Bulan di Atas Laut

Cerpen: Putra Santoso*

Setegar itu kekasih laut.

Tanganmu legam dan berdarah, mengulur kail, menggulung pukat, dan mendayung kayuh. Atau terkadang tubuh kurusmu nyaris tersungkur pada sebuah biduk usang warisan bapakmu; sang pelaut paling dhuafa. Tak ada perempuan yang menjadi nelayan di samudra itu, tapi engkau melakukannya. Demi nasib, demi takdir terbaik, demi mimpi bahwa kelak adik mungilmu itu akan kuliah di kampus-kampus berkelas dunia: Cordova, Harvard, Al Azhar, Cambridge, Queensland atau ke benua mana saja hatinya menginginkan. Ia akan berjaya. Ia akan dihidupkan dalam hari-hari yang tak gamang lantaran engkau mencintainya dengan rasa sangat dalam. Begitu dalam.

Setahun lalu aku berkirim surat kepadamu, berkisah ihwal kerinduan akan masa kebersamaan: masa kecil kita. Aku berharap engkau membalasnya. ‘Tunggu aku sahabatku. Tunggulah aku di jalan setapak itu. Kita akan bernyanyi lagi di sela-sela pohon cemara dan kembang aster kuning tua. Aku rindu kepada adik mungilmu. Izinkan aku berkisah kepadanya tentang Tokyo Tower, tentang Liberty, Buckingham Palace, dan kabut di atas Piramida atau perihal tingginya Menara Burj Khalifah dan tentang apa saja yang ia inginkan. Lalu, aku akan mengantarkannya esok pagi ke sekolah. Bukankah dia juga adalah adik kesayanganku? Aku ingin segera memeluknya’ 

Tapi entah tanpa balasan. Suratku tanpa jawaban. Barangkali engkau telah lama berhenti menulis untukku. Barangkali engkau tak ingat lagi alamatku atau mungkin saja engkau sedang terlalu asik merajut kerudung kusammu. Kerudungmu yang kutahu sudah penuh tambalan, membuat aku semakin risau memikirkannya. Atau mungkin saja engkau tengah  melaut. Kau melengking tinggi dalam kesepian samudra dan ikan-ikan yang datang menyerahkan diri kepada jalamu dan kepada kailmu. Lalu, surat-suratku belum juga sempat terbaca. Ah…entalah, mengapa engkau, wahai perempuan bergamis kusam? Bencikah engkau kepada jarak dan perpisahan? Bencikah engkau kepadaku?

Hari ini, aku ke sini. Ku susuri lagi jalan setapak berpagar tebing-tebing tanah merah. Rumput-rumput masa lalu ternyata tetap tumbuh, bunganya mekar di mana-mana. Dahan ketapang, cemara laut, dan mayang-mayang kelapa. Semua membisikkan salam setelah bertahun-tahun aku tak pulang. Jauh, jauh sekali aku melangkah wahai sahabat kesayangan. Aku sengaja datang kepadamu membunuh rindu.  Aku rindu duduk di balai-balai usang  pelataran itu. Aku rindu daun rumbia kering di atap gubuk kesayanganmu atau aroma tikar pandan yang tergelar di lantainya. Aku rindu kepada adik mungil kesayanganmu. Aku sangat rindu kepada ibumu yang lembut bersahaja. Aku juga hendak bersua kepada bapakmu yang barangkali kini semakin kurus dan payah. Masihkah napasnya tersengal-sengal bila berjalan? Entalah kawan. Aku dalam perjalanan kepadamu.

Sekarang, rembang petang, sahabatku. Air samudra dan horizon mulai jingga. Nyanyi sepiku lirih kepada pantai, kepada ombak, kepadamu, dan kepada adik mungilmu. Aku sudah hampir tiba. Sudahkah engkau tambal kerudung usangmu? Masihkah warnanya coklat tua? Aku telah membungkus sehelai warna biru yang kubeli di suatu pasar sebelum ke sini. Tepinya bersulam benang emas. Tengahnya diliputi bercak mahkota bunga cempaka. Aku tahu kawan, engkau pasti sangat menginginkannya. Tahukah engkau? Di dalam tasku, juga terlipat sehelai gamis pucat, panjang, dan indah. indah sekali.

Engkau di mana wahai gadis nelayan?

Kakiku kini telah sampai di dekat pintu gubukmu. Rumbianya tak lagi rapi, dindingnya menerawang. Kembang-kembang tak lagi terurus. Mengapa semua pudar tanpa warna? Tak ada lagi balai-balai itu. Tak ada lagi anyaman pandan. Engkau ke mana? Mengapa hanya angin menyambutku? Aku hendak pelan melangkah memasuki ruang-ruang kenangan di setiap sudut gubuk tuamu. Gelap, pengap, sepi, dan sepi sekali di sini. Aku mencoba merapat ke dinding. Ingatanku lekat betul pada sebuah lampu kecil dan sekotak korek api yang tak pernah pindah dari sisinya. Hendak kunyalakan cahayanya kawan agar ku tahu engkau di mana. Aku sudah tak tahan ingin memeluk adik mungilmu sebab ceritaku tentang negeri-negeri bersalju harus segera didengarnya. Secepat mungkin. Sekarang juga.

Semua tentang ruang ini ternyata belum terlalu berubah, sahabatku. Segala kiranya masih seperti dahulu, sebelum kita berpisah. Meja kayu masih di sudut kanan. Sebuah cawan tembikar masih terletak di atasnya. Kosong dan berdebu. Sisinya merapat pada jendela ke arah laut: jendela kenangan. Dahulu, kita terkadang bisa tertawa melihat bulan lewat celah jendela itu usai mengerjakan tugas-tugas sekolah atau ketika aku berakhir pekan di gubukmu. Sampai larut. Sampai bulan tiada. Ibumu menganyam pandan sambil menembang, lirih, dan syahdu. Suaranya merdu mendayu. Bapakmu duduk di atas ambenan tak jauh dari situ. Adik mungilmu kadang juga bersama kita. Ia tertawa-tawa melihat bulan. Ia bahagia sekali, bukan? Tapi kali ini, semua terasa sepi dan ditinggalkan. Aransemen-aransemen itu: cawan tembikar, tikar pandan, dipan kecil adikmu, semua rapuh, dan berdebu tak dipedulikan. Engkau dan orang-orang kesayanganku sedang ke mana? Mengapa sunyi?

Mataku lantas  tertuju kepada kertas-kertas di sisi sebuah keranjang rotan pada lemari kayu kecil dengan setumpuk buku-buku tebal di dalamnya. Hanya lemari kecil yang usang rupanya. Warnanya sudah memucat, nyaris habis ditelan zaman. Aku mendapati guratan-guratan panjang, huruf-huruf sangat terkenal, dan bentuk tulisan yang tak pernah berubah. Tulisan tangan indahmu. Ah..engkau rupanya telah menguasai mekanika kuantum, sahabatku. Aku bergidik menyaksikannya. Seingatku itu hal rumit bahkan aku tak tahu banyak tentang apa: Efek Stark, Efek Zeeman, formula Rydberg, model Bohr, dan istilah-istilah yang tak pernah terjangkau oleh akalku walau sekali saja. Entalah, sudah kukatakan aku tak tahu apa-apa, kawan. Perangaimu rupanya belum berubah. Engkau masih saja gila menghabiskan malam-malammu dengan rumus-rumus kusut masai itu atau mungkin saja engkau tengah mengajari adik mungil kita? Katamu dia akan jadi ahli fisika, bukan? Aku sangat percaya itu akan terjadi.

Malam semakin tinggi, sahabat masa laluku. Bulan masih ada. Cahayanya tersemburat di sisi-sisi gubuk usangmu dan menebar sampai kemana-mana, tapi tubuhku kini melunglai pada sebuah dipan kecil beralas pelupuh. Mataku perih menatapnya. Tiga helai seragam sekolah terlipat ditemani buku tulis kecil dan bantal lusuh di dekatnya. Seragam itu pasti lama tak dikenakan pemiliknya. Sudah lama tak tersentuh oleh tubuh adik mungilmu. Kemana dia, wahai sahabatku? Kemana calon ilmuwan dunia kebanggaanku? Kini telah kubuka seluruh catatan-catatan tanganmu. Kulemparkan semua itu kemana pun aku suka. Aku ingin menjerit. Aku ingin meraung. Aku akan menghujat kepada bulan atas cahaya-cahayanya. Aku ingin ombak di luar sana berhenti berderu atau semua akan kusumpal suaranya.

Hening. Aku inginkan hening dalam detik-detik ini. Detik-detik kepedihan setelah

kutemukan catatanmu yang sedikit kusam ‘Adik mungilku telah tiada, takkan pernah lagi mengenakan seragam itu. Aku telah kehilangan semua kawan untuk melihat bulan. Takkan  lagi kubuka jendela. Dia sekarang kekasih Tuhan’.

Perih, sahabatku. Terasa perih dan ngilu ketika kudapati tulisan-tulisan penderitaan. Ada selaksa berita pada lembar-lembar kecil yang engkau lekatkan di dinding tepi dipan. Kiranya, bapakmu juga telah lama selesai dari kepayahannya. Ia lantas pergi tak terselamatkan. Engkau tak memiliki apa-apa untuk membeli sederet daftar obat penawar yang ditinggalkan mantri kampong pesisir agar tuberkulosis tidak secepat itu membunuhnya. Tapi itu mungkinceritra biasa atas kemiskinan, kawan. Mungkin begitulah seharusnya yang dapat engkau terima sebagai keluarga dhuafa. Sudah kukatakan penyakit itu akan menular, bukan? Sungguh aku sejak lama mencemaskan adik mungil kesayangan kita, lantas kini semua pulang kepada ketiadaan. Pergi, mati, lalu menghilang terbang sebagai debu kenangan.

Aku hampir puas dengan segala ceritera kepedihan. Aku tak punya sisa air mata, kawan. Maka maafkanlah jika aku tidak bias menangis saat menemukan serpihan-serpihan bidukmu yang terapung-apung malang di tepian itu. Lapuk dan terkapar tanpa arwah. Sebenarnya semua bukan salahmu. Kehendak nasib rupanya merenggut apa saja yang  nyaris tercapai. Ibumu hilang dalam gelombang.  Bapakmu lapuk dimakan tanah. Satu harapan saja tertinggal kepada seorang adik yang kau kenal sangat jenius dan periang. Ialah pemilik senyum paling indah.

Tahun ini, ia akan mulai sekolah lagi, bukan? Setelah engkau memiliki sedikit uang dari menjual ikan-ikan kurus yang kautangkap dengan susah payah dan kita sama mengenal bahwa kecakapan adikmu jauh di atas rata-rata. Ia calon ilmuwan besar astrofisika. Pakar molekuler. Penguasa nanoteknologi dan ia dilengkapi supersinaps milyaran di kepala. Aku penggemar beratnya. Sungguh! Aku juga tahu engkau mencintainya dengan rasa terdalam. Lewat setiap elus tangan dan keringat panas yang kau teteskan dalam  dekapan-dekapan yang selalu ada atau pada tiap kali engkau melengking dengan nada tinggi untuk memikat ikan-ikan samudra yang  tersesat. Aku tahu bahwa ia membaca rasa itu dan ia juga begitu mencintai dan menjadikanmu tempat berteduh ketika hatinya rindu kepada ibu yang lenyap bersama malam, tapi ia juga harus mati dan terkapar. Persis seperti bapakmu. Mereka satu per satu terbunuh oleh penyakit yang tak bisa kau beli obat penawarnya. Kini semua hilang dan sepi. Sepi sekali.

Bulan di atas laut, sahabatku. Sinarnya mulai meredup, tapi temaramnya cukup untuk mengingatkan ikhwal asa yang selesai pelan-pelan. Ihwal cinta yang hancur berlumuran darah. Ihwal kematian ibumu, bapak, dan adik mungilmu yang terbaring tanpa nyawa. Kini, semua lengang bersama serpihan-serpihan usang, dikerumuni ikan-ikan malam penasaran. Segala terasa dingin dalam peluk gelombang, beku, hening, dan mematikan. Begitukah akhirmu, wahai kekasih laut? Atau masihkah ada sedesah napasmu di ujung sana? Mungkinkah kini jasadmu tengah melayang bersama plankton-plankton kelaparan lalu sayapmu mekar ke  nirwana? Aku hendak menjadi bulan yang meratapimu. Memandang dendam kepada laut yang menghapus jejak kaki terindah.

Engkau kemana kawan? Malam sudah semakin tua. Semakin dingin.

Masihkah engkau hidup? Mungkinkah kelak kita akan menikah?

 

*Penulis adalah Dosen Jurusan Biologi FMIPA  Universitas Andalas

 

Comment