Tradisi Makan Bajamba di Pesisir Minangkabau

Oleh:
M.
Yunis dan Elly Delfia
(Dosen Fakultas Ilmu Budaya Unand)

Kepunahan tradisi di Minangkabau telah diambang batas. Tradisi-tradisi tersebut yang telah dilupakan, bahkan dianggap jauh tertinggal. Sebagian masyarakat menganggap tardisi lama ini  telah dan tidak lagi mampu bersaing dengan kebutuhan zaman. Sebagian lain berpandangan bahwa, praktik tradisi lama dianggap sebuah pekerjaan mubazir dan menambah banyaknya kerugian materi. Ada pula ang menyebut tradisi sebagai kebiasaan masa lampau yang hanya dipakai oleh orang-orang yang terbelakang secara teknologi. Alhasil, tradisi sebagai pengarsipan sistem nilai pupus melaksanakan fungsinya, baik sebagai sebagai pranata sosial maupun sebagai tolak ukur keberhasilan masyarakatnya dalam mengelola hidup.

Pada hakikatnya, tradisi yang dipandang kuno dan ketinggalan zaman sarat dengan nilai pengajaran. Nilai-nilai tersebut sangat berfungsi sebagai pembentukan karakter generasi muda mendatang sehingga generasi muda peka terhadap gejala-gejala yang terjadi di lingkungannya. Bermodalkan sistem nilai yang termaktub di dalam tradisi, generasi muda pun mampu bersaing di tingkat nasional maupun internasional. Di Minangkabau, istilah ini lebih dikenal dengan konsep malawan dunia urang.

(Foto: M.Yunis)

Namun sangat disayangkan sekali, nilai-nilai tradisi secara perlahan mulai hilang beriringan dengan hilangnya tradisi keseharian masyarakat tersebut. Kondisi ini diperparah dengan hadirnya teknologi-teknologi terbaru yang dianggap lebih mampu membantu pencapaian kebutuhan masyarakat. Teknologi baru yang sifatnya simpel, mudah, cepat, dan menghemat waktu lebih menjanjikan ketimbang tardisi lama yang sifatnya lambat. Teknologi yang sering disebut budaya cepat sangat (speed culture) bertolak belakang dengan praktik tradisi lama, masyarakat kekinian menyebutnya slow culture.  Realitasnya antara speed culture dan slow culture  hidup pada zaman yang berbeda, speed culture hidup di zaman kekinian, sedangkan slow culture merajai zaman klasik.

Salah satu tradisi yang hampir punah di Minangkabau ialah makan bajamba. Tradisi ini sebelumnya ada di seluruh pelosok Minangkabau, tetapi kini hanya tersisa pada masyarakat Rantau Minangkabau. Salah satu daerah yang masih mempertahankan tradisi ini ialah Kabupaten Padang Pariaman. Tradisi makan bajamba ini hadir seiring dengan peringatan maulid Nabi Muhammad SAW.

Makan bajamba sebagai praktik tradisi memuat sistem nilai yang dibutuhkan oleh masyarakat. Nilai tersebut di antaranya nilai kesopanan, kesantunan, kedisiplinan, kerja keras, kebersamaan, silaturrahmi, dan nilai lain yang dianggap mampu menopang kehidupan kelak. Ancaman yang nyata terhadap sistem nilai ini, yaitu hilangnya tradisi makan bajamba sebagai sarana yang mewadahi kehadiran nilai tersebut.

Kecemasan di atas cukup beralasan bahwa hilangnya tradisi di dalam masyarakat menyebabkan hilangnya sistem nilai yang dianut oleh masyarakat Minangkabau. Atas dasar ini pula, kajian terhadap praktik tradisi perlu dilakukan dan digali secara ilmiah. Salah satu jalan dengan mendokumentasikannya dalam bentuk tulisan atau laporan penelitian, sehingga dapat digunakan sebagai bahan untuk pengajaran bagi mahasiswa.

Penelitian dan pendokumentasi terhadap makan bejamba perlu dilakukan. Langkah ini sebagai salah satu upaya penyelamatan sistem nilai dan kearifan lokal masyarakat Minangkabau yang terdapat di dalam tradisi makan bajamba. Sistem nilai yang telah didokumentasikan dalam bentuk pendeskripsian dalam laporan dapat dijadikan sebagai sumber atau sebagai bahan pengajaran bagi generasi muda.

Kajian ini juga sangat bermanfaat sebagai bahan skunder di dalam melakukan penelitian lanjutan terhadap tradisi makan bajamba di Minangkabau. Oleh karena itu, kajian yang bersifat dasar ini perlu dilakukan sebagai langkah pertama penyelamatan tradisi di Minangkabau.

Makan Bajamba di Padang Pariaman

Pada masa lalu, tradisi makan bajamba dilaksanakan di seluruh wilayah Pariaman, termasuk kabupaten, Kota Pariaman, dan Kota Padang. Akibat perkembangan teknologi dan pola pikir masyarakat yang sudah mulai berubah. Daerah kota sebagai wilayah percontohan  masyarakatnya telah meninggalkan tradisi ini. Masyarakat kota yang sudah di pengaruhi oleh Muhammadiyah tidak lagi mampu melihat sistem nilai yang terdapat dalam tradisi ini. Oleh karena itu, tradisi ini mulai ditinggalkan. Di samping itu, masyarakat kota menganggap tradisi ini  berbau bi’dah,  dan bertentangan dengan syariat Islam.

Berbeda dengan  kota, masyarakat Kabupaten Padang Pariaman. Salah satu daerah yang masih melaksanakan tradisi makan bajamba ialah Kabupaten Padang Pariaman. Tradisi ini masih dipertahankan sebagai pranata masyarakat Minangkabau pesisir Sumatra. Tradisi ini dilaksanakan seiring dengan memperingati maulid nabi Muhammad SAW.  Secara konsep bajamba merupakan tradisi makan yang dilakukan oleh orang Minangkabau dengan cara duduk bersama-sama dalam suatu ruangan atau tempat yang telah ditentukan (Antara Sumbar, 13 Des 17). Bajamba dilakukan dengan makan sambil basimpuah (bagiperempuan) dan baselo (bagilaki-laki) di lantai dan bukan di atas meja serta juga tidak menggunakan kursi atau sendok.

Di Kabupaten Padang Pariaaman, setiap peringatan hari Maulid Nabi Muhammad SAW diadakan acara makan bajamba. Acara tersebut dilaksanakan di setiap surau dengan waktu yang bergiliran.Kegiatan ini dilakukan untuk meningkatkan silahturahmi antaranggota masyarakat dan juga dapat mempertahankan tradisi,  makanan tradisional, serta menciptakan karakter positif untuk seluruh masyarakat Minangkabau. Sebelum makan bajamba dilaksanakan, terlebih dahulu masyarakat bermusyawarah di surau. Musyawarah ini dilakukan untuk menentukan hari yang tepat untuk pelaksanaan maulid nabi, makan bajamba, dan jumlah sumbangan yang harus dikumpulkan oleh masing-masing individu masyarakat.

1. Minum Kopi

Pada acara maulid nabi di Padang Pariaman, terdapat tradisi makan bajamba yang bentuknya sedikit berbeda. Makan bajamba versi ini disebut minum kopi. Minum kopi dalam artian makan bersama dengan menyediakan makanan-makanan berupa kue-kue, buah-buahan, dan makanan ringan lainnya. Acara ini dilaksanakan pada waktu malam peringatan hari lahirnya Nabi Muhammad SAW. Makananan ini dpersiapkan oleh setiap keluarga yang menjadi anggota dalam masyararakat.

Minum kopi dihidangkan pada masyarakat di dalam acara badikia, yang mana pada malam ini urang siak melantunkan puji-pujian terhadap nabi. Acara ini berakhir menjelang subuh dan ditutup menyemprotkan wewangian pada seluruh peserta yang hadir.

2. Maken

Acara makan bajamba dilaksanakan setelah pembacaan shalawat oleh orang-orang siak yang diundang dari masing-masing daerah atau kampung. Masyarakat pada setiap korong akan memasak lauk-pauk dan nasi yang akan dihidangkan dalam proses makan bajamba di acara Maulid Nabi. Kemudian lauk-pauk yang telah dihidangkan ke dalam beberapa piring disusun  rapi, lalu diikat dengan kain.

Biasanya jamba berisi lauk pauk yang dihidangkan dalam 14-21 piring, sedangkan nasi dibungkus menggunakan daun pisang yang telah disiangi (dibakar), lalu nasi yang telah dibungkus tersebut dimasukkan kedalam tempat yang terbuat dari anyaman lidi kelapa dan ditutup dengan kain (dalamak). Selanjutnya, bungkusan lauk-pauk dan nasi akan dibawa ke surau.

Setelah dibawa (manjunjuang jamba) ke surau, di depan surau akan stay para pemuda setempat yang akan siap sedia membawakan bungkusan jamba ke dalam surau. Kemudian, bungkusan tersebut akan disusun sesuai baris saf salat. Sementara urang siak bershalawat, bungkusan-bungkusan jamba akan terus berdatangan. Apabila semua bungkusan jamba telah datang dan shalawat selesai dikumandangkan, maka seluruh masyarakat terutama urang siak akan disilakan menuju kede panjamba. Urang siak akan disediakan kasur kecil beralaskan tikar  guna tempat duduk saat mereka menikmati hidangan jamba. Sebelum makan bajamba, urang siak akan melantunkan doa-doa. Lalu proses makan bajamba pun sudah bisa dilaksanakan, maksudnya jamba boleh dibuka dan disantap.

Setelah selesai makan, masyarakat yang menghidangkan jamba masing-masing akan membungkus lauk pauk yang tersisa dan memberikannya kepada urang siak, bungkusan lamang juga diberikan. Sehingg aurang siak biasanya membawa banyak bungkusan lamang dan lauk jamba ketika selesai acara. Terdapat bentuk-bentuk acara dalam pelaksanaan makan bajamba Maulid Nabi, semua rangkaian tersebut menjadi turut menjadi proses yang harus di lalui sampai acara berakhir. Rangkaian tersbut ikut mengisi dan meramaikan surau pada saat acara berlangsung.

Pertama, malamang merupakan satu agenda yang dipersiapkan dalam acara maulid nabi di Padang Pariaman. Agenda ini dilaksanakan oleh masing-masing keluarga sebagai anggota kelompok masyarakat. Pelaksanaan agenda ini juga turut mengundang anak minantu  dan besan dari pihak keluarga tersebut. Rentetan cara di mulai dengan mencari talang (bambu tipis) yang khas digunakan oleh masyarakat sebagai sarana memasak lamang.

Prosesnya di mulai dengan melapisi bagian dalam bambu dengan daun pisang, kemudian bambu diisi dengan beras pulut yang sudah dicampur dengan santan kelapa. Setelah ini, lamang diletakan dengan berjejer di depan unggunan api  yang telah disipakan dengan cara melingkar. Proses perapian lamang ini dimulai pada waktu subuh dini hari hingga waktu zuhur. Lamang yang dibuat kemudian dihidangkan sebagai kudapan pada acara pengajian peringatan maulid nabi. Seringkali lamang dihidangkan dengan tapai atau ketan hitam.

Membuat lemang secara beramai-ramai, tentunya akan menambah semangat gotong royong dan kebersamaan. Semua unsur masarakat dilibatkan. Pemuda mencari buluh/bambu untuk cetakan lamang. Kemudian kaum bapak membuat tungku dan mencari kayu bakar, Sedangkan kaum ibu menyiapkan bahan adonan untuk membuat lamang. Sehingga peringatan maulid nabi terasa lebih semarak, ketika semua elemen masyarakat kemudian dengan senang hati mengikuti rangkaian peringatan dan terutama pengajian, untuk memperbaharui keimanan diri masing-masing.

Kedua, dikia/Salawat dulang adalah tradisi dakwah lisan yang berasal dari wilayah pariaman. Sampai saat ini tradisi ini masih sering dilakukan, terutama pada peringatan maulid nabi. Nilai-nilai ke-Islaman yang disampaikan dengan digabungkan dengan dendang (tradisi lokal masyarakat Minangkabau) tentunya akan lebih mudah diterima. Pelaksanaannya pada malam hari sebelum makan bajamba dilaksanakan, semalam suntuk hingga fajar menjelang. Dakwah yang didendangkan biasanya berisi penyampaian panji-panji ke-Islaman. Sesekali ada waktu rehat. Waktu tersebut digunakan untuk makan basamo di surau ataupun pengumpulan dana infaq dan sedekah demi kepentingan umat, misalnya pembangunan masjid secara fisik ataupun mental (pengajian, TPA, dll).

Ketiga, makan basamo di Surau,tradisi unik ini memang sudah jarang ditemukan sejak beberapa tahun belakang. Setiap peringatan Maulid Nabi, jamaah beramai-ramai ke surau mendengar pengajian. Setelah itu, pengajian diakhiri dengan prosesi makan basamo (makan bajamba). Pelaksanaannya pun berbeda-beda. Beberapa daerah ada yang sudah lengkap dengan bawaan rantang berisi nasi dan lauk-pauk. Ada juga yang hanya membawa nasi, sedangkan lauk dimasak bersama-sama oleh para ibu.

Makan Bajamba di Pesisir Selatan

Tradisi makan bajamba tidak hanya dilaksanakan di Kabupaten padang Pariaman, tetapi di Kabupaten Pesisir Selatan. Di sana, juga ditemukan tradisi yang sama. Salah satu daerah yang masih melaksanakan tradisi makan bajamba ialah daerah Lumpo. Berbeda dengan Padang Pariaman, tradisi makan bajamba dilaksanakan pada acara tolak bala. Tolak bala sendiri dilakukan oleh masyarakat sebagai upaya menghindarkan dan melindungi tanaman dari hama, melindungi masyarakat dari bencana, dan lain-lain. Tolak bala secara harfiah merupakan kegiatan berdoa bersama dengan lantunan puji-pujian kepada Allah Yang Maha Kuasa. Acara ini diikuti oleh urang siang beserta masyarakat setempat.

Tradisi makan bajamba merupakan tradisi yang dipraktekan ditemui dalam cara maulid nabi di Padang Pariaman dan  Tolak bala di Pesisir Selatan. Kedua daerah ini melaksanakan tradisi makan bajamba dengan tujuan dan bentuk berbeda. Meskipun begitu, pada tradisi ini mencerminkan kebersamaan, gotong royong dan saling berbagi antara satu sama lain, seperti yang tergambar dalam filosofi hiduik ado agiah baragiah, hiduik indak salang manyalang artinya saat memiliki kelebihan, saling member. Bagi yang tidak memiliki kelebihan, saling pinjam-meminjamkan.

Tradisi makan bajamba juga sarat dengan perekatan silaturrahmi dengan sesama. Saudara-saudara yang tinggal berjauhan dapat berkumpul pada saat tradisi ini berlangsung. Tidak hanya itu, besan dan menantu juga dapat hadir sebagai bagian dari keluarga yang melaksanakan tradisi ini.

Khususnya bagi di daerah Padang Pariaman, tradisi ini juga digunakan sebagai ajang pengumpulan sumbangan pembangan surau sebagai sarana ibadah. Setiap surau dapat mengumpulkan sumbangan pembangunan hingga berkisar Rp 80.000.000,00 untuk masing-masing surau yang melaksanakan tradisi ini.

 

Comment