Urban Farming dan Ketahanan Pangan Masyarakat Kota

Oleh:
Muhammad Nazri Janra
Dosen Jurusan Biologi, Fakultas MIPA, Universitas Andalas

Jika ada pertanyaan tentang apa kegiatan yang sebaiknya dilakukan untuk melewati panjangnya masa pemberlakuan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) dan work from home (WFH) akibat pandemi COVID-19? Salah satu jawaban terbaik yang bisa diberikan adalah melakukan urban farming. Kegiatan yang juga dikenal dengan istilah urban agriculture atau urban gardening ini berpusat pada aktivitas menanam, mengolah, dan mendistribusikan bahan makanan di sekitar daerah perkotaan dan tidak melulu bergantung pada produk pertanian yang dihasilkan di daerah suburban atau pedesaan.

Urban farming sendiri bukan konsep baru. Mungkin belakangan ini kembali ngetop setelah beberapa orang selebritas disorot melakukan kegiatan tersebut untuk mengisi waktu luangnya akibat sepi job selama pandemi. Urban farming ternyata sudah dilakukan semenjak peradaban manusia mulai berkembang di kerajaan-kerajaan Persia, di mana air dari sumber-sumber di pegunungan sengaja dialirkan ke daerah perkotaan untuk mendukung sistem pertanian yang sengaja didampingkan dengan pemukiman penduduk kota kuno ketika itu. Bukti-bukti arkeologi yang ditemukan pada reruntuhan Machu Picchu di Peru membuktikan bahwa bangsa kuno Inca telah mempersiapkan arsitektur khusus berupa pelataran perundak-undak pada bagian kota mereka yang lebih lama terkena paparan cahaya matahari. Pelataran ini khusus ditanami dengan sayuran, buah-buahan, dan tumbuhan herbal yang dibutuhkan oleh penduduk perkotaan.

Urban farming juga kerap menjadi solusi penyediaan pangan di masa-masa sulit dalam sejarah perkembangannya. Kebun komunitas (allotment garden) merupakan sistem kebun mandiri yang didirikan dengan memberdayakan tanah-tanah kosong di sekitar pemukiman masyarakat Eropa pada awal abad 19. Sistem ini diadopsi oleh masyarakat Amerika pada saat yang hampir bersamaan karena kurangnya pasokan bahan makanan dari Eropa yang sedang paceklik. Mereka menggunakan istilah community garden yang sampai sekarang tetap dilakukan di banyak negara bagian untuk mengisi waktu senggang saat musim semi dan panas berlangsung.

Lebih jauh lagi, salah satu bentuk urban farming yang dinamakandengan Victory Garden menjadi pilar pendukung utama masyarakat di Amerika, Eropa, dan Kanada yang terdampak oleh Perang Dunia I dan II. Ketika itu alokasi logistik negara-negara yang terlibat perang lebih diutamakan untuk mendukung pasukan yang tengah bertempur. Bagi negara-negara tersebut, urban farming telah menjadi hal yang digarap dengan serius sampai sekarang. Salah satu yang menonjol adalah gerakan The Severn Project di Kota Bristol, Inggris yang sejak tahun 2010 sampai sekarang secara konsisten berhasil menyediakan bahan pangan sebesar 34 ton per tahun sembari mempekerjakan banyak orang.

Kendala yang kerap kali diungkapkan oleh masyarakat perkotaan untuk memulai urban farming biasanya menyangkut ketiadaan lahan. Sebenarnya banyak cara yang bisa digunakan sebagai alternatif media tanam tanpa bergantung pada tanah terbuka untuk memulai urban farming. Hal ini bisa dilakukan dengan menyediakan pot atau poly bag yang dapat menampung tanah sebelum bertanam sesuatu di atasnya. Bahkan, dengan sedikit kreativitas, pot atau poly bag dapat digantikan dengan mendaur ulang limbah rumah tangga seperti plastik bekas atau kaleng wadah tertentu yang sudah tidak terpakai.

Cara ini sekaligus membantu mengurangi masalah limbah anorganik yang selama ini menjadi komponen utama polusi tanah di perkotaan. Lahan yang sempit pun bias diakali dengan peletakkan pot secara vertikal, misalnya dengan menggunakan tembok atau dinding rumah yang terbengkalai jika pembuatan wadah vertikal khusus untuk kepentingan tersebut dirasa terlalu memakan biaya atau tenaga. Menariknya lagi, dalam perkembangan urban farming modern, kebun di daerah perkotaan dapat diintegrasikan dengan peternakan skala mikro, akuakultur, apiary (pemeliharaan lebah madu) dan pengolahan limbah organik rumah tangga.

Bagian tumbuhan yang tidak dikonsumsi manusia, bias dijadikan sebagai pakan ternak, sedangkan bunga yang muncul dari tumbuhan dalam urban farming dapat menjadi sumber nectar bagi lebah madu yang koloninya dipelihara di dalam sistem ini. Urban farming tidak lagi sekedar memasok kebutuhan pangan berbahan tumbuhan, tapi juga menghasilkan sumber protein hewani serta mengurangi polusi rumah tangga melalui pemanfaatan limbah organik yang diolah menjadi kompos dan media tanam.

Melakukan kegiatan urban farming disekitar lingkungan tempat tinggal juga memberikan keuntungan tidaklangsung berupa rileksasi pikiran serta kepuasan batin tersendiri. Memperbanyak tumbuhan di sekitar tempat beraktivitas secara tidak langsung meningkatkan spektrum sinar hijau yang dalam banyak penelitian sangat dibutuhkan oleh manusia untuk merileksasi kondisi psikisnya. Saat-saat memanen hasil dari kegiatan urban farming, sebagaimana diakui oleh banyak praktisinya, adalah saat di mana kepuasan batin mereka rasakan karena adanya nilai ‘pencapaian’ yang didapatkan.

Harga-harga kebutuhan pokok yang melambung akibat krisis pandemi saat ini tidak berlaku bagi orang-orang yang konsisten dalam melakukan urban farming. Ketika sayur-mayur dan beragam bumbu dapur melonjak harganya di pasaran, mereka justru puas memetik hasil kebunnya sendiri. Selain mengurangi anggaran belanja rumah tangga karena banyak item bahan makanan yang dapat dihasilkan secara mandiri, ternyata dari segi kesehatan pun urban farming mempunyai keuntungan yang sering tidak disadari bahkan oleh praktisinya sendiri.

Urban farming dapat memutus rantai transportasi bahan makanan dari produsen ke konsumen yang selama ini ditenggarai menjadi sumber menurunnya kualitas dan kandungan gizinya, bahkan kemungkinan kontaminasi mikroba dan zat lain akibat proses transportasi yang kadang berlangsung lama. Memanen bahan makanan segar tepat sebelum memasaknya akan memberikan manfaat gizi terbaik, apalagi jika urban farming tersebut dilakukan secara organik. Secara filosofi, urban farming merupakan bentuk kemuliaan peradaban manusia, terutama dalam interaksinya dengan lingkungan dan dalam upaya mencukupi kebutuhan hidupnya.

Indonesia sebagai negara agraris yang terus mengalami pengurangan lahan pertanian akibat konversi lahan dan perluasan wilayah hunian manusia, sudah harus mencari bentuk-bentuk alternatif yang dapat mendukung swasembada pangan nasional. Mengingat keuntungan seperti yang digambarkan di atas, urban farming sudah seharusnya dapat dukungan dari setiap pemerintahan kota yang ada di negara kita. Setiap orang dapat memulai dari rumah masing-masing untuk mulai melihat manfaatnya.

 

 

Comment