Libidosofi Fase Pengingkaran Tuhan

Oleh. M. Yunis

M. Yunis, Dosen Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Andalas

Libidosofi merupakan istilah yang digunakan untuk menyebut anak kandung capaian teknologi kekinian. Capaian ini disinyalir sebagai hasil dari hubungan gelap antara teknologi dan hasrat manusia. Perselingkuhan ini telah membawa dan mengubah tatanan kehidupan sosial masyarakat komunal kita. Masyarakat ini yang dulunya hidup dalam kebersamaan, kini telah tercelup dan terkontaminasi oleh virus globalisasi. Rasa acuh, ketidakpedulian, dan egois antarsesama menjadi strategi baru untuk bertahan di dalam melawan dunia urang.

Hibridisasi terlarang antara teknologi dan hasrat ini pun telah  menjerumuskan kaum intelektual kita pada zona komsumtif. Zona ini yang disebut-sebut sebagai zona kematian kreativitas. Zona ini pula lah yang menjadi pandemi kebodohan dan kini telah menjadi transmisi lokal setelah konspirasi kepentingan menguasainya. Kita sebagai kaum terpelajar telah terseret ke dalam belantara bujuk rayu. Kita yang didoktrin sebagai orang berpendidikan, telah tersesat ke dalam limbah-limbah ketidakpedulian, dan terperosok ke dalam ngangaan jurang wabah kealpaan berjamaah. Kaum intelektual kita lebih sibuk menghitung berapa yang bisa dikumpulkan dari negara. Proyek-proyek yang dapat memperkaya diri kian menjamur hingga ke instansi pendidikan yang kita punya.

Libidosofi merupakan fase ketiga kehadiran tuhan di dunia, adalah ketika sains dan teknologi sepenuhnya bersekutu dengan hasrat, dengan energi libido manusia (Piliang, 2017). Fase ini disebut Piliang di mana teknologi berpihak pada dorongan hasrat manusia, bukan lagi pada kehendak Tuhan. Manusia pada fase ini telah menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhan, dan teknologi digunakan sebagai alat perantara pelepasan rangsangan libido untuk menguasai, terutama untuk menguasai orang lain. Pada akhirnya, Tuhan hanya akan tercatat di dalam artefak arkeologis spiritual yang pernah ada, dan nantinya dapat dijadikan proyek penelitian instansi pendidikan.

Libidosofi merupakan satu satunya fase unggul yang sebelumnya berhasil mengalahkan dua fase pendahulunya, yaitu fase teosofi dan fase teknosofi. Fase teosofi merupakaan fase Tuhan hidup di dunia. Nama-nama tuhan menghiasi wajah-wajah dunia; citra ketuhanan menguasai dunia penampakan, dan representasi Tuhan sekaligus tanda tandanya memenuhi dunia citraan. Piliang menandai fase ini dengan spirit ketuhanan, dimana representasi Tuhan itu sendiri dapat ditemukan pada ornament rumah ibadah, gedung-gedung, kaligrafi, dan kalung. Kemanapun kaki melangkah yang ditemukan hanya jejak-jejak Tuhan, dan kemanapun kita menghapat yang terlihat hanyalah wajah Tuhan yang tersenyum dalam redhoNya. Pada masa spririt ketuhanan ini masyarakat kita belum mengenal istilah kaya-miskin. Pada kondisi ma’rifat ini kita pun belum mengenal arus globalisasi, modern-postmodernisme, berjabat tangan kapitalisme-sosialisme, dan di masa ini kita pun belum melihat oknum yang selalu menadahkan tangan pada negara.

Fase teknosofi dijelaskan oleh Piliang fase di mana manusia melalui kemampuan sains-teknologi, telah mampu menciptakan dunia artifisial. Dunia ini dianggap sebagai substitusi- representasi dari dunia yang telah disediakan oleh Tuhan pada manusia. Pada masa ini, mitologi-mitologi yang tersimpan di dalam arsip lama dapat dijelaskan secara ilmiah. Pada masa ini, cerita-cerita rakyat yang tersebar secara lisan dapat dijelajahi oleh capaian teknologi, matahari dapat dijelaskan orbitnya, bulan dapat dikunjungi dan dipelajari sumber cahayanya. Planet mars yang sekarang sedang dipersiapkan sebagai bumi kedua tempat tinggal manusia. Syetan dan mahluk gaib lainnya pun dapat diburu dan ditangkap dengan kamera. Segala sesuatu yang sebelumnya dianggap suci dan sakral, tak boleh disentuh, kini dapat dihadirkan pada khalayak umum.

Kemajuan teknologi pada fase teknosofi di atas, tergolong sangat mumpuni. Bagaimana tidak, konsep-konsep yang sebelumnya hanya berada dalam imajinasi masyarakat tradisi telah dapat dijamah oleh akal budi, dapat dijelaskan secara rasional, dan dapat didatangi–diraba. Teknologi pada masa ini disebut oleh Piliang telah digunakan sebagai alat untuk membuktikan kekuasaan manusia di dunia, dan bukan lagi sebagai pembuktian kekuasan Tuhan itu sendiri. Semuanya telah menjadi subjek penjelasan ilmiah, bukan lagi sebagai warisan kebenaran sakral dari Tuhan, dan yang tidak dapat diganggu gugat. Di sini, manusia bebas mempertanyakan tentang Tuhan dan malaikatnya. Pada kondisi ini, manusia dapat mengubah fungsi iblis menjadi sosok pahlawan, dan bukan lagi sebagai mahluk durhaka yang pernah terusir dari syurga (The Madness Of God; Shawni, 2003). Para nabi utusan Tuhan pun tidak luput dari gugatan, memutarbalikan fakta dakwah para nabi dengan perang, penjahat kelamin, dan sebagainya.

Pengingkaran Tuhan

Fase libidosofi merupakan kondisi di mana teknologi menjadi alat pengingkaran Tuhan. Teknologi dengan kecepatan dan percepatannya telah mampu menyediakan informasi bebas manifestasi sehingga manusia terserap dan tercelup ke dalam lumpur informasi tersebut. Irama pergantiannnya mewajibkan kita untuk mencernanya tanpa interupsi, jika tidak kita akan tertinggal dan tergilas di dalam irama pergantiannya. Belum selesai satu informasi dan kemudian datang galodo informasi berikutnya yang berlatar belakang dan kepentingan berbeda. Belum selesai satu agenda dan kemudian kita disuguhkan dengan segerobak agenda berikutnya dan kita harus menyelesaikannya. Memang tidak ada larangan untuk menolak, tetapi waktu untuk menolak sudah tidak ada lagi, dan ketiadaan interupsi. Para pedagang disibukan dengan perdebatan dengan pembeli untuk memenuhi kebutuhan makan nanti malam, mahasiswa disibukan SKS dan deretan peraturan yang tidak konsisten, akademisi disibukkan dengan sekumpulan administrasi yang bertubi-tubi; scopus; artikel, politisi dilelahkan oleh anak-anak catur untuk saling menguasai satu sama lain.

Inilah dunia di mana kesadaran, persepsi dan ketaksadaran terserap sepenuhnya ke dalam dunia citra dan objek-objek imanen. Piliang menyebutnya segala sesuatu yang hadir di dalam batas-batas pengalaman manusia tentang mungkin sehingga tidak ada lagi ruang untuk yang transenden (kehadiran yang melampaui batas-batas pengalaman manusia), makna terdalam, kecuali sekedar legalitas formal status yang disandang. Piliang menyebut hal ini sebuah penampakan dunia pascamodern, sebuah dunia yang dikuasai oleh hanya informasi, perayaan kulit luar tanpa kedalaman isi, pemolesan casing ketimbang kebaruan mesin, kuantitas ketimbang kualitas. Penguasaan ruang, penaklukan waktu, mengatasi kecepatan, penciptaan tubuh virtual, dan menyimulasi pikiran ternyata telah mebuat kita merasa mampu menandingi Tuhan.

Kita telah berada di dalam dunia yang telah ditinggalkan Tuhan, dunia telah diambil alih tiga kesaktian, di antaranya kapitalisme (penulis menamainya New Capitalisme), postmodernisme, dan Cyberspace. Tiga ‘’mahluk jadi-jadian’’ ini ini membawa lari dunia dengan sangat cepatnya, kecepatan itu melampaui batas yang tidak dapat dipahami oleh akal manusia, melewati persepsi yang dapat ditangkap indera (bayangkan sedang berada di atas kereta api lisrik dan kepala menoleh ke luar dan berusaha menangkap citra gambar di luar), melewati batas kesenangan yang dapat dirasakan, dan melebihi imajinasi yang dapat dibayangkan. Kita sedang berada pada kondisi ‘mabuk’, ekstasi hasrat berkepanjangan, dan tidak ada interupsi.

Daya kemampuan berlari kencang di atas telah menumbuhkan sifat diri angkuh dan sombong. Akibatnya sang diri tenggelam di dalam di dalam lorong kecepatan bentukan sendiri tak obahnya katak di dalam paralon yang merasa telah jauh berjalan, tetapi masih di dalam paralon. Sang diri telah terjebak di dalam kegilaan perpindahan itu sendiri, dan tanpa tujuan yang pasti kecuali menimbun materi, memperkaya diri.

Persekutuan bebas antara new  capitalism-postmodern-cyberspace ini juga telah melahirkan spirit normal baru (New Normal?) yang diwujudkan dalam ‘spirit dunia’ yang dapat menentukan arah dunia. Spirit ini telah bergerak melampaui Tuhan dengan percepatan yang telah dibentuknya, bergerak semakin menjauh dari ruang dan waktu, tak ada waktu jeda walau untuk istirahat sejenak, sebuah dunia yang tanpa batas. Salah satu produk hasil persekutuan ini disebut infodemic Covid-019 yang telah menentukan kebijakan pemegang tampuk dunia kedepan. Istilah ini adalah istilah yang baru-baru ini dimunculkan oleh Piliang (Kuliah Daring, Dunia yang Dikarantina, Kamis 2 Juli 2020). Produk istilah ini lahir dari mutasi dari pandemi Covid-019 yang sedang mewabah.

Infodemic merupakan informasi baru yang terbentuk, sebagai akibat informasi yang diberikan media massa bisa jadi sama dengan realitas atau berbeda dengan realitas, atau memang tidak ada hubungannya sama sekali dengan realitas. Informasi ini tidak lagi mengkaji hubungan pengirim pesan dengan penerima pesan, tetapi terkait dengan relasi pengirim pesan dengan yang lain, dan juga relasi penerima pesan dengan yang lain. Bisa jadi relasi itu berupa relasi politik, ekonomi, budaya, dan lain sebagainya.

Piliang menjelaskan bahwa spirit kapitalisme ini (new capitalism) dilatari oleh spirit ekonomi yang mengeksplorasi tanpa batas sumber daya (manusia,modal, oraninisme hidup), eksploitasi segala bentuk  kekuatan produksi (termasuk petani), dan pengerahan segala dorongan hasrat (seksual), kekayaan, dan populeritas semata. Spirit postmodernisme ditandai dengan pelanggaran setiap batas, penyangkalan kebenaran tunggal (kebenaran Tuhan) yang dapat ditemukan di dalam agama, ilmu, dan kebudayaan. Pembongkaran terhadap segala oposisi biner, tidak ada lagi maskulin-feminim, pusat-pinggiran, barat-timur, rasional-irasional, estetis-non estetis. Semuanya sama tanpa batas norma, dan ketiadaan tata aturan yang jelas ataupun mengikat, yang nyata hanya perayaan atas perbedaan tersebut dan diwujudkan dalam virtual show. Tidak heran pula jika ada laki-laki menyukai laki-laki, perempuan menyukai perempuan, individu menikahi hologram seperti di Jepang (CNN Indonesia, Senin, 12/11/2018), dan wanita menikahi anjing piaraannya (Tribun-Medan.com, Kamis 01/08/2019).

Spirit cyberspace merupakan penyaluran terhadap segala dorongan kebebasan baik ekspresi, komunikasi, informasi, dan virtualisasi segala bentuk realitas.  Spirit ini sangat digantungkan pada penguasaan teknologi, dan penguasaan informasi. Ketika keduanya disatukan dapat memproduksi informasi baru yang dangkal tanpa makna, justru kedangkalannya ini memudahkannya untuk menipulasi informasi itu sendiri dan pencipta informasi baru dapat menjual kepentingan rakyat di dalam agenda itu, misalnya pengalihmediaan kegiatan ke dalam bentuk virtual dapat memperirit pengeluaran dana, pemadatan waktu dua kegiatan dapat dijalankan dalam satu waktu, melipat jarak, dan mengirit biaya transportasi, tetapi tanpa disadari telah terjadi pelipatan kesadaran itu sendiri.

Ketiga spirit di atas dikatakan Piliang tidak berdiri sendiri, melainkan saling tumpang tindih, saling mengisi, dan bersilangan satu sama lainnya. Menurut penulis, ketiga unsur tersebut realisasinya telah terciduk membentuk persekongkolan baru atas dasar kepentingan spirit ekonomi, dan penulis melihat yang dintungkan tetap kaum kapitalis (New Captalisme). Contoh sederhana dapat kita perhatikan kondisi masyarakat di masa pandemi Covid-019 ini. Pelaku bisnis yang dibekali spirit Cyberspace  (penguasaan teknologi) telah berhasil meraup untung dari praktek bisnis virtualnya. Show virtual yang dilakukannya berhasil membujuk dan memberikan janji kesejahteraan kepada kaum akar rumput. Alhasil, kalangan bawah ini mempercayakan produk-produk diatur oleh kapitalis baru ini. Hal ini dapat disebut sebagai praktik monopoli baru, yang nantinya akan menjadi musuh berbuyutan kaum sosialis baru.

Gambaran di atas memang terlihat seperti jalinan kerumitan yang terkungkung oleh jaringan semiotika laba-laba. Antara satu dengan yang lainnya saling tumpang tindih, berbagi peran-fungsi, dan manfaat. Negara memang tidak absen terhadap fenomena ini, tetapi sebagian oknum pejabatnya justru terlibat jauh memproduksi kepentingan-kepentingan politis melalui kebijakan-kebijakan yang buatnya telah memberi ruang bagi kapitalis baru untuk menggerogoti hak dan memangsa rakyat. Melalui perantara sistem pendidikan formal, seakan telah memaksa kaum intelektual melegalkan apa yang disadarinya sesungguhnya salah secara moral.

 

Comment