Puisi-puisi Rilen Dicki Agustin

Lebaran Sunyi

 

Malam tak lagi riuh

Gema takbir tak lagi ramai

Lengang tanpa ingin sebab

Sunyi tanpa harap

 

Lebaran telah sunyi

Anak-anak biasanya main petasan

Kini berdiam di rumah

Menghabiskan waktu bersama keluarga

 

Lebaran kini memang terasa berbeda

Terasa lengang

Terasa sunyi

Hingga riuh pun tak terdengar lagi

Karena pandemi korona

 

Pasaman, Mei 2020

 

Untuk Anak Rantau

 

Hari telah berganti senja

Malam menyapa

Menyonsong hati yang resah

Karena anak rantau telah

Lari dari kehidupan kampungnya

 

Pasaman, Mei 2020.

 

Menangis

 

Bumi menangis menampar luka

Sementara manusia menangis menciptakan luka

 

Pasaman, Juni 2020.

 

Mata Puisi

 

Kau begitu tajam setajam mata pisau

mengiris jari ketika memotong bawang

Mata puisi

Lewat matamu

Irisan-irisan kata  tertuang ke dalam tinta pena

Sehingga pembaca berbeda pendapat

dan beradu argumen

 

Sungguh, mata puisi kejam daripada mata pisau

Ia tajam lewat asahan buku

Tumpul kala lembaran-lembaran kosong

tanpa tulisan tinta dari mata puisi

 

Pasaman, Juni 2020.

 

Aku Tak Bisa Bebas, Korona

 

Dunia memang luas seluas memandang

pandemi korona yang sedang masai

Aku yang terkurung dalam penjara

Kini bebas di alam liar

Sebab aku ialah penikmat alam yang bebas

Namun tak bisa sebebas burung mengudara

Ia bebas mengepakkan sayapnya

Bebas menikmati keindahan alam

Bebas menikmati udara segar

Sedangkan aku, bebas dari penjara

Wajib lapor 2 kali 24 jam

Berhubung korona

 

Pasaman,  Juni 2020.

 

Rilen Dicki Agustin lahir di Pasaman, 10 Agustus 1999. Mahasiswa Jurusan Sastra Indonesia. FIB-Unand ini adalah founder Komunitas Lingkar Mentari (KLM) dan Wakil Ketua Labor Sastra dan Seni. Puisinya tergabung dalam antologi bersama Untuk Wakil Rakyat (2019), Tabung Air Anti Korona (2020), Gadis Dusun Asri (2020), dan antologi puisi tunggalnya berjudul Lupa Hormat Pada Merah Putih (2020).

 

 

Comment