Upaya Memahami Diri Manusia yang Rumit dalam Perspektif Sosiologis

Oleh: Lismomon Nata
 (Motivator dan Pemerhati Sosial)

 Kehidupan manusia jika dipahami secara seksama adalah suatu proses yang ‘unik’. Hal ini dapat dipahami ketika mengamati setiap peristiwa yang terjadi dalam kehidupan. Kenyataannya, semua peristiwa dan kejadian tidak terlepas dari individu yang membentuk sebuah masyarakat. Masing-masing memiliki dinamika yang berbeda satu sama lain. Sangat akrab ditelinga kita kata-kata; suka, duka, senang, sedih, tipu, menipu, kerja sama, konflik, permusuhan, persahabatan, cinta atau penghianatan, dan sebagainya dalam interaksi kehidupan manusia.

Sosiologi menawarkan beberapa cara pandang (paradigma) yang dapat digunakan untuk melihat posisi antara individu dan masyarakat. Pertama, individu adalah makhluk yang malang (follencreatures) sehingga individu adalah makhluk yang lemah dan mesti tunduk terhadap nilai serta norma yang telah ditentukan oleh masyarakat (dunia sosial yang tertib). Pandangan ini, oleh Emile Durkheim disebut dengan fakta sosial, yaitu cara manusia berasa, berpikir, dan bertindak telah ada dengan sendirinya, jauh sebelum manusia itu ada dan dilahirkan (taken of given) dan ditentukan oleh masyarakat. Dengan demikian, individu takluk kepada masyarakat.

Kedua, individu merupakan makhluk kreatif, inovatif, dan memiliki potensi kuat dalam membentuk masyarakat. Jika pandangan pertama, disebut dengan paradigma fakta sosial maka yang kedua dapat dipahami melalui paradigma perilaku dan definisi sosial (lihat Sosiologi Ilmu Pengetahuan Berparadigma Ganda, 2014). Artinya, setiap cara berpikir, berasa, dan berperilaku manusia bukanlah disebabkan oleh ‘tekanan’ atau dominasi oleh masyarakat, melainkan karena individu itu sendiri yang memiliki kebebasan dalam setiap pikiran, perasaan, dan perilaku. Oleh sebab itu, setiap perilaku individu memberikan kesan ‘rumit’, membingungkan, dan sulit untuk ditebak. Maka, apa yang dilihat dan dirasakan terhadap orang lain, tidaklah serta-merta benar seperti halnya yang dirasakan oleh diri sendiri. Untuk memahami setiap perilaku manusia, dapat dilakukan dengan cara mencari makna yang mesti dijelaskan sesuai dengan sudut pandang si pelaku (subjektif) dan memerlukan kemampuan untuk menginterpretasikannya.

Contohnya teori sosiologi klasik, Max Weber menjelaskan macam-macam jenis prilaku manusia; perilaku sosial irasional, perilaku sosial rasional, rasional instrumental, dan perilaku tradisional. Salah satu karya Weber yang menjelaskannya adalah ‘The Protestan Ethic and The Spirit of Capitalism’ (Etika Protestan dan semangat kapiltalisme). Dalam buku tersebut, ditemukan konsep ‘calling’ (panggilan), ‘orang yang terpilih’, kerja bukanlah semata-mata sarana atau alat ekonomi, melainkan adalah suatu tujuan akhir spiritual dan pencapaian menuju surgawi. Sifat iri hati apabila membahayakan bagi jiwa merupakan suatu ancaman yang lebih rendah daripada kemalasan. Untuk jauh dari kemiskinan, suatu kewajiban bagi manusia untuk memilih pekerjaan yang lebih menguntungkan secara ekonomi. Demikian kira-kira salah satu diktumnya. Di samping adanya konflik yang tak terhindarkan antara mencari harta dan piety (kesalehan), itu semua akan menjadi sekutu yang bersifat natural sebab para pemegang kebijakan berasal dari mereka yang terpilih, ketekunan, sikap hemat, ketenangan hati, dan kebijaksanaan(The Protestan Ethic and The Spirit of Capitalism, Charles Scribner’s Sons terjemahan Priyasudiarja (2000:10). Perilaku-perilaku yang ditampakkan dari sifat-sifat hemat, ketenangan hati, dan kebijaksanaan di atas, bukanlah semata-mata karena sesuatu yang ‘telah ada’ (nature) melainkan karena adanya variabel lain yang ‘memanggilnya’.

Panggilan, orang terpilih, dan dunia adalah cerminan akhirat, neraka, dan surga. Hal itu telah menarik sebagian besar orang Protestan, terutama bagi kaum Calvinis yang awalnya kehidupan bisnis dianggap membahayakan terhadap jiwa- summe periculosa est emptionis et venditionis negotiatio – “memperoleh suatu penyucian baru”. Tidak mengherankan jika sulit menemukan penganut Protestan yang berprofesi sebagai pemulung, pengemis, dan orang miskin. Sebaliknya, konsep ini membangun pencitraan pada Protestan sebagai orang-orang yang dermawan, baik hati, bijaksana, dan sangat gemar dalam berderma. Perilaku yang sangat kontras dengan pemulung, pengemis, dan orang miskin adalah perilaku yang memiliki etos kerja yang penuh dengan semangat, tipe pekerja keras (hard work), gigih sebagai upaya untuk memiliki paspor menuju surga. Hal yang menarik dari semangat tersebut adalah ‘mengejar dunia, untuk mengejar akhirat’. Sementara itu, ada juga yang ‘mengejar dunia dan lupa dengan akhirat’.

 

Perubahan-perubahan perilaku tersebut, bukanlah semata dari kitab-kitab. Justru dalam konteks Protestan, kitab (Injil) telah disanggah oleh Martin Luther yang telah menuliskan 95 dalil yang diperkuat dengan dilakukannya khotbah-khotbah sehingga terjadinya Reformasi Gereja abad 15. Nah, ketika berbicara tentang khotbah maka tidak terlepas dari kata-kata, vokal, kalimat, dan bahasa. Di lain sisi, Thomas Hobbes mengungkapkan bahwa tindakan manusia ditentukan oleh nafsu dan ketamakan yang mewujudkan diri dalam situasi konflik yang keras. Akan tetapi, manusia memiliki nalar (reason). Meskipun bagi Hobbes, manusia sebenarnya gila perang dan mementingkan dirinya sendiri, tetapi manusia juga membutuhkan keselamatan. Dengan demikian, pandangan humanistis atau interpretatif, penting memahami keberadaan ‘diri’ (self), subjek yang aktif, bebas, dan kreatif, ‘unik’, dan sulit dipahami.

Interaksi manusia (individu) yang terjadi pada dasarnya dapat dipahami karena memiliki pola dan dibangun atas asumsi-asumsi dasar atau teori-teori yang dapat menjelaskan realitas, termasuk di dalamnya adalah pola komunikasi manusia. Di mana hampir keseluruhan kehidupan manusia diisi dengan komunikasi, baik secara verbal maupun nonverbal. Oleh sebab itu, menjadi tugas setiap pembelajar untuk mengetahui pola yang dilakukan oleh individu agar dapat memahami setiap makna yang tersampaikan melalui interaksi sosial. Bahkan lebih jauh, jika individu memiliki ketajaman dalam memahami pola maka ia tidak hanya mampu dalam mengetahui pola dan maksud tujuan setiap kata yang dikeluarkan individu lain. Ia dapat menemukan dengan mudah maksud dan tujuan individu lain. Ia akan dapat mengubah situasi diri atau perasaan (felling) meskipun melalui sebuah benda. Hal ini senada dengan salah satu basic assumption NLP (Neuro Linguistic Programming), yaitu mengubah proses dalam memaknai diri jauh lebih bernilai daripada mengubah kontens. Jadi, tidak mengherankan jika seseorang begitu sangat terlihat menikmati saat ia melihat sebuah lukisan, mencari dan menemukan gambar dalam hologram, bernyanyi dengan memainkan gitar, serta tertawa melihat sebuah benda yang pernah singgah dalam hidupnya.

Hal yang menarik betapa pentingnya kata-kata dalam kehidupan manusia, seperti halnya yang telah diteliti oleh Prof. Albert Mehrabian (University of Los Angeles/ UCLA) yang menemukan sebuah model komunikasi yang tahan terhadap uji waktu. Model tersebut kemudian dianggap hampir sebagai sebuah contoh terbaik dalam memahami cara menyerap makna dari pesan orang lain. Penelitian itu mengungkap tiga elemen dasar yang terdapat dalam sebuah pesan di setiap komunikasi, yaitu bahasa tubuh, suara, dan kata-kata. Mehrabian menciptakan rumus 55, 38 dan 7 yang mengungkapkan beberapa fakta, 55 % makna dalam setiap pesan berasal dari bahasa tubuh visual.

Kecenderungan umum makna dari penelitian tersebut menyimpulkan bahwa: Pertama, dalam berkomunikasi waktu kritis selama 20-30 detik yang dimiliki manusia untuk membuat kesan kepada orang lain. Hal itu sebagian besar ditentukan oleh cara kita menghadirkan diri dan mengatakan sesuatu. Alih-alih oleh sesuatu yang dikatakan (isi). Kedua, jika tidak terdapat ketidakcocokan antara kata-kata yang disampaikan maka kita cenderung lebih mempercayai cara penyampaian daripada kata-kata itu sendiri (artinya angka tertinggi dari angka di atas). Dengan demikian, bahasa tubuh (gesture) membuat kita dapat melihat jauh melampaui kata-kata yang terucap dan mengetahui pesan tanpa kata-kata tersembunyi yang disampaikan (yang seringkali terjadi tanpa kita sadari). Jadi, penelitian klasik yang dilakukan Mehrabian memberikan pemahaman bahwa pengaruh kita ditentukan oleh tiga faktor, yaitu cara memandang, bersuara, dan berkata. Ringkasnya, bahasa tubuh berbicara lebih keras daripada kata-kata.

Namun itu keliru. Intinya, jika yang 55% atau bahasa tubuh yang kita tampakkan tidak bagus, orang lain bahkan tidak mau repot-repot untuk mendengarkan 38% sisanya, apalagi 7% sisanya. Kata-kata juga sangatlah penting dan yang terpenting dapat menyeimbangkan ketiga elemen tersebut, gesture, intonasi, dan kata-kata. Dari beberapa pandangan di atas, dapat dipahami bahwa kata-kata adalah sesuatu yang ‘luar biasa’ dan memiliki kekuatan besar dalam mempengaruhi, mengubah, dan membentuk prilaku manusia.

Comment