Tepatkah Indonesia “Normal Baru”?

Oleh:
Jufika Martalina
Alumni S2 Linguistik FIB Universitas Andalas

Normal baru menjadi istilah yang sangat populer akhir-akhir ini. Penggunaan istilah ini untuk menyatakan kehidupan masyarakat Indonesia akan berjalan normal usai pembatasan segala aktivitas di luar rumah lebih kurang tiga bulan lamanya akibat wabah covid-19, tetapi dengan cara yang baru sesuai dengan himbauan pemerintah, misalnya  boleh beribadah ke rumah ibadah namun harus menjalankan protokol tertentu. Begitu juga dengan kegiatan di luar rumah lainnya.

Istilah ini tiba-tiba saja ramai digunakan di berbagai media. Pada mulanya, istilah tersebut digunakan dalam bahasa asing, yaitu new normal. Kemudian beberapa waktu lalu, istilah ini sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia menjadi “normal baru”. Langkah ini sangat tepat dilakukan agar kita, masyarakat Indonesia terutama pelaku publik tidak terlalu serakah terhadap penggunaan bahasa asing. Perubahan penggunaan bahasa yang begitu cepat ini membuktikan bahwa memang benar bahasa itu bersifat dinamis. Terlepas dari itu, ada keresahan yang terlintas setelah membaca perubahan penggunaan bahasa dari istilah tersebut. Oleh karena itu, melalui tulisan ini saya mencoba menyampaikan keresahan tersebut.

Keresahan ini bermula ketika salah satu media pemberitaan menggunakan topik utama “Indonesia Normal Baru”. Saya begitu tidak nyaman membaca istilah ini diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Saya menyadari hal ini adalah pendapat subjektif seperti halnya kesan pertama ketika melihat seseorang yang baru dikenal. Begitulah analoginya saat pertama kali saya membaca istilah “normal baru”. Akan lebih baik tetap menggunakan istilah ini dengan bahasa asing “Indonesia  New Normal”. Namun pemikiran ini semakin menimbulkan keresahan yang mendalam. Mengapa harus kembali menggunakan istilah asing. Bukankah bahasa nasional kita memiliki beratus-ratus ribu kata bahkan lebih untuk menyepadankan istilah ini agar terdengar lebih nyaman saat digunakan di ranah publik?

Saya berpikir apakah istilah “normal baru” yang telah digunakan dalam ranah publik hanya mengalami proses terjemahan kata demi kata kemudian kaidahnya disesuaikan dengan bahasa Indonesia. New normal terdiri dari dua kata dalam bahasa Inggris, yaitu new dan normal. Kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia yaitu new berarti baru dan normal berarti normal karena normal telah diserap ke dalam bahasa Indonesia. Tahap selanjutnya mengubah kaidah atau struktur tata bahasa. Dalam bahasa Inggris, secara gramatikal kata sifat selalu mendahului kata benda, namun dalam kaidah bahasa Indonesia adalah sebaliknya, yaitu kata benda  mendahului kata sifat sehingga akhirnya lahirlah istilah “normal baru”.

Allan dan Multamia pernah mengungkapkan bahwa proses penerjemahan merupakan suatu kegiatan kompleks yang menuntut kecermatan. Seorang penerjemah tidak hanya dituntut menguasai bahasa sumber dan bahasa target dengan baik, namun juga harus menguasai isi materi yang diterjemahkan. Selain itu, seorang penerjemah juga harus peka terhadap berbagai faktor sosial, budaya, politik, dan emosi agar dapat menerjemahkan secara tepat. Proses terjemahan new normal menjadi “normal baru” hanya sampai pada 2 tahap. Pertama, terjemahan kata demi kata. Kedua, penyesuaian kaidah bahasa. Jika merujuk kepada pendapat ahli, proses 2 tahap ini tentu saja tidak cukup untuk menerjemahkan kata dari bahasa asli ke bahasa target. Ada faktor luar bahasa yang harus dipertimbangkan agar hasil terjemahan tersebut tepat digunakan di lingkungannya.

Melihat fenomena ini, perencanaan bahasa perlu dilakukan. Perencanaan bahasa merupakan kegiatan yang dilakukan oleh pemerintah atau badan yang ditunjuk pemerintah dalam hal ini badan bahasa. Badan bahasa mempunyai otoritas untuk menentukan variasi bahasa mana yang distandarkan sebagai bahasa nasional, cara penyebarluasan bahasa nasional mana yang dianggap paling efektif, cara penyempurnaan sistem ejaan baku mana yang komprehensif untuk mengantisipasi masuknya kosakata asing ke dalam khazanah bahasa Indonesia dan berbagai persoalan bahasa lainnya.

Perencanaan bahasa memang tidak mudah dilakukan dengan cara cepat. Di satu pihak, badan bahasa telah berupaya semaksimal mungkin untuk menciptakan istilah baru. Di pihak lain, masyarakat merasa tidak puas karena ada hal yang tidak dapat diekspresikan dengan tepat. Kenyataan di lapangan istilah asing menduduki peringkat pertama dalam hal penggunaan istilah baru karena masyarakat lebih nyaman menggunakannya daripada istilah dalam bahasa Indonesia namun terasa asing. Suasana ini seperti ungkapan merasa asing di negeri sendiri.

Dengan demikian, untuk mengantisipasi hal tersebut, tahapan-tahapan atau proses penerjemahan haruslah memperhatikan faktor luar bahasa. Tidak semua kata-kata dalam bahasa asing harus diterjemahkan sesuai dengan entri kata bahasa aslinya. Breakfast tentu tidak diterjemahkan menjadi “istirahat cepat”. Akan tetapi, diterjemahkan dengan tepat menjadi “sarapan pagi”. Melalui fenomena ini, sebelum proses penerjemahan dilakukan alangkah lebih baiknya istilah asing yang masuk ke dalam khazanah tutur bahasa Indonesia perlu disepadankan terlebih dahulu.

Comment