Puisi-puisi Tiara Nursyita Sariza

Di Cangkang Pesakitan

 

Aku adalah kesakitan

Dipandang cantik karena kesakitan itu sendiri

Berpeluk malam

Ombak menghantam geladak kapal

Di bawah sini–dalam lambung sang laut aku bersemedi

Dan orang-orang berasumsi– sakitku adalah keindahan yang harus di selami

Dalam gelap nan sepi

Samudra tetaplah samudra

Berjuang sendiri– perih melahirkan kesakitan

Kandunganku adalah kesia-siaan

Namun berharga dalam genggam awak kapal

Mereka merampasnya!

Berbulan-bulan pasir menyayatku

Bertahun-tahun laut mencakarku

Sepersekian detik tetaplah luput

Tiba sang waktu

Ketubanku pecah!

kontraksi kian membuncah!

Cangkang-cangkang kerang menggeram

Bayi-bayi kecil berputih

Kesakitan indah terlahir

Silau mutiara dan ibu berjuang dalam gelapnya samudra

 

Aceh Utara, 2020

 

Romantisme Baja

Pada tandu yang bergoyang kutatap nyalang kepergianmu

Sebentar lagi– biduk lena pun menjemputku

Ini adalah kisah sepasang insan berkeping baja

Jangan berpikir kepergian adalah kematian ataupun romantisme kerajaan

Aku hanya minta satu– Sabit kelabu jingga maroon pada tatap dan bibirnya yang kaku

Kita akan berpisah

Tandu yang bergoyang menggelindingkan roda di seberang gunung tak bertemu

Biduk lena menghantarkan pemuda pada dayang yang sumbing di hatinya

Sekejap saja puan!

Ini detik terakhir

Petik bulan berikan isyarat Indian– pada hati yang berapi

Aku akan menjemput

kunang-kunang sebagai janji

Di tempat ini

Taman Lebanon terbakar kalap yang hampir usang

lapangan datar tetap bertandang

di wajahnya

Romantisme hanyalah asa

Dia tetap berbaja

Aceh Utara, 2020

 

Sajak untuk Ayah

Sudah lama aku menanti kepulanganmu, ayah

Secangkir teh telah berubah dinginnya udara malam

Minyak urut telah kupersiapkan sejak sore tadi

Pijatan pada pundakmu mungkin bisa melenyapkan penatmu

Ayah,

Sore ini tidak seperti sore-sore kemarin

Aku tidak melihat senyum seperti magrib-magrib sebelumnya

Sapaan dan salam pada bibir pintu terdengar kecil

Apa hari ini lebih membuncah dari sore kemarin?

Mari kuurut bahu ayah dua jam lebih lama

Dan ibu bilang di meja makan

“Kontrakan menunggak!”

Ayah tetap mempertahankan selera makan

Walau mulut terasa hambar

Uap pada nasi menipu uap pada nafas

Diri mengerti

Pijatan tidak bisa berubah menjadi penebusan kontrakan

Aku harus apa?

Bolehkan aku mengganti penatmu

Tapi aku harus apa?

Ayah, malam ini lepaskan miang di kepala sansai di dada

Senyumlah untuk selebat penat

Aku akan berwudhu dengan lebat itu

Menukarkan doa untuk mencicil hutang-hutang kita

Aceh Utara, 2020

 

Tiara Nursyita Sariza, lahir 20 Juli 2003 di Kota Pekanbaru, Riau.  Saat ini, ia tengah menduduki bangku SMA Jurusan IPA di SMAN 2 Nisam, Aceh Utara. Jejak maya Tiara bisa dilacak melalui akun Instagram @tiarasariza dan Facebook Tiara Nursyita S. Buku solonya berjudul “100 Detik Berpuisi”

 

 

Comment