Pandemi Covid-19: Belajar Daring Lebih Baik atau Tidak?

Oleh:
Rilen Dicki Agustin
(Mahasiswa Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Andalas)

Pandemi covid-19 yang terjadi pada akhir tahun 2019 sampai kini berdampak besar terhadap cara berpikir, berperilaku, dan berinteraksi dengan orang lain. Pandemi covid-19 ini membuat saya sebagai mahasiswa hanya bisa berkomunikasi secara virtual melalui berbagai aplikasi, seperti WhatsApp, Zoom, dan aplikasi sejenisnya selama kuliah daring. Interaksi ini dinilai jauh lebih aman ketimbang berinteraksi secara langsung sebagaimana keputusan bersama yang disampaikan pada Senin (15/6) lalu oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Kementerian Agama, Kementerian Kesehatan, Kementerian Dalam Negeri, dan Gugus Tugas Percepatan Covid-19.

Keputusan tersebut bagi saya sebagai mahasiswa sebenarnya tidak mengejutkan. Topik yang mereka sampaikan seputar hal yang ramai diperbincangkan publik di media sosial, yakni meneruskan pembelajaran jarak jauh karena pandemi covid-19 yang dianggap belum usai.. Dari keputusan tiga menteri dan gugus covid-19 di atas tentunya memiliki dampak baik dan dampak buruk. Karena jika dilihat dari dampak baiknya dan buruknyalah pemerintah telah dapat memutuskan untuk tetap meneruskan pembelajaran jarak jauh, yang disebut kuliah daring bagi mahasiswa.

Kuliah daring bagi saya ialah hal yang sangat pantas untuk diterapkan di berbagai kampus di seluruh Indonesia. Tujuannya agar para mahasiswa tidak terpapar covid-19 ini. Dan melalui pembelajaran daring inilah mahasiswa dapat belajar seperti biasanya dan tidak ketinggalan materi perkuliahan, serta waktu yang lebih fleksibel. Namun dibalik manfaat tersebut, tentunya juga memiliki dampak buruk bagi semua mahasiswa golongan menengah ke bawah. Seperti saya, karena saya merasa rugi jika kuliah daring ini. Kuliah yang dilakukan lewat berbagai aplikasi, seperti WhatsApp, Zoom dan sejenisnya. Kondisi ini membuat saya mau tidak mau terpaksa harus menyediakan kuota. Jika tidak, tentunya saya akan ketinggalan informasi terkait perkuliahan.

Selain kendala pada kuota, kendala jaringan juga jadi berdampak buat saya. Sebab di kampung saya yaitu di Katimahar, Kabupaten Pasaman, susah akan sinyal. Terkadang tugas dikirim lewat email, kuliah lewat WhatsApp bahkan lewat aplikasi Zoom. Membuat saya sedikit kecewa. Bahkan saya pergi naik bukit agar bisa mendapatkan sinyal. Tujuannya, agar saya bisa mengikuti pembelajaran kuliah dengan baik. Selain kendala jaringan, saya dan mahasiswa lainnya juga terkendala dengan ketersediaan perangkat pembelajaran seperti laptop. Tidak semua mahasiswa memiliki laptop. Menurut saya, itu juga kendala. Kurangnya pemahaman saya terhadap materi itu juga kendala. Jauh lebih baik jika melakukan kuliah tatap muka. “Karena apa?”.

Karena banyak sekali materi yang saya rasa penting untuk dijelaskan lewat tatap muka agar materi yang disampaikan lebih jelas. Saya pun mudah memahami kesulitan kuliah daring. Begitu juga dengan beberapa dosen. Ada dosen yang mengatakan bahwa sejatinya materi ini lebih baik  dijelaskan di kelas dengan tatap muka. Berhubung pandemi covid-19, terpaksa materi hanya bisa diberikan lewat grup WhatsApp dan menjelaskan materi tersebut lewat Zoom. Begitulah kira-kira penjelasan beberapa dosen saya melihat semua kendala di atas. Kendala yang menurut saya juga penting ialah kesulitan dalam mencari bahan pembelajaran ketika ada tugas, seperti buku dan sebagainya. Semuanya tinggal di kos. Ini membuat saya kocar-kacir mencari bahan secara digital. Tentunya harus mencari sumber referensi yang terpercaya. Jika tidak, tentunya akan berdampak kepada nilai tugas yang tidak baik.

Selain dampak baik dan buruknya pandemi covid-19 yang saya jelaskan di atas terhadap belajar daring, dampak bahasa juga terjadi di kalangan masyarakat dan mahasiswa sekali pun. Banyaknya istilah-istilah baru yang bermunculan. Seperti,istilah social distancing, dalam bahasa Indonesianya adalah pembatasan sosial. Social distancing ini merupakan satu dari beberapa istilah lainnya yang muncul ketika pandemi covid-19 ini ada. Beberapa istilah tersebut, banyak yang memakai bahasa Indonesia yang seharusnya lebih diperhatikan lagi. Malah seakan diabaikan. Sebab, pandemi covid-19 bukan berasal dari Indonesia, tetapi juga dari seluruh dunia. Dampaknya, banyak yang asal sebut bahasa. Banyak yang asal sebut dan tulis kata tanpa tahu apa makna dan bagimana seharusnya kata dituliskan dan diucapkan secara baik dan benar.

Semoga dengan adanya covid-19 ini, saya bisa lebih baik lagi. Begitu juga dengan masyarakat. Semuanya tentu memiliki hikmah, baik dari permasalahan ekonomi, bahasa, dan permasalahan kuliah daring karena pandemi covid-19 ini,. Hikmahnya alam kini kembali asri, bahkan sampah yang biasanya berserakan di kampus saya, kini tak ada lagi. Saya yakin semua ini telah diatur Allah SWT agar manusia mengambil hikmah dibalik pandemi covid-19 ini.

Comment