Puisi-puisi Lismomon Nata

Datang dan Pergi

 

Apa yang kita harapkan dari suatu

kedatangan? Bila tidak kepergian

Meskipun ia berangkat perlahan, pelan

Seperti halnya matahari yang turun

ke peraduannya kala senja

Warnanya rupa-rupa, kadang biru, ada jingga,

ada juga berpadu kelabu, gelap redup dan terang

 

Demikian juga dengan rasa hati bukan? Apabila ada yang datang atau bila kepergian tiba

Ada serupa warna yang sulit untuk dibaca, layaknya membaca pangsa

Persoalan hati memang persoalan rumit bukan? Seperti halnya datang dan pergi

tanpa permisi

 

Kau pergi tak lagi ku temukan, ditelan sepertiga malam

Namun, senyummu masih saja bersemayam dalam hatiku

biarkanlah kepergianmu sampai ke sudut hati

 

atau aku pergi

Ada dirimu perihku

Padang, Juni 2020

 

Kemestian Kita Kembali Mempertanyakan Cinta?

 

Cinta

Mestikah kita kembali mempertanyakannya?

Di antara kerumunan panjang perjalanan hidup yang datang silih berganti

Banyak peristiwa berkelebat dalam ruang hampa tanda tanya

Rasa menjadi sejarah

Hidup memang kadang mengejutkan

Seperti halnya dirimu, dulu aku juga tak percaya apa itu cinta

Seumpama umpatan sepasang kekasih yang tak mendapatkan arak

Hingga tak mabuk asmara

Atau seperti rengek cengeng saja

 

Pada titik lain

Aku menemukan selingkaran pada kata cinta

Ia tidak setipis yang engkau kira

Ketebalannya menyelimuti alam semesta

Menyelimuti jagad raya

Seumpama langit dan bumi yang saling memberi menerima

Panas memberikan harapan untuk tumbuh

Dingin menawarkan kedamaian

seperti halnya cinta Tuhan kepada segala ciptaan-Nya

 

Sayang

Ijinkan aku mengantarkan setitik cinta itu untukmu

Agar kau tahu, bagaimana ia bekerja pada setiap desiran darah

Kita yang saling memadu

Setiap senyumannya memacu jantung terus berdetak

Atau memang biarkan saja, tak harus ada tanya

Seperti halnya cinta Layla dan Majnun

Yusuf dengan Zulaikha

Ia hidup dengan sendirinya

Padang,  Mei 2020

 

Kasihku Tertambat di Pantai Padang

 

Padang tak lagi berkisah Malin Kundang

atau Niti Nurbaya dan Syamsul Bahri

Namun tentang cintaku yang tertambat di Pantai padang

 

Riaknya bermuara di jiwa

Menyusupi bulir air tubuh

Menyatu padu

 

Baumu kuhirup, berpacu degap jantung

Seperti putaran roda sepeda motor waktu malam itu

Saat kita menelusuri jalan pantai

 

Kita bergulat dalam lipatan lara tawa

Gemercik suaramu mencair, beradu

Kau terus saja bersembunyi di sudut bola matamu

 

Aku takan pernah menyerah mencintaimu

Sendu kan kutemani menari-nari

Di setiap ingatan dan rasa

 

Aku mulai kaku, tak hafal lagi irama yang kudengar

Sayup sampai

Seulas senyummu selalu kunanti

Selama nafasku

Cintaku tertambat di Pantai Padang

 

Lismomon Nata  lahir di Kota Sawahlunto 30 Agustus 1984.  Alumnus Sosiologi Antropologi Universitas Negeri Padang (UNP) dan Pascasarjana Jurusan Sosiologi Univesitas Andalas (UNAND) kini mengabdikan sebagai Aparatur Sipil Negara di BKKBN, Provinsi Sumatera Barat. Puisinya dimuat dalam Antologi Puisi ‘Kondom Bocor, Sobek Ujungnya’ (Magenta, 2011) dan Antologi Puisi ‘Lelaki yang Mendaki Langit Pasaman Rebah ke Pangkal’ (Obelia, 2019).

Comment