La Sorbonne! au Pakistan –

MZKPAGI DI CIPUTAT

 

Sejatinya Kita adalah Sang Pemimpi.

Bermimpilah Hingga Menembus Batas Cakrawala.

Biar Allah yang Menjadikannya Nyata

(Martha Zhahira El-Kutuby)

 

 

Sore menjelang senja mengabaikan suara burung yang berteriak di langit. Mendung tak bisa dibendung menyisakan rasa khawatir. Ah, hanya ilusiku saja. Aku banyak berpikiran negatif.

“Sudahlah, Hanifa. Jalani saja,” gumamku.

Selesai ashar, aku berusaha membujuk tante untuk bisa menginap di kosan Kayla. Satu malam saja. Aku bingung mau minta izin seperti apa. Ciputat bukan dekat. Kesana menghabiskan waktu empat puluh lima menit dengan kereta listrik. Satu kali transit dari Stasiun Pasar Minggu yaitu transit di Stasiun Tanah Abang. Naik kereta ke arah Rangkasbitung.

“Dik, kira-kira Mamamu ngizinin nggak ya kakak nginap di kosan Kak Kayla?” tanyaku ke adikku, anak tante, Syifa.

“Cobain aja dulu, Kak. Minta izinnya.” “Bantuin donk!”

“Yaudah bentar, ya.”

Greget bukan main. Aku deg-degan. Sebab, aku takut dimarahi. Jadinya, aku begini. Aku mau menepati janjiku dengan Kayla untuk menginap di kosan dia semalam saja. Masih saja aku tak percaya dengan usahaku. Aku mau bilang apa ke Kayla kalau saja tidak diizinkan. Janji harus ditepati. Sebabkan, itu adalah hutang yang harus dilunasi.

“Kak, kata Mama, boleh nginap!” dengan wajah bahagianya Syifa menyampaikan ke aku.

“Hah? Serius?”

Aku masih tak percaya. Namun, aku tak peduli lagi. Aku bergegas menyiapkan semua keperluanku dan langsung berangkat minta izin. Gerimis sore masih menyapa jalanan depan rumahku. Aku bahagis bercampur rasa was-was. Entah kenapa aku bisa mempunyai firasat tidak enak setelah aku pulang dari kosan Kayla.

“Ah, sudahlah!” aku berangkat.

Semakin sore hatiku semakin tidak karuan. Mungkin Allah akan mendatangkan sesuatu kepadaku setelah ini. Semoga ini menjadi pembelajaran berharga bagiku. Ah, ingat Ayah dirumah. Takut beliau marah. Aku sengaja membuang pikiran negatifku jauh-jauh. Saat ini aku harus menepati janji dulu dengan Kayla. Agar aku tidak berhutang kepadanya. Urusan Ayah, nanti belakangan. Mudah-mudahan Ayah paham.

“Tante, aku berangkat ya. Assalamu‟alaikum.”

Ojek online yang kupesan sudah di depan rumah. Menembus beceknya jalanan untuk sampai ke Stasiun Pasar Minggu. Ramai sekali orang pulang berakhir pekan turun di stasiun. Ada anak kecil bercerita seputar perjalanan. Ada ibu-ibu yang selesai selfian diatas kereta. Ada bapak-bapak yang setia menggendong gadis kecilnya. Ada anak muda yang sibuk dengan androidnya. Semua kesibukan stasiun sore itu membuatku terhibur dan tersenyum.

“Yah, maafin aku yang masih bandel dengan nasihat, Ayah. Aku tak mau Ayah marah. Aku hanya menepati janjiku.”

Hatiku semakin tidak enak. Sampai di Stasiun Tanah Abang, aku masih berdzikir istighfar sebanyak-banyaknya. Aku masih mengingat Ayah. Hanya Ayah yang cerewet denganku. Mengingatiku kemana aku pergi. Bertanya setiap pagi melalui pesan WhatsApp kepadaku.

“Han, kemana hari ini?”

Begitu pula dengan Ibu yang selalu mengirimkan pesan yang sama kepadaku. Ah, airmataku jangan jatuh. Aku tak mau melukai mereka. Amanah mereka adalah sebuah keharusan buatku. Aku rindu mereka.

“Sesaat lagi kereta Anda akan sampai di Stasiun Pondok Ranji,” suara operator mengejutkanku.

“Alhamdulillah,” sambutku.

Ciputat masih mendung. Sama ketika aku berangkat dari rumah. Jakarta memang sedang musim hujan. Aku masih terserang masuk angin dan flu berat. Sepertinya sinusitisku. Mudah-mudahan tidak berat. Allah masih mengurangi dosaku dengan rasa sakit.

Baru pertama kali aku menjajaki Ciputat. Selama ini aku tak pernah keluar sejauh ini kecuali ke Bogor. Hanya sebentar saja disana. Kota Hujan itu memang selalu mendung dan berakhir hujan ketika sore tiba. Sungguh, musim tak menentu tahun ini. Masih aku ingat Ayah.

***

“Kay, kakak sudah di depan kosan warna kuning,” pesan singkat WhatsAppku kepada Kayla.

“Masuk aja, Kak. Sebentar aku keluar.” “Oke.”

Kayla keluar dengan mukenanya. Menyambutku dengan senyumnya yang khas itu. Aku jadi tersipu malu. Lembut sekali sentuhan ukhuwahnya.

“Assalamu‟alaikum,” sapaku.

“Wa‟alaikumussalam, Kakak. Selamat datang di kosan aku. Kosanku sederhana kok. Nggak bagus-bagus amat. Semoga kakak betah dan nggak kapok. Hehe,” cengengesannya.

“Kapok? Ah, enggaklah. Kakak dulu ngekos lebih jelek dari ini. Masih nyaman kok. Betah nggak betahnya itu tergantung dengan hati kita sayang. Maka, banyak- banyaklah kita bersyukur.”

“Alhamdulillah, Kak. Semoga kita diberikan nikmat lebih ya, Kak?” “Aamiin. Insya Allah.”

Damai sekali di kamar ukuran 3 x 4 meter itu. Catnya hijau dan memang agak gelap. Tapi, nyaman saja. Aku serasa kembali ke sebuah kenangan lama. Wisma Aisyah ketika aku kuliah di Universitas Bung Hatta di Padang. Aku bersama teman-teman seperjuangan dakwah kampus. Disana aku diajarkan berbagai hal.

“Sudah maghrib, Kak. Sholat, yuk!” “Oh, iya. Ayuk!”

“Jamaah yuk, Kak!” ajak Kayla.

“Ayuk. Rindu suasana begini, Kay. Akhirnya didapatkan disini. Alhamdulillah.” “Imamnya Kakak, ya?”

“Eits, nggak mau. Kayla aja. Nanti Isya baru kakak. Oke.” “Allahu akbar. Allahu akbar,” iqamahnya duluan.

“Masya Allah, Dik.”

Akhirnya aku jadi imam. Aku masih minder dengan Kayla yang lulusan sekolah agama. Otomatis pikiranku dia lebih banyak tahu tentang ayat-ayat AlQur‟an dibandingkan aku. Namun, aku berusaha hati-hati dengan bacaanku. Takut ketimbang jelek. Aku grogi.

Indahnya mempunyai teman sepaham dan sama-sama memperjuangkan dakwah itu ya begini. Sama-sama merasakan susah dan sama-sama merasakan nikmat. Sehingga, apapun yang dilakukan bernilai ibadah kepada Allah. Hanya saja, banyak orang diluar berteman namun membunuh dari belakang. Bukankah AlQur‟an mengajarkan kita untuk bersaudara?

“Alhamdulillah, selesai juga ya,” legaku di akhir sholat, “Iya, Alhamdulillah, Kak,” senyum Kayla.

“Dik, tahu nggak?”

“Apa, Kak?”

“Kakak pas baca ayat AlQur‟an tadi grogi. Takut bacaannya salah. Sebab, sudah lama tidak berjamaah begini. Rindu wisma kakak dulu. Semua orang mengajak berjamaah.”

“Hehe. Alhamdulillah, Kak. Nggak usah grogi. Insya Allah berkah.”

“Gimana tidak grogi. Kakak sudah tidak muraja‟ah AlQur‟an sejak lama. Saat ini pun kakak lagi kosong dan sedang mencari guru mengaji. Semoga saja besok ada infonya. Aamiin.”

“Aamiin, Kak. Semoga Allah memudahkan Kakak. Aamiin.”

Sampai malam pun masih bercerita dengannya. Waktu makan malam mengunjungi pondokan mie ayam di depan Universitas Islam Negeri Jakarta. Aku sedang nafsu makan. Jadi, aku senang sekali dibawa makan mie ayam. Bercerita dan saling mengingatkan satu sama lain.

Malam yang memang sepi. Kayla sepertinyaa sedang tidak enak hati. Aku hanya banyak diam dan masih memikirkan Ayah. Ayah belum tahu aku menginap di kosan Kayla. Aku tahu Ayah akan kesal kepadaku. Aku sudah ketimpang janji dengan Kayla. Mau tak mau aku harus tepati segera.

Sudah semakin larut malam. Aku masih sibuk dengan handphoneku. Kayla juga begitu. Lama-lama kelamaan aku berbaring dan membereskan semua kasur untuk bersiap tidur. Aku lelah sekali. Lelah hati dan lelah jiwa. Aku merasa bersalah kepada Ayah.

“Maafkan aku, Ayah!” gumamku dalam hati.

Suara Kayla memecahkan keheningan malam yang semakin menyisakan kisah yang tak pasti. Bertanya dengan hati-hati lalu tersenyum.

“Kak, kakak suka salawatan nggak? Kalau misalkan aku hidupin salawatan boleh nggak?”

“Boleh. Suka kok. Hidupin aja. Mana tahu kakak suka gitu, “ balasku sedikit cuek dan bingung.

“Oke, Kak. Aku hidupin ya.” “Sip.”

“Aku itu kalau dengarkan salawatan adem banget rasanya, Kak. Rasanya pengen bertemu Rasulullah. Jadi, aku suka salawatan beginian.”

Kayla menunjukkan sebuah video salawatan Mustafa Atef dan Habib Syech bin Abdul Qodir Assegaf. Aku masih terlihat bingung dengan hal itu. Tapi, aku ikuti irama dia selalu. Mana tahu ini baik. Aku masih cuek dengan video yang lain di handphoneku. Aku juga berlagu sendiri.

Malam itu berlalu dengan suasana hening dan tanpa suara apapun. Kayla sedang tidak enak hati. Dia hanya mendengar salawatan lewat telepon genggamnya. Tanpa berkata apa-apa. Aku pun tidak bisa mengajaknya bicara banyak dan lama. Sungguh, memang aku terasa sakit datang ke kosan itu. Namun, aku masih berpikir positif untuk hal tersebut. Mana tahu aku salah menanggapi dia. Mungkin saja ta‟aruf ukhuwahku masih lemah dengannya. Aku mulai sadar bahwa aku mulai egois dan keras.

“Kak, maaf ya kalau kakak kurang senang malam ini. Aku lagi nggak enak hati. Aku tidak apa-apa kok. Kakak tidak usah khawatir. Kakak capek, kan? Baiknya kakak tidur saja. Sudah beberapa hari ini kakak sibuk mengurus proposal kami ke Pakistan. Kami segan dan berterima kasih kepada Kakak.”

Aku dikagetkan dengan perkataan dia yang tanpa sebab membuatku tersentak dari lamunan video yang kudengar. Aku menjadi salah tingkah lalu tersenyum ramah di depannya. Kasur kami memang rapat. Tapi, Kayla memang sedang kelelahan dan wajahnya kusut tanpa ada senyum ikhlas. Hanya senyum kecut dan rasa tertekan dihatinya yang membawanya pada kesabaran ekstra tinggi.

“Ah, tidak apa-apa, kok. Kakak paham kalau kamu sekarang sedang apa dan perasaanmu bagaimana. Jangan takut. Tidak usah khawatir. Kakak kesini hanya menepati janji, menyambung silaturrahim, dan merefresh otak yang dari kemaren memang sering sepi dirumah. Istirahatlah, Dik. Hatimu sedang lelah dan wajahmu kusut sekali.”

“Aku tak apa-apa, Kak. Aku baik-baik aja. Aku masih kuat dan aku bisa mengatasinya. Kasihan badan kakak yang selalu aktif kemana-mana. Aku tidak apa-apa, Kak.”

Kayla masih menolak untuk menceritakan apa sebenarnya yang terjadi pada dirinya. Sepertinya, dia ada masalah dengan teman satu tim yang akan ke Pakistan. Rudi. Aku sudah mulai menduga. Semoga saja ini tidak salah. Sebab, sejak kata-kata Rudi di grup WhatsApp kemaren tegas dan sangat menyinggung Kayla.

Waktu itu Kayla sedang sibuk dengan tugas kuliah dan tugas di kampungnya. Rudi dan Kayla beda jurusan namun satu fakultas di humaniora kampus UIN Jakarta. Jurusan berbeda dengan tugas yang berbeda membuatnya kewalahan mengikuti cara Rudi dalam menyelesaikan urusan ke Pakistan ini. Aku sebagai orang yang hanya membantu sempat bingung menghadapi mereka. Mendamaikan mereka sungguh penuh kesabaran.

“Kakak tahu kamu sedang sedih dan sakit. Semoga saja kakak tidak salah ya.

Kamu sedih kan dengan kata-kata Rudi kemaren?” “Yang mana, Kak?”

“Itu kata-kata Rudi di grup yang menyindir kamu yang katanya sibuk dan cuek.

Itu kan kata-kata yang menyakitkan bukan?”

“Ah, bukan, Kak. Aku tidak ada apa-apa dengan Rudi. Aku masih baik-baik saja. Kakak tidak usah khawatir.”

“Bukan khawatir, Dik. Kakak tidak mau kamu menyimpan rasa sakit sendirian. Ukhuwah itu penting. Ketika ada rasa sakit, mari kita selesaikan bersama. Bukan apa- apa, bekerja dalam jamaah itu harus sabar dan ikhlas. Kakak kalau tidak tahu apa urgensi jamaah, mungkin kakak sudah meninggalkan kalian semua. Namun, kakak paham kalau dalam jamaah, ketika satu orang salah, kita akan salah semuanya, Sayang.”

Aku mencoba membuka pembahasan ini. Namun, usahaku sepertinya gagal. Aku semakin tidak direspon baik oleh Kayla. Dia hanya melihatku dan tersenyum. Wajahnya memerah dan matanya berkaca. Tapi, dia sembunyikan. Ada rasa ragu yang semakin dalam dihatinya. Antara berangkat dan tidak ke Pakistan. Masih diawang- awang.

“Kak, aku mau istirahat dan mendengarkan salawatan ini. Maaf kalau aku kurang merespon kata-kata kakak malam ini. Ini berat buatku, bukan apa-apa. Aku ini wanita, pasti rasa sakit itu ada. Tapi, aku tak mau ini dibahas malam ini.”

“Oh, oke. Mungkin waktu kakak tidak tepat untuk mengatakan ini kepadamu.

Mari kita istirahat. Tinggalkan handphonenya, kita tidur.”

“Kakak duluan saja. Aku masih mau dengarkan salawatan. Kalau aku mengganggu dibilang saja ya, Kak. Biar kakak bisa istirahat dengan tenang. Maafkan aku, Kak.”

“Tidak apa-apa. Lanjutkan saja. Tak usah minta maaf, kakak sudah memaafkanmu sejak awal sebelum kamu minta maaf”

Aku berlalu tidur dan mengalihkan pandanganku ke handphoneku. Aku salah malam ini. Malam ini aku sudah mengenal Kayla. Aku belajar memahami setiap tipe orang yang dekat denganku. Aku kadang merasa egois karena memikirkan yang tidak tepat untuk orang-orang ini. Ah, maafkan aku ya Allah.

Malam berbalut mimpi. Bintang tidak terlihat. Dibalik jendela nako yang mengadap ke dinding sebelah rumah kosan itu terlihat gelap sekali. Tidak ada bulan yang bisa menerangi malam. Kabut tebal menutupi langit Ciputat malam ini. Suasana hati Kayla sudah digambarkan langit malam ini. Aku paham dia masih galau dan sangat tidak baik.

Dinginnya AC membuat suasana ruangan kamar itu menjadi sejuk. Ada dua selimut tebal yang membungkus badan kami yang kecil dan mungil ini. Aku memang sudah lewat dari umur dua puluhan. Namun, masih terlihat kecil dengan jiwa yang besar. Berjuang melawan penyakit dari umur enam bulan. Allah masih sayang padaku diumur segini masih semangat kemanapun dan dimanapun.

“Selamat tidur, Kayla.”

Selimut coklat motif bunga mawar aku perbaiki menutupi tubuhnya. Aku memandangi wajahnya dengan suasana hati yang tidak biasa. Masih kurasakan sedih dan sakitnya dengan Rudi itu. Besok pagi aku akan tanyakan lagi kepada Rudi dan Kayla. Aku harus damaikan mereka.

Mataku tidak bisa tidur. Aku letih seharian. Masih aku ingat wajah Ayah yang khawatir denganku. Aku merasa bersalah dengan Ayah.

“Ayah, aku minta maaf. Aku anak gadismu yang sangat membangkang.”

Kepalaku tertunduk. Airmataku tiba-tiba jatuh. Aku tertekan dan sangat lelah sekali. Malamku hampa. Aku juga mengingat tante yang juga akan khawatir denganku. Oom-ku yang juga setiap sebentar menanyakanku. Sejak kecil mereka selalu menyayangiku. Aku merasa bersalah untuk kesekian kalinya.

“Tante, Oom. Aku memang bukan anak kecil lagi. Namun, rasa cinta kalian melebihan apapun disini. Aku tahu Jakarta ini keras dan sangat kejam. Hanya restu dan doa kalianlah aku bisa selamat dari apapun. Terima kasih untuk semuanya. Aku sungguh tidak bisa lupa.”

Badanku tidak merespon apapun lagi. Tertidur dan semakin lelap. Suasana Ciputat semakin gelap dan mencekam. Rona langit lambat laun menumpahkan darah hitam dan sangat gelap. Aku tertidur.

***

“Selamat pagi, Ciputat,” senyumku.

Alarm dini hari menjelang subuh berbunyi lantang. Waktunya tahajjud. Mataku masih berat. Ah, ini waktu yang tepat untuk mengadukan semua masalah kepada Allah. Allah itu Maha Baik. Dia punya segudang solusi untukku dan Kayla.

“Dik, bangun yuk! Tahajjud.”

“Hmm…,” sambut Kayla dengan mata tertutup. “Ayuk, bangun. Sudah waktunya tahajjud.”

“Iya, Kak. Duluan aja, Kak. Berat banget mataku,” Kayla kembali menarik selimut dan kembali tidur.

Aku sholat sendirian dan mengadukan semua masalahku kepada Allah. Aku menangis membelah malam sebelum subuh. Berdzikir memohon ampun dan kasih sayang Allah. Mengingat Ayah, Tante, dan Oom. Aku merasa berdosa.

Alma‟tsuratku bergema dibibir penuh dosa ini. Hanyut dalam lantunan yang tak henti menyebut asma Allah. Semakin kubaca semakin aku menangis dan semakin aku berdosa. Aku sampai kepada doa Rabithah. Sebuah doa pengikat hati dan penyampai rinduku pada orang-orang yang kucintai. Aku semakin larut dengan airmata. Sujud dan memohon dosaku diampuni semuanya. Aku yakin Allah Maha Pengampun. Aku yakin.

“Allahu Akbar. Allahu Akbar” azan subuh memecahkan kesyahduan doaku.

Subuhku sudah sedikit lega. Aku beranjak berwudhu dan membangunkan Kayla kembali. Kasihan sekali dia kelelahan.

“Dik, sudah subuh. Azan sudah berkumandang. Yuk, sholat dulu. Berjamaah,

yuk!”

“Hmmm…Iya, Kak. Sebentar.”

“Ayuk, bangun. Nanti keburu syuruq waktunya. Nggak boleh sholat lagi sebelum Dhuha masuk.”

“Iya, Kak. Ngumpulin napas dulu ya, Kak,” lambat laun Kayla duduk.

“Yuk, berwudhu. Kakak tungguin.”

“Nggak usah ditungguin, duluan aja Kak sholatnya.” “Udah wudhu aja. Nggak apa-apa.”

Aku sengaja menunggu dia untuk berjamaah. Sebab, kesempatan ini merupakan kesempatan aku untuk mengulang kenangan di wisma. Kali ini imamnya Kayla.

“Hah? Ditungguin, ya? Udah Kakak duluan aja sholatnya tadi,” Kayla kaget. “Udah, kakak mau berjamaah. Ayuk, pakai mukenanya. Kamu imam.”

“Eits, ntar dulu. Kakak aja. Aku nggak mau.”

Aku mendahului iqamah. Sampai Kayla kaget dan bilang tidak adil. “Itu iqamahnya nggak sah. Ayo ulangi lagi. Aku aja yang iqamah.”

“Nggak mau. Udah iqamah itu cuma sekali. Bagi-bagi pahala kita ya. Kakak sudah iqamah. Silahkan kamu yang imam.”

“Ah, kakak. Gitu ya?” cengengesan Kayla.

Subuh berlalu sebentar saja. Aku melanjutkan dengan tilawah satu juz melalui handphoneku. Aku lupa membawa AlQur‟an. Kayla juga memakai AlQur‟an kecilnya. Aku mengangsur bacaanku yang memang agak kurang nyaman membaca melalui telepon genggam itu. Tapi, setidaknya aku tidak berhutang tilawah pada Allah hari itu.

“Kak, nanti ke Pasar Minggu, yuk!” “Dimana?”

“Di depan. Kita beli sarapan dan kakak pasti lapar, kan?”

“Oh, jadi di depan itu ada pasar setiap hari Minggunya ya, Dik?”

“Iya, Kak. Aku sudah lama tidak keluar. Kan habis dari kampung. Kita kesana, yuk!”

“Oke, ayuk. Tapi, nanti aja. Masih nyaman ini dikasur. Semalam nggak bisa tidur. Cuma 3 jam tidurnya.”

“Lah, kok bisa? Ada apa, Kak?”

“Nggak ada apa-apa. Emang seperti itu. Susah tidur kalau ditempat yang baru. Tapi, itu untungnya bisa tidur tiga jam. Nanti dirumah kakak tidur lagi. Kakak pulang agak siangan, ya.”

“Oke, Kak. Nanti aku antar sampai Tanah Abang. Aku mau jemput temanku disana.”

“Oke. Jangan lupa segera bersiap.” “Siap, Kak.”

Paginya masih mendung. Aku belum pernah melihat matahari tersenyum di langit Ciputat. Mungkin aku baru satu hari disini. Lain kali aja mentari menyuguhkan senyumannya paling manis di Ciputat. Nanti aku datang lagi kesini.

“Kak, mau beli apa?”

“Kakak mau makan nasi. Tapi, tidak usah banyak-banyak.”

“Kakak lagi nggak enak makan. Jadinya, cuma pengganjal lambung biar tidak sakit.”

“Oh iya, Kak. Kita beli nasi disana aja. Murah kok. Aku mau beli sosis. Hehe.” “Oke. Ayuk!”

Kami menyusuri Pasar Minggu yang sederhana itu. Penjualnya ramah-ramah. Semuanya tersenyum. Berkah pagi di Ciputat. Di depan UIN Jakarta yang selalu ramai hari Minggu. Ciputat seperti wilayah Islami yang aku kunjungi selama aku menjajaki kaki tanah Jawa ini. Entah apa yang menarikku kesini. Jauh memang, namun aku sengaja kesini karena penasaran.

“Kak, makan, yuk!” ajak Kayla sesampai dikosan.

“Ayuklah! Lapar. Hehe.”

“Ini minum buat kakak. Aku bisa minum pakai botol ini saja.” “Iya, syukran, ya, “ ucapan terima kasihku dalam bahasa Arab. “‟Afwan, Kak,” balasnya dalam bahasa Arab.

“Eh, minum yang banyak ya. Jangan Cuma sebotol ini saja. Tubuh kita butuh air sekitar delapan puluh persen. Jadi, kalau segini tidak cukup,” aku mulai menasihati Kayla.

“Eh, iya, Kak. Insya Allah, nanti minumnya dibanyakin lagi.”

Makan pagi yang enak. Masakan Jawa dengan ada rasa manisnya. Mungkin karena lidahku keturunan Padang alias Minang. Aku masih mencintai masakan Padang. Namun, kali ini aku minta untuk mencoba masakan Jawa. Pernah beberapa waktu yang lalu aku mau mencoba masakan kuliner Betawi. Masih belum sempat.

“Kak, maaf ya. Semalam aku sedikit sensitif dan tidak enak badan. Aku memang sedang sedih dan tidak bisa diganggu. Ada rasa nggak enak sama Rudi. Aku juga tidak mau memperpanjang masalahnya. Aku takut berburuk sangka sama dia, Kak. Aku tahu kalau dia memang semangat. Tapi, dia tidak bisa menjaga omongannya.”

“Hmm… Kakak sudah tahu dari semalam. Jadi, kakak cuma bisa diam karena Kayla tidak bisa diajak bicara sedikit pun. Setidaknya kakak tahu ini penyebab Kayla jadi sedih dan terjatuh. Kakak akan damaikan kalian.”

“Nggak usah dulu dibahas, Kak. Aku masih ingin merenungi sendiri. Mana tahu aku juga salah. Tapi, aku benar-benar sibuk. Kali ini aku lelah sekali. Aku tahu apa yang akan aku kerjakan. Namun, aku jangan di desak dengan kata-kata setajam itu.”

“Iya. Yuk, kita maafkan dia. Semoga ukhuwah kita masih terjaga. Insya Allah, kakak akan bantu mendamaikan. Kita ini bersaudara. Jangan sampai hanya gara-gara ini kita berpecah. Inilah setan suka dari kita, Dik.”

“Iya, Kak. Aku tahu. Semoga aku bisa lebih baik lagi ya, Kak. Bisa lebih sabar dan memaafkan. Bimbing aku terus ya, Kak. Jangan pernah bosan.”

“Insya Allah, Dik.”

Kayla menundukkan wajahnya. Berat memang untuk memaafkan orang yang kita sakiti itu. Namun, ini harus dia lakukan. Sudah mulai gerah dengan hal yang membuatnya tertekan karena sikap Rudi yang sama sekali tidak enak dengannya. Rudi juga egoisnya tinggi sekali. Aku juga sempat tersinggung. Tapi, aku menahannya agar tidak terjadi perpecahan.

Siang datang tanpa diundang. Matahari sudah di tengah langit. Menyapa bumi masih dengan mendungnya. Masih belum mau tersenyum pada tanah Ciputat. Saatnya pulang ke rumah. Aku lebih tidak enak dengan tante yang sudah mengizinkanku dan berjanji aku akan pulang agak pagi. Namun, ini siang sampai di rumah sore. Aku juga masih terigat Ayah yang akan memarahiku.

“Kakak pulang ya, Dik. Segan sama tante yang sudah izinkan. Harusnya pulang tadi pagi. Tapi, kakak masih ingin menemanimu disini. Kamu yang kuat dan tetap semangat, ya.”

“Insya Allah, Kak. Yuk, aku antar sampai Tanah Abang. Sekalian aku mau menjemput temanku dari Bogor.”

“Oke.”

Masih berkeliaran di Stasiun Pondok Ranji. Kereta arah Tanah Abang sudah menunggu. Masih menunggu penumpang sekitar lima menitan sebelum pintu kereta ditutup otomatis oleh operator kereta. Masih mendung hingga ke Tanah Abang. Namun, hawanya panas sekali. Aku gerah dan jaket biru dongker itu tak mau kulepaskan.

Jazakillahu Khaer, Kak. Sudah berkunjung dan menemaniku semalam. Semoga lain waktu akan berkunjung lagi. Kalau ada apa-apa, mainlah kesini. Nanti aku titip kunci kamarnya sama Ibu Kos.”

Waiyyaki, Dik. Insya Allah akan selalu mengunjungimu disini. Jangan lupa besok ditunggu di Stasiun Sudirman. Biar urusan kita selesai.”

“Oke, Kak. Hati-hati di jalan, ya.” “Iya, Insya Allah.”

Sudah sore saja. Ramainya penumpang kereta dari Tanah Abang semakin menggerahkanku yang lelah. Perasaanku semakin tak enak. Pagiku di Ciputat memang tidak seindah yang aku kira. Namun, aku masih bisa melihat Kayla tersenyum berat dengan semua ini. Aku yakin dia akan memaafkan dan kembali lagi. Semoga saja.

***

Comment