Puan

Cerpen: Jufika Martalina

 

Aku masih ingat ketika suara ibu memanggilku.

“Puan, bukankah hari ini adalah hari kedatangannya?”

Aku kaget bukan kepalang.

Ya, namaku Puan. Aku tidak tahu mengapa ayah dan ibu memberiku nama itu, Puan  sebuah nama yang tidak berarti hanya terdiri dari empat huruf saja, P-U-A-N. Setelah aku beranjak dewasa, baru aku sadar alasan orang tua memberiku nama Puan. Mungkin saja ada terbesit harapan agar aku bisa menjadi seorang Puan Maharani, pikirku.

Ayahku lebih memilih bekerja menjadi pekerja borongan daripada seorang pegawai, namun dahulu penghasilannya malah melebihi dari seorang pegawai pada zaman itu. Ibuku adalah seorang pegawai negeri sipil yang dalam hitungan bulan akan pensiun. Meskipun berasal dari keluarga yang berstatus pegawai negeri sipil, hal ini tidak membuat hidupku berada di dalam kemewahan. Biaya pendidikan dan biaya kebutuhan rumah tangga membuat ibuku harus membuat hutang kepada siapapun yang mau meminjamkannya. Orang tuaku sangat peduli kepada pendidikan anak-anaknya, buktinya meski dengan hutang, salah seorang saudara perempuanku adalah seorang dokter muda dan aku  adalah seorang mahasiswa pascasarjana di universitas terkemuka di kotaku.

Tepat di hari kelahiranku setahun berikutnya adalah hari ujian kelulusanku dari pascasarjana. Waktu menunjukkan pukul 08.00 WIB. Aku akan memasuki ruang sidang. Ruangan yang begitu menakutkan bagi kebanyakan teman-temanku namun tidak bagiku. Aku sangat menyukainya karena ketika berada di dalam ruangan itu semua orang akan memikirkanku. Ujian pun berlangsung selama dua jam. Saat ketua penguji membacakan hasil keputusannya, aku dinyatakan lulus dan berhasil meraih nilai A untuk tesisku. Wow, mataku berkaca-kaca dan sebuah senyum di wajahku menjadi ornamen ketika aku keluar. Air mataku sontak menetes saat teman-teman terbaikku berteriak,“Selamat M.Hum. Puan dan selamat ulang tahun…” Mereka tidak lupa bahwa aku juga berulang tahun tepat di hari ini. Ulang tahun yang kedua puluh delapan.

Dua momen spesial terjadi di hari yang sama. Lantas tidak membuatku bahagia sepenuhnya. Aku bahagia ketika pulang ke rumah disambut dengan perayaan kecil-kecilan oleh keluargaku. Aku bahagia ketika teman-temanku menyodorkan kue ulang tahun kesukaanku dan mengabadikan momen bersama. Aku bahagia ketika dosen pembimbingku mengatakan bahwa aku mendapat tawaran mengajar di salah satu universitas di luar kota, namun aku tidak bahagia ketika mengingat satu hal. Ya, aku tidak bahagia ketika aku mengingatmu Juna. Juna adalah seseorang  yang aku tunggu kedatangannya, namun dia tidak datang karena dia lebih dahulu pergi meninggalkan janji-janjinya.

Satu minggu sudah berlalu, waktu membuatku harus pergi meninggalkan kampung halaman dan segala kenangan. Universitas luar kota telah menunggu pengabdianku. Aku pamit kepada orang tua, sahabat, dan teman-temanku. Kepergian ini membuatku sangat tertekan karena harus meninggalkan ayah dan ibu. Perasaan itu hanya sesaat sebelum mobil melaju cepat meninggalkan rumah.

***

            Dua bulan sudah aku berada di kota ini. Aktivitas mengajarku yang padat tidak membuatku lupa kepada orang tuaku. Ini merupakan uang dari gaji ketiga yang aku kirimkan kepada ibu untuk membayarkan hutangnya. Ibu berhutang karena biaya kuliah pascasarjanaku yang tidak sedikit. Jadi, akulah yang akan membayar semua hutang ibu. Aku pun berangkat dari kontrakan menuju mesin ATM yang tidak jauh dari sana.

Satu, dua, tiga, sampai dua puluh langkah kakiku dari kontrakan. Aku dikagetkan oleh seorang pria bertopi hitam yang mengikuti dari belakang. Langkahku semakin cepat karena takut hal buruk akan menimpaku. Semakin cepat melangkah semakin cepat pula pria itu mengikuti. Kecemasanku memuncak hingga akhirnya aku membelokkan langkah menuju halte di persimpangan jalan. Saat sampai di halte, aku sudah tidak melihat pria itu lagi. Aku berbelok menuju halte, sedangkan dia hanya lurus. “Seharusnya aku tidak perlu ketakutan”, gumamku dengan napas lega. Aku kembali menuju mesin ATM dan mengirimkan uang untuk ibu.

Sudah pukul 01.00 WIB dini hari, mataku masih saja terjaga. Entah pikiran apa yang membuatku mengalami susah tidur padahal esok pagi harus pergi lebih awal ke kampus. Tiba-tiba ponselku berdering, sepertinya ada sebuah pesan masuk. Aku sengaja tidak membacanya karena itu mungkin memang bukan pesan yang penting. Paling pesan itu adalah pesan dari mahasiswa-mahasiswa yang hanya sekedar mengucapkan “Selamat tidur Ibu”.

Keesokan harinya, aku bangun terlambat sehingga membuatku harus tergesa-gesa. Untung saja kampusku tidak jauh dari kontrakan. Aku berlari terburu-buru. Saat itu, untuk kedua kalinya aku bertemu dengan pria bertopi hitam yang juga sepertinya buru-buru lari ke arahku. Aku tidak begitu memperhatikannya dengan seksama. Jadi, aku hanya terus berlari hingga sampai ke kampus. Sesampai di gerbang kampus, pria bertopi hitam sudah hilang dari pandanganku.

Pada jam makan siang, aku menuju sebuah kafe yang tidak jauh dari kampus. Sembari menunggu makanan, aku membuka ponsel dan membaca semua pesan yang masuk semalam. Ada dua pulu tujuh pesan yang masuk. Dua pesan dari pengirim yang tidak dikenal selebihnya adalah pesan grup. Aku merasa berhenti bernapas ketika membaca pesan dari pengirim yang tidak dikenal.

“Puan, selamat malam! Sudah lama kita tidak bertemu. Bagaimana kabarmu? Bisakah kita bertemu nanti malam? Aku akan memberikan undangan pernikahan? Aku akan menunggu di depan kontrakan, Juna”. Dengan jari tangan yang gemetar dan tangan yang berkeringat aku membalas “Ya”.

Malam pun tiba, aku sudah bergegas keluar kontrakan. Ketika aku membuka pintu kontrakan. ternyata seorang pria bertopi hitam sudah berdiri membelakangi kontrakanku. Apakah dia Juna atau jangan-jangan dia hanyalah seorang penjahat yang ingin merampokku. Sebelum orang itu melihat, aku lekas membalikkan badan karena ingin masuk kembali ke kontrakan.

“Puan.“

Suara itu seperti aku sangat mengenalnya. Aku masih belum menoleh. Kembali suara itu terdengar “Puan, ini aku Juna”, kata pria itu. Aku membalikkan badan dan berjalan ke arahnya. Langkahku gontai, perlahan-lahan aku menjadi di dekatnya dan berhadapan dengannya. “Juna, kaukah itu”, suaraku serak.

“Iya Puan, maaf baru menemuimu hari ini. Saat kamu ujian kelulusan aku ingin sekali datang, tetapi sesuatu menghalangiku. Selamat ulang tahun, Puan”, sambil menyodorkan seikat bunga mawar ke hadapanku. Aku masih saja terdiam, aku mengambil bunga itu sambil tersenyum.

“Jadi kamu bekerja di kota ini?, sudah berapa lama? Kamu pria bertopi hitam yang belakangan ini mengikutiku?”

Banyak pertanyaan yang aku lontarkan dalam hatiku.

Juna mengambil sesuatu dari dalam jaketnya lalu memberikannya padaku. Undangan pernikahan seperti yang dia bicarakan dalam pesan semalam. Perasaanku mulai tidak tertata, antara bahagia dan sedih. Aku bahagia karena dia akan menikah namun aku bersedih dia akan kembali menghilang dari kehidupanku seperti sebelumnya. Dia akan sibuk dengan keluarga barunya, dengan istrinya bahkan anaknya jika dia sudah mempunyai anak. Aku akan kehilangan dia lagi, pikirku.

“Bukalah dan bacalah”, seru Juna kepadaku yang hanya terdiam mengenggam undangan itu. Seolah Juna mengetahui apa yang aku rasa dan pikirkan. Semenjak kami kenal hingga saat ini, kami memang tidak pernah membicarakan perasaan masing-masing. Aku hanya tahu, aku nyaman bersamanya dan dia pun nyaman bersamaku. Kami hanya dibalut dengan kata persahabatan. Tidak lebih dari itu. Aku membuka pelan undangan itu, kemudian membacanya. Pernikahannya akan berlangsung hari Minggu ini. Aku menurunkan pandanganku dan membaca nama calon istri, Juna. Di sana, tertulis P-U-A-N. Malam itu, kami lalui dengan dua gelas sekoteng dan sepiring goreng pisang di pinggir jalan seberang kontrakan.

***

            Suara ibu kembali mengagetkanku dan ini lebih keras.

“Puan, bangunlah! Sudah pukul 07.30. Bukankah hari ini kau akan menjemputnya?” Dengan muka yang masih kusut, aku beranjak dari tempat tidurku. Aku lihat kalender jadwal kegiatan hari ini. Kamis, 06 Februari 2018.

Di sana tertulis “Hari kedatangan Juna”.

Comment