Harapan di Pilkada Darmasraya

Dharmasraya, Scientia – Tiga fase diharapkan melahirkan pemimpin yang berkualitas dan ideal untuk Dharmasraya ke depan. Demikian diungkapkan Akedmisi Muda Dodi Widia Nanda (30), yang juga salah satu staf pengajar di perguruan tinggi swasta di Kabupaten Dharmasraya. Menurut Dodi tiga fase tersebut sebelum, saat, dan pasca pilkada. Karena massa waktu ini tidak bisa saling dipisahkan dalam menghadirkan pemimpin berkualitas dan ideal untuk Dharmasraya ke depan.

“fase sebelum dan saat kontestasi serta pascapilkada. Ketiga fase ini akan mempengaruhi arah politik daerah ini”.

Sebelum penentuan kontestan yang berlaga diharapkan masyarakat, tim hoyak, terutama elite berhenti berbicara “nama”. Seharusnya yang dibicarakan terlebih dahulu program yang melekat. Pahami kebutuhan daerah mekar secara komprehensif dahulu. Nah, ketika isu, kebutuhan dan potensi daerah sudah digali. Maka, nama akan muncul dengan sendirinya. Contohnya, saat ini yang dibutuhkan Dharmasraya adalah akselerasi di bidang pendidikan. Potensi ada, namun belum dikembangkan. Maka, sosok yang cocok mengisi ruang itu adalah orang-orang yang punya kapabilitas dan ide di bidang tersebut.

“Pada saat perhelatan berlangsung, jangan sampai isu-isu primordial dan komunal tempo dulu muncul lagi. Rakyat Dharmasraya harus memilih berdasarkan program yang ditawarkan. Bukan sentimen atas persamaan ras, suku, dan lain-lain”, tambah Dodi
.
Sementara itu, untuk para elite dan tokoh-tokoh politik lokal. Jadilah penyejuk dalam kegersangan. Jangan sampai rakyat Dharmasraya yang sebenarnya cinta damai ini, lalu terprovokasi untuk anarkis karena hembusan-hembusan para makelar suara. Para kontestan dan pendukungnya harus bertarung dengan gagasan, bukan dengan hempasan. Apalagi hanya dengan sekedar hempasan uang, maupun kekuatan fisik

Selanjutnya fase pascapilkada justru yang paling krusial untuk masa depan Dharmasraya kedepannya.

“Setelah pilkada, rekonsiliasi semua kalangan yang bertentangan saat kontestasi harus terjadi. Yang menang merangkul, yang kalah tidak merasa tumpul. Semua harus bersatu kembali”, ulas Dodi.

Hal ini dilakukan agar semua ide-ide bagus yang dipertentangkan saat kontestasi dulu, bisa disatukan. Agar kekuatannya makin besar. Agar programnya makin solid dan gemilang. Jangan sampai ada dendam. Jika pertahanan menang, adopsilah setiap program yang dicanangkan penantang. Jika pertahanan tumbang, lanjutkanlah t estafet yang sudah ditanam. Yang belum bagus diperbaiki, yang sudah bagus tetap dilanjutkan. Agar pembangunan Dharmasraya tetap gemilang dan saling berkesinambungan.

Sementara itu, Franky (22) Mahasiswa di salah satu kampus swasta sekaligus ketua IPNU Dharmasraya mewanti-wanti ke masyarakat agar jangan menelan isu-isu mentah-mentah.

“Hal ini menjadi dasar kita memilih pemimpin yang menentukan arah kebijakan 5 tahun mendatang. Kenali calonnya, lihat visi-misinya disana kita tentukan pilihan”, ulasnya

Franky berharap agar politikus tidak memecah bela masayarakat dalam memainkan isu. Seharusnya Pilkada 2015 lalu bisa menjadi pelajaran berharga bagi masyarakat Dharmasraya.

Hal yang sama juga diungkapkan Ade Kurniawan (22) Mahasiswa yang sedang KKN di Dharmasraya. Menurut Ade, Pilkada 2020 akan terlaksana, harapan demi harapan yang ditunggu masyarakat untuk siapa yang akan menjadi komando estafet setelah ini.

“Jangan ada politik uang, saling menjatuhkan dengan menyebarkan aib buruk salah satu pasangan calon, premanisme, pengecualian ras, suku dan budaya dalam pemilihan nanti, berlakulah selayaknya pemimpin yang diidam-idamkan masyarakat”. tambah Ade.

Belajar dari Pilkada periode sebelumnya masih banyaknya yang ambisius dengan menghalalkam segala cara untuk meraih kursi kepemimpinan. Masyarakat butuh sesuatu yang baru yang dapat dihadirkan oleh pemimpin selanjutnya, jangan hanya saling menjatuhkan.

Ade menambahkan, mungkin karena hanya 2 kandidat pasangan calon, jadi yang terpikirkan bukan kemampuan, intelektualnya dan produk yang bisa disampaikan ke masyarakat, tetapi sudah dihantui dengan ambisi menjatuhkan lawan secepat mungkin. Semoga Pilkada 2020 ini dapat memunculkan lebih dari 2 kandidat pasangan calon, biar yang akan memimpin daerahnya nanti, dapat fokus pada tujuannya untuk perubahan di masa yang akan datang.

Selanjutnya Pengurus KNPI Dharmasraya Repli Kadli (31) mengatakan agar Pilkada sebelumnya bisa dijadikan refleksi.

“Yang menjadi cacatan kelam Pilkada tahun 2015 lalu tentang head to head yang menimbulkan konflik antarpendukung dan akan terjadi sekat antaramasyarakat”, ujar Reli.

Dalam Pilkada kali ini diharapkan partai politik bisa menghadirkan 3 pasangan calon. Dengan demikian masyarakat akan lebih menikmati masa kampanye dan tensi politik tidak terlalu tinggi
Sementara itu, salah seorang petani, Uncu (46) berharap agar pemimpin lebih memperhatikan petani dan tidak hanya mengobral janji saja.

Masyarakat hanya berharap agar pemimpin daerah lima tahun mendatang bisa fokus dan lebih merealisasikan program yang sudah diungkapkan ketika kampanye. (Tnl)

Comment