La Sorbonne! au Pakistan –

 

MZK”AYAH, MAAFKAN AKU!”

Sejatinya Kita adalah Sang Pemimpi.

Bermimpilah Hingga Menembus Batas Cakrawala.

Biar Allah yang Menjadikannya Nyata

(Martha Zhahira El-Kutuby)

 

 

 

“Duh, pusing sekali.”

Semakin hari kepalaku rasanya semakin aneh. Tidak enak dan sangat memualkan perut.

“Aku nggak boleh sakit. Tidak ada yang peduli kalau aku sakit. Kuat-kuat!” gumamku dalam hati.

Pagi yang membuatku tidak enak sekali. Semuanya berantakan. Kapal pecah pun kalah dari kamarku yang kuhuni bersama anak-anak tanteku. Sepertinya ada sesuatu hari ini. Aku membuang jauh pikiran anehku. Aku beralih untuk tidur kembali. Alih- alih beranggapan kalau kepalaku bakalan enakan setelah tidur ini.

“Masih sakit, ya Allah!” omongku sendiri.

Tak lama handphoneku berdering. Ada pesan WhatsApp masuk dari Kayla. “Assalamu‟alaikum, Kak. Kak, maaf. Pagi ini aku mau urus beasiswa kampusku

dulu. Cuma sebentar, kok. Nanti kalau sudah sampai di Stasiun Sudirman kabari ya, Kak.”

“Iya, nanti kakak kabari,” balasku.

Aku mencoba berdiri untuk mandi dan bersiap. Sudah mulai siang. Pukul 9.00 WIB. Aku buru-buru mandi dan setrika baju. Takutnya telat. Menuju Sudirman itu butuh waktu dua puluh menit. Menuju Stasiun Pasar Minggu dari rumahku itu butuh waktu lima belas menit dengan gojek. Aku jadi terburu-buru.

Kamarku berantakan. Laptopku entah dimana. Semuanya belum sempat kubereskan. Aku sudah menuju ke Sudirman. Masih terasa lelahnya badanku dari kemaren karena tidak sehat. Alergiku kambuh. Semua badanku sakit. Masuk angin juga. Entah kenapa semuanya muncul begitu saja.

***

“Dik, kakak berangkat ya. Kabari kalau urusan di kampusmu sudah selesai.

Nanti kakak tunggu di Stasiun Sudirman,” pesanku lewat WhatsApp.

“Iya, Kak. Nanti aku kabari lagi. Kakak hati-hati, ya,” balas Kayla.

Aku berangkat dari Stasiun Pasar Minggu menuju Stasiun Sudirman. Masih was-was perasaanku. Akan ada yang terjadi nanti setelah ini. Namun, aku tak tahu itu siapa dan akan terjadi apa. Aku hanya berdoa saja tidak akan hal yang menakutkan. Walaupun aku sendiri takut dengan kejadian itu.

Sampai di Stasiun Sudirman. Aku beralih duduk di kursi tunggu di stasiun itu. Menunggu kabar Kayla. Masih pukul 10.00 WIB pagi. Kayla berjanji pukul 11.00 WIB akan bertemu aku. Namun, sampai saat masih belum dikabari. Aku masih menunggu.

Mendung masih menghampiri pagi di Jakarta. Gedung-gedung tinggi menjulang ke langit pun terasa mau roboh dengan beratnya langit. Sepertinya akan hujan. Ah, sudahlah. Aku harus kuat hari ini. Gamis kuning jahe yang aku pakai dari rumah itu juga membuatku badanku terasa sedikit nyaman. Hatiku tidaklah senyaman pakaianku.

“Kak, aku sepertinya agak lama. Masih banyak yang diurus kak. Mendadak aja pagi tadi ditelpon sama pihak Kemahasiswaan. Mau urus keabsahan beasiswa aku, Kak.”

“Iya, nggak apa-apa kok. Kakak tunggu ya sampai selesai. Semoga segera selesai dengan baik. Aamiin.”

“Maaf ya, Kak. Kakak sudah dimana?”

“Sudah di Stasiun Sudirman. Nggak apa-apa kok ditungguin aja.” “Yah, jadi nggak enak sama kakak.”

“Udah. Urus satu-satu dulu.” “Iya, Kak.”

Sudah dua jam berlalu. Sudah enam kereta lalu lalang di depanku. Ditambah juga kereta arah ke Bandara Soekarno-Hatta. Aku masih menunggu. Aku tahu melatih diri sabar itu sebuah keharusan. Melatih diri agar tidak berburuk sangka. Aku mau mengajarkan sesuatu kepada Kayla. Masih aku simpan tujuanku. Aku tidak mau dia tersinggung dengan kehendakku yang ingin dia jadi lebih baik.

Selama dua jam juga aku menghitung waktu dan berdzikir di stasiun. Sudah pukul 13.00 WIB. Aku mulai lelah dan lemas.

“Apa baiknya aku ke kosan Kayla lagi aja, ya?” pikirku.

Lama aku merenung dan berpikir. Akhirnya aku naik lagi kereta arah ke Pondok Ranji. Aku mau ke kosan Kayla saja. Menunggunya di kosan dan sekalian membelikan makanan untuk dia. Biasanya dia malas minum dan suka telat makan.

“Dik, kakak ke kosan aja ya. Numpang tidur siang sebentar. Malas juga mau balik pulang lagi,” pesanku lewat WhatsApp.

“Oke, Kak. Kuncinya di tempat kemaren, Kak. Kakak hati-hati ya. Kalau sudah sampai kabari saja. Aku kelelahan, Kak. Sudah bolak-balik ngurusin beasiswanya.”

“Yaudah, nggak usah sekarang kita urus proposal ini. Kapan-kapan saja. Kita istirahat aja, ya.”

“Iya, Kak. Hati-hati ya, Kak.” “Iya.”

Aku transit di Tanah Abang lagi. Naik kereta ke Pondok Ranji. Aku mengantuk sekali. Kelelahan juga dan masuk angin. Ciputat lagi mendung. Aku belum pernah melihat Ciputat muncul matahari. Selalu saja mendung. Katanya panas, kataku tidak. Biasa saja.

“Assalamu‟alaikum,” aku masuk kosan Kayla.

Kayla sedang sholat zhuhur. Aku duduk dikasur sambil baringan menungu dia selesai sholat. Ada rasa cemas dihatiku hari itu. Aku malas pulang dan malas kemana- mana. Aku masih nyamannya disini dan tidur.

“Wa‟alaikumussalam, Kakak,” balas Kayla setelah selesai sholat. “Eh, udah selesai, ya?”

“Apa kabar nih?”

“Alhamdulillah baik. Kayla gimana kabarnya?”

“Alhamdulillah. Cuma kelelahan ini habis ngurus-ngurus beasiswa ini. Sebenarnya, nggak ada masalah sih, Kak. Tapi, kan kemaren aku nggak dikasih beasiswa sama kampusnya ya aku bayar sendiri. Nah, tadi katanya dibalikin lagi. Gitu, Kak.”

“Oh gitu, bagus ya kalau begitu. Biasanya kalau udah dibayar itu nggak kembali lagi.”

“Iya, Kak. Alhamdulillah ini amanah juga kampusnya. Hehe,” cengengesan Kayla.

Aku langsung berbaring di kasur yang sudah terhampar di lantai kamar kosan Kayla. Tanpa pikir panjang aku menenangkan kepalaku yang sudah dari tadi sakit. Sepertinya masuk angin lagi. Tak lama aku tertidur.

Sore datang dengan manisnya. Sudah waktunya pulang. Malas sekali untuk balik ke rumah. Sudah nyaman disini. Bebas untuk tidur dan bangun kapan saja tanpa ada yang menyindir dan marah-marah. Pikirku masih kacau. Masih ingat Ayah. Aku kalut.

“Haduh. Malasnya untuk pulang. Tapi harus pulang.”

“Udah, Kak. Nginap lagi disini aja. Nanti aku bantuin ngomong sama tantenya.”

Kayla mencoba merayuku untuk kembali menginap di kosannya. Aku semakin ragu dan galau. Sudah tiga puluh menit aku berpikir.

“Hmmm…Oke deh. Kakak sendiri yang akan minta izin sama tante. Resikonya akan kakak tanggung sendiri.”

“Oke, Kak. Semoga diizinkan ya.”

Aku mencoba mengirimkan pesan singkat kepada tante. Aku mau minta izin untuk menginap lagi di kosan Kayla. Aku juga sudah jelaskan kalau aku menginap di kosan temanku yang kemarin.

“Iya. Hati-hati aja ya, Han!” balas Tante Fifi. “Iya, Tante. Insya Allah.”

Aku bahagia sekali. Aku berbaring lagi. Aku masih belum lihat senyum Kayla yang ikhlas malam ini. Masih saja seperti malam kemarin. Semakin kelam dan gelapnya menutupi hati yang sedih dan sakit. Aku masih mendiamkan diri tanpa kata. Aku sibuk dengan youtube lagu-lagu Islami. Aku sudah tidak terlalu menghiraukan lagi.

Tiba-tiba suara mungil itu memecahkan keheningan malam yang sunyi. Sudah pukul 21.00 WIB malam. Sudah waktunya istirahat. Baru saja suara semangat kudengar. Aku selalu berdoa suara itu tidak hilang lagi. Namun, kali ini terdengar serius dan sangat berharap. Walaupun masih setengah pesimis.

“Kak, aku rindu ke Madinah lagi. Ke Mesjid Nabawi,” suara serak Kayla memecahkan rasa sedihku.

“Masya Allah. Semoga Allah kembali mengizinkan kita kesana lagi ya, Dik.”

“Aamiin, Kak. Aku sangat rindu, Kak. Oh ya, Kak. Kalau ke Pakistan itu bisa singgah nggak ya di Madinah?”

“Kakak kurang tahu sih. Biayanya itu lho. Tadi kaka sudah chat Ustadz Barkah. Kata beliau bisa. Budgetnya tentu mahal sekali, Dik. Sekiranya, dua puluh juta untuk satu orang.”

“Iya, Kak. Kita itu termasuk umroh juga disana. Jadi, ya emang mahal. Tapi, ya aku pengen, Kak.”

“Kalau memang serius, ayo kita usahakan. Kakak bantu nanti. Insya Allah.” “Serius, Kak?”

“Iya, Insya Allah.”

Kayla kembali semangat. Aku masih khawatir kalau saja semangat ini akan turun lagi. Bisa-bisa aku jadi sepi dan tanpa senyum lagi. Aku sengaja untuk mengiyakan semua kebahagiaannya malam itu. Aku nggak mau malam itu terlihat hampa lagi seperti malam kemarin.

“Ah, mimpi buruk!” aku sesak setelah bangun pagi. “Kenapa, Kak?” sambut Kayla selesai subuh.

“Nggak tahu. Kakak nggak enak banget. Yaudah. Lupakan saja, Dik.” “Sabar, Kak. Semoga tidak terjadi apa-apa hari ini ya, Kak.”

“Iya, Dik. Aamiin.”

Kayla sudah bersiap-siap untuk menuju kampusnya. Sepertinya dia akan sibuk di kampus. Raut wajah lelah menghampiri wajahnya. Dia tidak akan bisa mengantarkanku ke stasiun. Aku harus pergi sendiri. Lewat pesan singkat, aku dikabarinya bahwa diatidak bisa pulang ke kosan siang ini. Aku berusaha memahaminya.

“Kak, maaf ya. Aku nggak bisa pulang siang ini. Masih ada yang mau diurus di kampus. Kakak kalau mau pulang duluan tidak apa-apa. Kuncinya diletak di tempat biasa aja. Maafin aku ya, Kak.”

“Tidak apa-apa, Dik. Kakak pamit dulu ya, Dik. Nanti jangan lupa makan dan minum air putih ya,” balasku.

“Iya, Kak. Hati-hati ya. Kalau ada apa-apa kabarin ya, Kak.” “Iya, Dik.”

Aku berangkat dan memesan gojek ke Pondok Ranji. Langit mendung. Hatiku juga dalam kecemasan yang sangat dalam. Suasana berubah menjadi sepi. Padahal, orangnya ramai dan semua diam tanpa ada yang bersuara. Entah mengapa aku merasakan hari itu hampa. Sungguh, aku merasakan tidak enak.

Aku merasa tidak enak meninggalkan kosan Kayla yang dia tidak ada disana. Serasa aku tidak sopan dan tidak ada etikanya. Lupakan saja. Hari ini aku harus pulang. Sudah terlalu gerah buatku untuk bermasalah terus. Mungkin setelah ini akan ada hikmahnya. Mungkin saja. Ditunggu saja.

***

Semakin siang. Matahari sudah mulai menampakkan wajahnya. Semakin aku mencemaskan sesuatu. Mungkin hanya perasaanku saja, tapi ini sungguh tidak enak. Handphoneku berdering.

“Han, dimana sekarang?” suara Ibu serius sekali. “Lagi diatas kereta mau pulang ke rumah, Bu.” “Dari mana?”

“Dari kosan teman.”

“Ibu sudah tahu kamu kemana. Kamu hidupnya suka pergi dan kamu juga bilang Syifa tahu siapa temanmu yang di Ciputat itu. Itu Jakarta, Han. Bukan Padang atau pun kota kecil yang mudah kamu jelajahi. Kamu itu perempuan,” Ibu marah.

“Iya, Bu. Hani tahu. Maafkan Hani, Bu. Hani nggak bermaksud apa-apa untuk menginap disana. Cuma tukar suasana aja.”

“Alasan kamu saja. Kamu tahu nggak, tante kamu khawatir dan Ibu malu sama dia. Kamu baik-baik saja disana. Ayahmu sudah lelah, atau kamu mau pulang saja ke rumah?”

“Jangan, Bu. Aku janji ini cuma sekali. Aku nanti tidak akan lagi nginap disana.

Tapi, kalau Ayah mau aku pulang. Aku akan pulang, Bu.”

“Kamu fokus saja cari kerja dan jangan banyak ulah. Tak pernah berubah dimana pun kamu berada. Sungguh, mencemaskan saja!”

“Iya, Bu. Maafkan aku. Sampaikan juga pada Ayah, aku merasa bersalah.

Semoga saja aku bisa kuat disini, Bu.”

“Sudahlah. Jangan basa-basi lagi. Sekarang hidupmu terserah kamu. Ibu segan sama tante kamu. Kalau kamu bermasalah, Ibu sama tante kamu sama-sama bertengkar, Hani. Semua kita pecah. Silaturrahim kita pecah. Pikirkan itu!”

“Iya, Bu. Maafkan aku, Bu.”

“Pokoknya kamu harus sampai dirumah sore ini. Ibu nggak mau tahu. Kalau masih begini terus. Ayahmu akan pulangkan kamu dari sana.”

“Iya, Bu.”

Belum selesai aku berbicara, telepon itu sudah mati. Sangat menyedihkan. Firasatku benar. Aku merasa tidak enak untuk pulang ke rumah. Merasa bersalah dengan tante dan oom-ku. Seketika badanku lemas dan tertunduk. Namun, kursi diatas kereta sudah penuh semua. Ini masih Stasiun Kebayoran. Mau menuju Stasiun Palmerah. Ah, sudahlah. Sudah sore, waktunya melupakan semuanya.

Suara desingan roda kereta listrik itu memekakkan telinga. Stasiun Kebayoran sepi. Barusan saja hujan reda dan menyisakan puing-puing embun di kaca jendela kereta sore. Basah jalanan semakin menampakkan roda cemas diwajahku. Aku pulang dengan lambung yang terlalu asam.

“Ah, kambuh lagi,” tundukku.

Tanah Abang padat sekali sore itu. Banyak ibu-ibu, nenek-nenek, bapak-bapak tua yang berdesakan didepan kereta yang akan ke Bogor. Sudah tidak asing lagi buatku ketika melewati Tanah Abang sebagai stasiun transit. Aku menguatkan badan untuk sampai ke dalam kereta. Bukan apa-apa. Badanku kerdil. Mudah saja terjepit oleh orang-orang yang super kuat di pasar ini.

Priiiiiiiiiittttt….. ,” suara peluit satpam KA di tepi stasiun memekik.

“Mohon Bu, Pak. Minggir. Itu nanti kepalanya patah terlindas kereta. Satu-satu masuknya,” teriak satpam KA kepada orang-orang sekitar Stasiun Tanah Abang.

Tak di dengar sama sekali. Masih saja berdesakan satu sama lainnya. Aku yang ditengah mulai terjepit dan tidak kebagian kursi. Oh, malangnya. Barang-barang penjual di dalam kereta membuat kereta semakin sesak dan pengap. Padahal, AC sudah dihidupkan dimana-mana.

Belum lagi di Stasiun Sudirman yang sering padat dengan orang-orang yang pulang bekerja. Semuanya hendak cepat sampai dirumah. Seketika kereta datang, selalu penuh. Tanpa berpikir kalau itu akan berdesakan. Tetap saja masuk dan ada juga yang terjepit.

Sebentar lagi sampai di Stasiun Pasar Minggu. Lapar sekali. Asam lambungku juga sudah sangat banyak. Sepertinya aku tak bisa lagi telat makan. Kemarin aku melihat di stasiun ada orang jualan soto ayam. Untuk mengisi lambung, aku singgah di soto ayam itu dan memesan seporsi. Campuran kuah soto dan daging ayam masih saja hambar buatku sore itu. Perasaanku tidak enak. Makanku sama sekali tak berarti.

Tak habis. Aku langsung membayarnya dan pulang dengan gojek. Di depan Mesjid Al-Makmur Stasiun Pasar Minggu, aku merasa was-was. Kira-kira tante mau bicara apa sampai dirumah. Terlalu menyakitkan jika aku disindir lagi. Tapi, aku yakin, tante sayang padaku. Aku saja yang terlalu berpikir negatif padanya.

Dulu, waktu kecil. Tante sahabat baikku. Kemana-mana aku dibawa. Sampai sekarang wajar saja beliau cemas dan sangat protektif denganku. Namun, aku susah mengerti hal itu. Semakin dekat ke pintu pagar, aku semakin cemas dan tidak karuan. Istighfarku tak putus-putus.

“Assalamu‟alaikum.”

“Wa‟alaikumussalam. Ibumu bilang, besok-besok tak boleh lagi menginap.

Tante sudah ngomong sama Ibumu. Kami semua cemas. Semoga kamu paham, ya.”

Aku cuma diam dan langsung menuju lantai atas. Langsung masuk kamar dan aku tiduran. Lelah sekali. Aku beres-beres. Koperku sepulang dari Padang masih berantakan. Aku juga meninggalkan kamar itu dengan berantakan. Oh, semakin lelah.

Sore semakin jingga. Membungkus siang yang sudah berlalu. Aku masih mengingat semua perjalananku. Sudah terlalu rindu aku dengan Kayla. Aku sengaja nekad karena aku berjanji. Kali ini aku sudah merasakan resikonya. Aku semakin diawasi dan sering ditanya. Ya sudah, lupakan saja. Aku sudah terlalu lelah.

“Sudah dirumah?” suara Ibu kembali mengejutkanku lewat telepon. “Sudah, Bu.”

“Ayah bilang nggak boleh lagi nginap-nginap di kosan dan rumah temanmu.

Siapapun itu. Paham, kan?”

“Iya, Bu. Paham. Maafkan aku ya, Bu.” “Yaudah.”

Telepon dengan sekejab dimatikan. Aku sudah sedikit lega. Tapi, aku masih berpikir gimana wajahku nanti ketika makan malam dengan tante dan paman. Aku malu. Aku harus menanggung semua resikonya. Sudah biasa seperti ini. Ada-ada saja masalahku. Namun, aku santai dan tak pernah menyerah. Semua masalah ada jalan keluarnya.

Ayah khawatir sekali dengan aku. Namun, aku juga tidak bisa dikekang dan ditahan dirumah. Aku juga paham kalau aku ini perempuan yang harus menjaga diri sendiri. Bukan anak kecil lagi. Namun, peran orangtua itu penting. Ibu pernah ingatkan dulu sewaktu aku meminta untuk kos sendiri. Tapi, tidak dibolehkan.

“Kalau mau keluar dari rumah tantemu. Semisal kamu kos sendiri. Ibu dan Ayah tidak mau. Kecuali kamu sudah ada suami. Silahkan.”

Masih bergema di telingaku pesan-pesan Ibu. Aku masih saja membandel dan menganggap semua orang sama dan tidak berhak mengaturku. Aku tahu itu salah, tapi hatiku selalu menolak untuk ditahan dan selalu berontak untuk menerimanya. Mungkin hatiku salah dan perlu obatnya. Allah enggan denganku yang begini.

Comment