya yang baru 22 tahun. Ia kini memimpin sebuah organisasi pergerakan mahasiswa Islam di tingkat Fakultas Tarbiyah. Menurutku, ia perempuan yang ceria, pintar, dan daya juangnya tinggi. Aku sendiri adalah mahasiswa pertanian, karatan, perantau yang suka sendirian, dan belum tamat-tamat. Cukup, kan? Ada yang ingin kau tanyakan lagi, Kawan?

Malam itu tidak ada kopi. Kopi khasnya anak pergerakan yang gemar memikirikan negara, lebih tepatnya suka menggunjing pemerintah dan seluruh antek-anteknya. Adi memesan segelas susu hangat. Aku yakin untuk memulihkan konidisi tubuhnya pascatransfusi darah. Gus Imam memesan jus buah naga. Tak biasanya. Eva minum es kosong dan aku lebih suka puisi yang melintas di jalanan sepi. Kawan barampek (kawan berempat). Begitu aku menyebut lingkaran persahabatan ini. Sahabat dan sahabati, hehe. Kami jelas berbeda, tapi apa salahnya beda kalau masih bisa satu meja, satu cinta pada bangsa, dan satu cinta kepada Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang.

Pukul 01.00 WIB, lampu dipadamkan, cafe tutup. Malam menjadi lebih mencekam, lebih-lebih bayangan Satpol PP seakan menghantui dan bergentayangan. Lagu Jason Ranti mengalir di sepanjang jalanan kota yang lengang.

Barangkali hidup adalah doa yang panjang

Tapi, oh sayang, doanya mesti seragam

Karena tak dapat kuungkapkan kata yang paling cinta

Kupasrahkan saja di dalam diam.

 

Padang, 02 April 2020

Untuk Sahabat Eva, Gus Imam , dan Adi

Comment