SK Haram

Cerpen: Romi Afriadi

Keinginan Hanif untuk menikmati hidup di masa tuanya selepas pensiun nanti, sepenuhnya tergantung dari SK yang kabarnya akan diterimanya dalam waktu dekat. Berdasarkan penuturan kepala sekolah yang meneruskan ucapan pengawas sekolah di kota kabupaten, nama Hanif akan masuk sebagai salah satu guru yang diangkat langsung oleh pemerintah menjadi Pegawai Negeri Sipil.

Terselipnya nama Hanif dalam daftar itu, sebetulnya tidaklah mengejutkan. Malah seharusnya nama Hanif sudah pantas bercokol di sana jauh sebelum masa sekarang. Menilik pengabdiannya yang lebih dari dua dekade mengabdi dan mengajar di sekolah.

“Insya Allah, Pak Hanif akan jadi salah satu guru yang dapat jatah PNS, meskipun Pak Hanif hanya menikmatinya dua tahun sebelum pensiun.” Ujar kepala sekolah suatu siang.

“Setidaknya selepas pensiun nanti, saya tidak kebingungan lagi menafkahi keluarga, Pak.” Hanif menjawab penuh harap.

Kepala sekolah tersenyum mendengar itu, ia paham sekali maksud yang disampaikan Hanif. Hampir seumur hidup, Hanif menghabiskan waktu mengajar dan mengabdi di berbagai sekolah. Cerita pahit dan kelam menjadi guru dengan penghasilan pas-pasan bahkan kadang kekurangan, bukanlah sesuatu yang asing baginya. Jika bukan karena ia nyambi menyadap karet sepulang sekolah, asap dapurnya tak akan mengepul. Makanya, ketika kabar pengangkatan PNS itu mampir di telinganya, harapannya amat membuncah. Bagi seorang guru, menjadi Pegawai Negeri Sipil adalah cara terbaik untuk menaikkan kesejahteraan ekonomi pun status sosial.

Hanif sudah membayangkan betapa berpengaruhnya SK itu untuk kelanjutan penghidupannya kelak. Ia sudah merancang banyak hal dengan statusnya sebagai guru PNS. Hanif merumus banyak daftar yang berseliweran dalam kepalanya. Mengajak istri dan anak-anaknya berjalan ke kota saat musim liburan sesuatu hal yang jarang bisa ia persembahkan. Menyekolahkan dua anaknya yang kini masih duduk di bangku SMP dan SMA. Hanif tak ingin nasib keduanya sama dengan si sulung yang tidak bisa melanjutkan ke perguruan tinggi akibat kekurangan biaya.

Hanif juga sibuk memikirkan rutinitas apa yang  ia lakoni dengan status sebagai pensiunan PNS. Mungkin ia bisa berkebun jagung dan ubi di halaman belakang rumah sekaligus beternak lele. Di waktu senggang, ia bisa membaca buku-buku agama sembari berharap buku-buku itu mampu mengajaknya untuk lebih dekat dengan Tuhan di hari tuanya.

“Barangkali inilah rezeki Pak Hanif. Tuhan melihat dan mencatat pengabdian Pak Hanif selama ini.” Kepala sekolah tersenyum. Kali ini lebih tulus.

 

***

 

Di masa lalu, Hanif bukannya tidak mencoba peruntungan menjadi PNS. Ia pernah tiga kali mengikuti tes penerimaan PNS selama kariernya mengabdi di berbagai sekolah. Tes pertama ia lakoni ketika baru mengajar selama dua tahun di sekolah swasta tempat ia dulu melaksanakan Kuliah Kerja Nyata. Terdorong rasa iba, ia bersedia menghabiskan masa mudanya mendidik anak-anak di daerah pedalaman tersebut. Tes kedua kalinya, Hanif sudah berpindah tempat mengajar. Kesehatan ibunya yang memburuk kala itu menjadi alasannya untuk pulang kampung dan menjadi guru honorer di Madrasah Tsanawiyah. Lalu tes ketiga, saat Hanif baru setahun mengajar di tempatnya sekarang.

Sial, dari tiga kali percobaan itu. Hanif selalu gagal. Padahal, ia sudah belajar dan mempersiapkan diri sebaik mungkin untuk menghadapi setiap proses ujian yang berlangsung. Hanif rajin membaca buku-buku yang berkaitan dengan soal yang akan diuji, ia juga menghafal Pancasila beserta maknanya yang menjadi syarat mutlak agar lulus ketika itu, memaparkan arah pembangunan nasional pemerintahan supaya jangan di tuduh tidak mendukung pemerintah. Hanif juga tidak punya kendala saat mengisi formulir yang berkaitan dengan keluarganya di masa lalu karena keturunannya memang tidak ada yang berkaitan dengan PKI, organisasi yang begitu diharamkan kala itu.

“Barangkali bapak tidak punya orang dalam makanya tidak lulus.”

Itulah kalimat yang sering Hanif dengar setiap kali ia kembali dari sebuah tes yang berakhir kegagalan. Lambat laun, Hanif merasa itu sebuah pembenaran, apalagi ketika ia melihat rekan-rekannya yang lulus. Mereka sungguh bersikap santai dalam persiapan ujian tetapi justru lulus saat pengumuman.

Atas alasan itu pula, Hanif memutuskan untuk tidak lagi mendaftar pada kesempatan berikutnya, ia mengubur dalam-dalam impiannya menjadi PNS. Kendati risikonya harus hidup sederhana. Hanif kadung kecewa pada pemerintah, meskipun pucuk pemerintahan sudah berganti seiring masa revolusi, Hanif tetap tak lagi percaya pada pemerintah. Kelulusan PNS hanyalah untuk segelintir orang-orang berduit dan pemegang kekuasaan negeri ini.

Hanif merasa ia tidak diperhatikan secara serius. Catatan perjuangannya mengabdi puluhan tahun tak pernah menjadi acuan dan pertimbangan, selagi masih ada duit-duit menyelinap masuk kantong pejabat untuk penentuan faktor kelulusan. Percuma capek-capek ikut daftar, kilahnya. Sejak saat itu, Hanif amat geram terhadap pemerintah dan para pejabatnya. Di mata Hanif, orang-orang itu adalah sekelompok tikus-tikus kotor yang menggerogoti mangsanya.

***

Hanif bangun cepat sekali dengan semangat yang membara. Ia juga membangun seisi rumah untuk salat subuh lalu dilanjutkan dengan sarapan bersama. Ini jarang betul keluarganya melakukan. Namun ini hari penting, hari penentuan status Hanif menjadi PNS. Hanif juga ingin hari ini diawali dengan cara berbeda ketimbang hari biasanya.

“Akan ada sedikit wawancara sebelum penyerahan SK pekan depan.” Begitu ungkap kepala sekolah tempo hari.

Hanif pun mempersiapkan diri mengikuti wawancara kendati kepala sekolah menyatakan tidak ada pertanyaan khusus dan tes tertentu. Ia menimbang-nimbang akan seperti apa kelangsungan sesuatu yang disebut wawancara tersebut. Hanif kerap mendengar selentingan kabar bahwa tes CPNS sekarang sudah amat berbeda dengan zamannya dulu mendaftar. Sekarang jauh lebih bersih dan terstruktur. Hanif tak paham alur dan jalur proses penyeleksian dan penerimaan sekarang, apalagi ia diangkat menjadi PNS bukan melalui proses seperti itu melainkan secara langsung berdasarkan masa mengajarnya yang lama.

Hanif sampai ke kota kabupaten sekitar jam 9 pagi. Ia langsung mengarahkan motornya ke tempat tujuan di gedung berlantai dua dengan halaman yang dipenuhi pohon-pohon rindang. Aktivitas ramai. Sepertinya, guru-guru yang menerima pengangkatan ini kebanyakan memang guru senior yang sebentar lagi akan pensiun. Ternyata bukan cuma aku saja yang mengalami nasib macam ini, batin Hanif.

Hanif duduk menunggu giliran. Orang-orang yang keluar sesudah melakukan wawancara terlihat senyum-senyum. Wajah mereka ceria. Pemandangan itu kian membuat tak sabar Hanif. Persis ketika namanya di panggil, Hanif pun merasa begitu bergairah.

“Selamat pagi, Pak Hanif.” Kedua pewawancara itu usianya di bawah Hanif, yang satu memakai kacamata dan kopiah hitam, satu lagi berbaju batik. Keduanya mempersilakan Hanif duduk.

“Terima kasih, Pak Hanif sudah bersedia menghadiri undangan kami. Seperti yang kita ketahui, nama Bapak akan jadi salah satu guru yang diangkat jadi PNS.”

Hanif menyimak.

“Ini adalah wujud kepedulian pemerintah atas dedikasi tinggi Pak Hanif di bidang pendidikan.”

Hening sebentar.

Pewawancara yang memakai baju batik lalu mengambil alih perbincangan.

“Tetapi sebelum SK kita serahkan pekan depan, ada satu-dua hal yang harus kita sepakati, Pak.”

Tiba-tiba wajah kedua pewawancara itu mendadak berubah serius. Hilang sudah basa-basi dan senyum keramahtamahan yang mereka tunjukkan di awal perjumpaan. Intonasi suaranya pun mengecil seolah jika ada orang yang menguping semuanya akan berantakan. Hanif sejenak cukup kebingungan. Ia ingat perkataan kepala sekolah. Wawancara ini tidak ada pertanyaan khusus atau tes tertentu. Kini, ia malah merasakan keganjilan dan bingung harus bersikap seperti apa.

“Bapak kan tahu, lulus jadi PNS sekarang cukup rumit dan banyak prosedur yang perlu diselesaikan.”

Kening Hanif berkerut. Ia masih menerka ke mana arah perbincangan ini.

“Pak Hanif pahamlah kondisi negara kita. Semuanya mesti pandai-pandai dalam suatu urusan dan kami mau buat kerja sama dengan Bapak.”

Kedua pewawancara itu cengengesan. Sementara itu, Hanif memaknai kata pandai-pandai itu dengan beragam persepsi.

“Untuk biaya pengurusan SK ini setiap guru yang diangkat akan dikenakan biaya dua puluh juta, Pak.”

Deg..!!! Jantung Hanif serasa mau meledak seketika.

“Ini hanya biaya operasional, Pak. Tentu saja ini terhitung murah dibandingkan PNS lain yang mesti membayar ratusan juta.” Ujar pewawancara berkacamata.

“Kami khawatir jika tidak dibayar pengurusan SK akan tersendat dan nama Pak Hanif berpeluang digeser guru-guru lain yang berebut jadi PNS.”

“Apakah ini namanya sogokan?” Hanif bersuara lirih di tengah keterkejutannya.

“Oh, tidak. Kita hanya mengikuti prosedurnya saja, Pak.” Kedua pewawancara itu menggeleng hampir serentak.

“Pak Hanif maklum saja lah. Kita harus pandai-pandai.”

Hanif merasa dunianya menjadi gelap seketika. Ternyata sistem birokrasi tak pernah berubah. Selalu dipenuhi trik licik menjijikkan. Hanif beringsut keluar ruangan dengan mata basah, yang membuat kebingungan dua pewawancara di hadapannya. Di mata Hanif kini, pemerintah dan pejabatnya bukan lagi tikus-tikus kotor yang menggerogoti mangsanya, tetapi anjing-anjing kelaparan yang memangsa segalanya.(*)

Tanjung, 31 Maret 2020

 

 

 

 

 

Comment