Cincin Emas Ayala

Cerpen: Reno Wulan Sari

Ayala memperhatikan semua cincin yang ada di meja pajangan itu.

Ia mencoba beberapa yang berwarna emas, sambil terus berpikir tentang ukuran dan modelnya. Hari ini, Ayala pergi ke toko pernak-pernik, membelikan sebuah syal untuk temannya yang akan berangkat ke luar negeri. Mereka sudah bersahabat sejak lama dan memiliki cita-cita yang sama untuk melanjutkan pendidikan di sebuah negara impian mereka. Akan tetapi, pada tahun ini, ia belum beruntung karena masih ada syarat yang belum bisa dipenuhinya, sedangkan sahabatnya mendapatkan kesempatan itu. Maka, ia berniat membelikan sebuah syal sebagai kenang-kenangan. Sebuah syal yang berwarna cokelat dan berukuran besar. Sebelum keluar dari toko, ia juga melihat beberapa cincin yang menarik hatinya. Sebenarnya, ia tidak begitu tertarik dengan perhiasan, tetapi pada hari itu ia melangkah ke sana, ke meja pajangan. Ia memperhatikan semua cincin dengan seksama. Semua dialog dan peristiwa pun ikut mengantarkannya ke arah cincin-cincin itu. Ia berujar di dalam hati.

“Haruskah aku membelinya?”

***

Ayala tak pernah memiliki cincin emas dalam waktu yang lama. Ia sangat menyadari itu. Sejak kecil, ibu selalu membelikannya cincin emas ketika akan lebaran. Biasanya seminggu menjelang lebaran, setelah bapak mendapatkan bonus atau tunjangan hari raya dari kantor, Ayala dan adiknya akan mendapatkan cincin, gelang, atau kalung. Sayangnya, perhiasan itu tak akan bertahan lama di dalam kehidupannya. Tidak ada yang pernah bertahan hingga bertahun-tahun.  Sebulan setelah lebaran, ibu akan menjualnya kembali. Hanya satu yang selalu ia miliki, yaitu sepasang anting. Sepasang anting yang selalu ada di telinganya. Bahkan, ketika satu di antaranya hilang, putus, atau ukurannya sudah kecil, ibu akan menggantinya dengan anting yang baru, tanpa harus menunggu waktu lebaran.

Ayala tak pernah bertanya mengapa ibu selalu membelikannya perhiasan sesaat pada waktu lebaran saja. Ayala hanya tahu bahwa sebuah perhiasan bisa dibeli kemudian dijual kembali. Ia juga selalu diingatkan ibu untuk menjaga perhiasan itu. Jangan sampai hilang atau putus. Begitu pesan ibu setiap saat.

Entah apa yang terjadi dengan Ayala dan perhiasan emas. Hingga saat ini, ia memang tidak memiliki perhiasan itu dalam jangka waktu yang panjang. Bahkan ketika setelah menikah pun, ia tidak memilikinya. Ia tidak berpikir tentang cincin pernikahan. Proses pernikahan yang dilaluinya tidak seperti teman-temannya yang begitu sempurna mempersiapkan segalanya. Ayala hanya melakukan segala sesuatu dengan sederhana, bahkan sesungguhnya ia tidak ingin mengadakan pesta pernikahan. Ia pernah mengatakan hal ini kepada orang tuanya.

“Daripada kita menyewa pelaminan, musik, dan berbagai hal yang tidak penting itu, lebih baik uangnya saya pakai untuk uang muka rumah, peralatan rumah tangga atau membeli sepeda motor baru.”

“Tidak penting bagaimana?”Tanya ibunya penuh dengan emosi.

“Ya, tidak penting, Bu. Itu hanya pesta 1 atau 2 hari saja. Jika uangnya bisa saya pakai untuk membeli mesin cuci dan lain-lain, itu akan lebih bermanfaat.”

“Kamu menikah tanpa pesta?Apa yang meracuni otakmu Ayala?”Ibu semakin marah, sedangkan bapak hanya diam mengamati perdebatan itu.

“Apa kata orang nanti? Oh anak Pak Ardi dan Bu Tia menikah diam-diam. Ada apa ya? Itu maksud kamu?”

“Bukan diam-diam, Bu. Maksud saya, kita tetap mengadakan syukuran setelah menikah. Makan bersama tetangga dan keluarga besar, kemudian kita antarkan makanan ke panti asuhan. Orang-orang juga akan tahu kalau saya menikah tanpa harus pesta besar-besaran memaksakan banyak uang keluar.”

“Anak ini aneh, Pak. Saya sudah bilang kepada Bapak, jangan sekolahkan tinggi-tinggi. Membujuk dia menikah saja susahnya setengah mati. Sekarang dia berpikir seperti ini. Ibu malu, Ayala. Apa kata orang? Semua anak gadis dinikahkan baik-baik dengan pesta yang meriah di perumahan ini. Kemudian kamu, hanya syukuran setelah menikah? Kamu ingin mempermalukan bapak dan ibumu? Menikah itu bukan hanya persoalan kamu saja, tapi ada harga diri orang tua. Paham?Ada keluarga besar kita juga yang akan ikut melewati prosesnya.”

“Hah! Cuma proses pernikahan, Bu. Apakah jika saya kesulitan nanti di dalam rumah tangga, semua orang juga akan membantu untuk menyelesaikannya bersama?”

“Ayala! Pak…” Ibu kemudian mengadu kepada bapak.

Seperti biasa.Tidak ada yang bisa dibantah. Oleh sebab itu, segala persoalan proses pernikahan mutlak menjadi urusan orang tuanya. Ayala tidak berpikir tetang foto sebelum pernikahan hingga harus pergi ke pantai, sawah, bangunan kuno, dan sebagainya untuk menemukan filosofi kehidupan di dalam foto.

Ayala benar-benar tidak tertarik. Ayala hanya lebih tertarik dengan persoalan masa depannya, calon suaminya, dan anak-anaknya kelak. Ayala tidak membicarakan banyak hal dengan calon suaminya tentang segala urusan pernikahan. Ia hanya perlu mengetahui bahwa suaminya tidak akan menghambat langkahnya untuk terus berjalan meniti masa depannya. Oleh karena itu pula, ia luput membicarakan tentang cincin pernikahan, sebab ia tidak pernah berpikir bahwa itu diperlukan di dalam kehidupannya. Ia tidak meminta apa pun kepada calon suaminya. Mereka tidak berbicara tentang bulan madu, konsep pesta, model pakaian adat di pelaminan, dan lain-lain.Bahkan, satu hari sebelum akad nikah, Ayala tetap bekerja di kantornya.

Begitulah Ayala yang kerap membuat ibunya sakit kepala. Ibu selalu mengeluhkan sikap dan pemikiran Ayala kepada keluarga besar lainnya hingga Ayala menjadi langganan penerima nasihat dari para kerabatnya. Seperti biasa, Ayala hanya diam. Ia tahu betul, berada dalam situasi perdebatan ketika kau adalah kaum minoritas sama dengan membunuh dirimu sendiri. Maka sejak kecil, Ayala dikenal pendiam oleh keluarga dan kerabatnya. Ayala paham bahwa ia berada pada ruang dan dimensi yang berbeda dengan kebanyakan orang. Situasi ini secara perlahan melatih dirinya untuk bahagia, ketika ia bisa menjadi berbeda dan mendobrak banyak hal yang tidak sesuai dengan pemikirannya. Baginya, menjadi berbeda adalah bentuk kemenangan karena bisa menguasai dirinya sendiri.Baginya, mengikuti arus adalah bentuk kekalahan karena tidak kuat berdiri. Baginya lagi, meskipun ia belum mampu menerobos arus kebiasaan, ia cukup senang bahwa kepala dan hatinya masih menguatkan dirinya untuk terus merdeka. Begitulah Ayala dan pemikirannya.

Sayangnya, kekuatan itu hanya ada pada hari-hari sebelumya. Kini, Ayala bercakap-cukup apik dengan pikirannya sendiri di depan meja pajangan cincin.

“Haruskah aku membelinya?” Tanya Ayala berulang kali. Lalu, ia pun menjawab, “Tidak harus, Ayala. Jangan membodohi diri!”

“Harus, Ayala! Belilah!”

“Jangan, Ayala. Jangan bodoh!”

“Beli, Ayala. Kamu perempuan, seperti kata Kak Dayana dan Biyan!”

Ayala menarik napas dalam. Ah! Kak Dayana! Biyan!

Dua orang itu adalah rekan kerjanya di kantor. Kak Dayana adalah senior yang lebih tua 6 tahun darinya, sedangkan Biyan adalah pegawai honorer yang baru dikenalnya setahun belakangan. Mereka bertiga sering makan siang bersama ketika jadwal istirahat. Pada saat-saat itulah, mereka membahas banyak hal, mulai dari pola pengasuhan anak, bumbu masakan, hingga hal-hal lain tentang kehidupan, termasuk ketika pegawai lain membeli mobil baru.

Ayala cukup senang berkumpul dengan mereka, sebab ia bisa membaca banyak hal unik tentang kehidupan meskipun kadang bukan menjadi prioritas utama yang harus dipikirkannya. Dua rekan ini,  berbeda dengan sahabatnya yang akan pergi ke luar negeri besok, yang dianggap Ayala punya ruang yang sama dengannya. Bahkan ketika mereka akan berpisah, Ayala masih berjanji untuk terus berusaha agar bisa bertemu kembali dengan sahabatnya. Berada di universitas yang sama, di negara impian mereka.

“Saya akan kursus pada malam hari.  Saya akan mendapatkan skor yang sempurna tahun ini dan memperoleh sertifikat itu.”

“Saya tunggu! Saya akan kirim jurnal-jurnal yang kamu butuhkan!” sahut sahabatnya. Ayala hanya terkendela dengan satu syarat yang sulit dicapainya. Ia harus mendapatkan satu sertifikat lagi untuk bisa memperoleh beasiswa yang ia inginkan. Untuk itu, Ayala akan bekerja keras, termasuk mendaftar kursus pada malam hari, setelah ia pulang bekerja. Mendengar hal demikian, dua orang rekan yang selalu menemaninya makan siang, memberi nasihat,

“Kamu tidak letih?Bagaimana mau punya momongan kalau sibuk begitu!”

“Itu rahasia Tuhan, Kak Dayana” Jawabnya singkat.

“Rahasia Tuhan tapi yang berusaha tetap manusia kan?”

Sekali lagi, Ayala diam. Ayala memang lebih banyak diam, sama seperti ketika ia berada di tengah kerabatnya. Ia tahu bahwa posisinya tidak berbeda. Menjadi minoritas. Berbagai pembicaraan sering mereka bahas pada saat makan siang tersebut. Ayala lebih banyak mendengar sekaligus mengamati. Begitu juga tentang perdebatan hangat yang pernah terjadi di antara mereka ketika membahas tentang finansial yang kemudian berujung pada emas.

Ayala berpikir itu tidak penting.

“Menabung kan bisa di bank!”Ayala mencoba membela diri.

Tapi masih bisa diambil di ATM kan? Kalau emas, harus dijual dulu. Lagi pula, harga emas mengikuti perkembangan. Kalau nominal uang di tabungan, tetap begitu saja jumlahnya kalau tidak ditambah!” Sahut Kak Dayana.

“Betul, Kak. Kalau saya nggak bisa menabung begitu. Pasti akan terpakai! Apalagi kita punya banyak kebutuhan. Kalau dijadikan emas, kita nggak bisa ngapa-ngapain!” Biyan membenarkan.

“Ya, itu tergantung pribadi masing-masing.”Sekali lagi, Ayala membela diri.

“Lagi pula, emas bisa dijadikan perhiasan.Kalau ukurannya kecil, bisa kita pakai.Kalau ukurannya besar ya disimpan.”

“Saya tidak suka pakai perhiasan!”

“Kamu itu perempuan.Apalagi sudah menikah!”

“Apa hubungannya?”

“Ayala!Itu semacam harga diri.Kamu perempuan, sudah bekerja, sudah punya suami tapi tidak berbarang!”

“Harga diri?Dari barang?”

“Iya, bukti kamu sudah bekerja, sudah hidup layak!”

“Tapi harga jam tangan saya lebih mahal!”

Dua orang rekannya tertawa.

“Kak Ayala, tidak semua orang tahu merek jam tangan Kak Ayala. Orang tidak peduli itu!”

“Apakah saya harus menyenangkan hati semua orang?”

“Bukan menyenangkan hati.Tapi paling tidak, menjaga harga diri suami kamu!”

“Iya, Kak. Orang akan bilang, oh suaminya tidak membelikan emas ya!”

“Tidak ada yang bilang begitu kepada saya!”

“Memang tidak ada, tetapi mata orang memperhatikan!”

Sekali lagi, Ayala diam.

Ia tak mau berdebat cukup lama, tetapi persoalan emas ini merasuk ke hatinya. Ia terus berpikir menjelang tidur, apalagi minggu depan ia akan pulang kampung untuk menghadiri pernikahan adik iparnya. Ah emas! iya mencoba menghitung tabungannya, menimbang beberapa pengeluaran yang harus ia keluarkan dalam waktu dekat.

Banyak rencana yang terbayang di kepalanya. Setelah ia berpikir dan mengecek saldo melalui ponselnya, ia berpikir bisa membeli sebuah cincin emas. Beberapa saat kemudian, ia kembali terdiam.

“Tidak. Banyak kebutuhan lain!” ujarnya.

***

Perdebatan hati dan pikirannya tidak selesai pada malam itu.

Kini, ketika ia berdiri di depan meja pajangan cincin setelah memilih syal, ia kembali berdebat dengan dirinya sendiri.

“Haruskah aku membelinya?” Ia berdiri cukup lama, mematung.

“Tidak, Ayala. Tidak harus!”

“Apa kata orang nanti, sudah menikah, tidak punya cincin emas!”

“Tidak ada aturannya!Jangan beli!”

“Pikirkan suamimu, Ayala.Kamu akan pergi ke kampung halaman suamimu!”

“Baiklah.Silakan beli, tapi bukan ini.”

“Ini saja.Lebih murah. Uang yang lain bisa dipakai untuk kebutuhan lain.”

“Beli yang asli.Bukan ini.”

“Ayala, kalau kamu beli yang asli, uang kamu akan habis! Ini cukup kalau hanya untuk menghadiri pernikahan.”

“Tidak. Kamu harus beli. Kamu perempuan. Kamu sudah menikah. Apa kata orang kalau kamu tidak berbarang?”

“Apakah saya harus memenuhi itu semua? Tidak.Beli ini saja.”

“Tidak! Beli yang asli! Kalau kamu membeli yang asli, bisa dijual kembali.”

“Apakah kamu akan melakukan itu terus-menerus?Apakah kamu tidak ingin punya satu cincin yang menetap lama dalam kehidupanmu?”

“Kamu perempuan.Kamu sudah menikah!”

“Tidak perlu.Ini saja.”

“Beli yang asli.Bukan ini.Kalau ada yang tahu ini tidak asli, itu sangat memalukan!”

“Tidak ada yang tahu, warnanya sama!”

“Jangan membodohi diri sendiri, Ayala! Itu semakin terlihat bodoh!”

“Kamu perempuan”

“Ya!”

“Kamu sudah menikah.”

“Ya!”

“Apa kata orang tentang suamimu?”

Cukup!

Cukup!

Cukup!

Hati dan pikiran Ayala semakin sesak. Ia menarik napas dalam. Seketika pegawai toko pernak-pernik menghampirinya.

“Ada yang bisa saya bantu lagi, Mbak?”

Ayala kembali pada dirinya ketika ia menatap mata pelayan toko. Ia telah tenggelam, cukup dalam.

“Mbak?”

Ayala kembali menarik napasnya.

“Oh tidak, terima kasih. Saya beli syal ini saja!”

Ayala membayar syal itu kemudian melangkah pergi. Ia yakin sahabatnya akan sangat bahagia mendapatkan syal cokelat untuk menghabiskan musim dingin di negara impian mereka. Ia kemudian mengirim pesan, hendak bertemu besok, memberikan syal sebagai kenang-kenangan. Tidak lama, sahabatnya pun membalas, “Baiklah, kita bertemu besok ya. Sekalian saya temani kamu mendaftar kursus untuk persiapan beasiswa”, Ayala menjawab, “Saya belum bisa mendaftar kursus minggu ini. Mungkin beberapa bulan lagi!”

“Mengapa?”

Ayala tak membalas lagi.Ia terus melangkah, berhenti, dan masuk ke dalam toko emas.

Ia kemudian berdiri di depan meja pelayan toko dan mencoba beberapa cincin sambil berujar lagi di dalam hatinya, terus-menerus.

Haruskah aku membelinya?

Sekali lagi, haruskah aku membelinya?

Busan, Juli 2020

*Penulis adalah Dosen Sastra Indonesia Universitas Andalas dan Dosen Tamu di Busan University of Foreign Studies, Korea Selatan

Comment