Serumit Nayya

Cerpen : Condra Antoni

 

From: Garuh
To: “Nayya”
Date:  Sat, Feb 16, 2019 at 7:18 PM
Subject:  Apa Kabar

Hai Nayya. Apa kabarmu tujuh tahun belakangan ini? Semoga kamu bahagia dengan hidupmu. Dengan lelaki yang kau pilih setelah menolakku untuk datang kembali. Ya, seperti katamu dulu, akulah lelaki yang menjadi tumbal pikiran-pikirannya. Akulah lelaki yang menghilang dari rerimbun kenyataan di sekitarnya.  Lelaki yang mengatakan padamu betapa perasaanku berbulan-bulan terganggu sejak pertama kali mengenalmu. Lelaki yang pada akhirnya mampu mencuri hati dan rasa yang kaupunya. Maaf, maksudku pernah, bukan mampu.  Atau pernah mampu? Ah, apa pun itu.

Cinta dan pikiran-pikiran seperti yang kupunya menurutmu kurang dari cukup untuk sebuah masa depan yang diinginkan seorang perempuan.

Aku tidak akan pernah lupa rasa sakit yang kualami. Sakit bukan karena dipisahkan olehmu. Sakit karena telah mengatakan bahwa kita sebaiknya tidak melanjutkan perasaan ini menjadi bentuk sebuah hubungan. Berhari-hari setelah itu aku seperti menjadi lelaki yang ditinggal tak pernah kembali kekasihnya. Bukan karena maut, tapi karena direnggutnya dari dirinya sendiri lalu dibiarkannya terbang bebas mencari bawah langit mana yang ia sukai. Lalu aku menyesal dan ingin membawa kembali ke sangkar hatiku. Namun kau adalah burung terbang yang tidak ingin singgah kedua kalinya di sangkar yang kupunya. Aku tahu kamu sama terlukanya denganku. Bedanya, kamu terluka karena aku, sedangkan aku terluka karena aku iris sendiri. Setelah aku buat kamu memiliki perasaan sama seperti yang kupunya, lalu aku tinggalkan dengan alasan yang kumengerti beberapa tahun berikutnya. Sangat sederhana.

Ya, aku tidak akan pernah lupa. Aku ingin menata cinta seperti menata buku-buku di ruang bacaku. Saat aku tahu cinta itu tidak bisa ditata, aku menyerah dan memutuskan untuk meninggalkanmu. Apakah kamu mengerti? Tentu saja tidak karena di taman pikiranku hanya aku yang bermain sendiri. Kau adalah makhluk alam nyata apa adanya yang tidak akan pernah menemukan jalan ke taman itu.

Saat kau menitip pesan bahwa kau akan menikah. Ah, langitku runtuh. Ya, langit yang kuciptakan. K sangka kokoh. Ia memang kokoh pada awalnya. Namun ia tak akan sanggup menanggung beban kalau setiap saat harus dihujani berat penyesalan, keraguan, dan hasrat ingin kembali setelah menyakiti.

Aku mengirim ini bukan untuk mengganggu kebahagiaanmu. Aku hanya ingin menyampaikan bahwa kenangan itu masih ada di pikiranku. Aku tahu bahwa kita sudah sama-sama lebih sempurna sebagai manusia. Aku sebagai suami. Kau sebagai istri. Sungguh, aku hanya ingin kau tahu. Sama seperti dulu ketika aku ingin kau tahu bahwa aku memendam rasa yang menggebu tentang kekaguman padamu. Bedanya, sekali lagi, aku tidak ingin mengganggu kebahagiaanmu. Semoga setelah ini kusampaikan padamu aku tidak lagi dikerumuni kenangan itu. Saat ini, aku sudah memiliki dua jagoan yang sangat lucu. Aku dengar dari salah satu teman kita bahwa kamu baru saja melahirkan anak keduamu. Selamat.

From:  “Nayya”
To: Me
Date:  Sun, Feb 17, 2020 at 8:24 PM
Subject:  Re:

Hai Garuh,

Aku sudah membaca pesanmu yang pernah kau kirim untuk Nayya. Aku bisa membayangkan betapa susahnya melupakan orang yang kita sayangi. Ternyata pernikahan bukanlah penghapus kenangan yang baik ya. Aku mengerti pernikahan tentu saja tidak akan pernah mampu menghapus ingatan masa lalu. Sebab ingatan adalah pengalaman abadi yang tersimpan di sel-sel syaraf otak kita, sedangkan kenangan adalah sebuah peristiwa yang melibatkan perasaan-perasaan tertentu. Dan kamu adalah lelaki yang masih berada dalam kenangan itu. Selama lima tahun ini, aku menemani tidurmu dan kenangan-kenanganmu serta rasa sayang yang kau simpan untuk Nayyamu. Aku yakin sampai saat ini kenangan dan rasa itu tetap ada. Aku tidak percaya kenangan itu akan selesai walaupun kau telah mengirim e-mail setahun yang lalu untuk Nayyamu. Bagaimana bisa e-mail mengirim pesan sekaligus rasa sayangmu pada si penerima? Lalu, kau tidak lagi punya rasa itu?

Padahal, bukankah dulu aku berkali-kali bertanya apakah aku perempuan yang benar-benar ingin kau pilih untuk kaunikahi? Tidak ada yang memaksamu untuk menikahiku bukan?

Salam,

Dari istrimu yang merelakan kepergianmu yang lama ke lain benua lalu bersedia membesarkan sendiri dua lelaki kecilmu.

Ternyata e-mail-ku setahun yang lalu dibalas oleh Nayya yang lain. Bukan Nayya yang kukenal dulu. Hanya saja ia memakai nama Nayya, tapi dengan alamat e-mail yang berbeda dari Nayya yang kumaksudkan.

Istriku  tidak sengaja membaca e-mail-ku yang kukirim setahun yang lalu. Aku memang yang meminta dia membuka e-mail-ku, karena aku butuh bantuan dia mengirimkan beberapa dokumen ke sponsor beasiswaku. Aku pernah men-scan dan menyimpan dokumen itu di email-ku sendiri. Aku minta dia membuka email-ku dan mem-forward dokumen itu ke sponsor. Sebab hari itu aku sedang ujian akhir semester tiga. Entah karena apa beberapa hari terakhir aku selalu lupa mem-forward email itu. Aku ingat ketika di bus menuju kampus untuk ujian. Aku khawatir akan lupa lagi. Lalu aku pikir, daripada lupa terus lebih baik kuminta dia untuk mengirimnya melalui email-ku. Ku kirimkan password email-ku melalui whatsapp.

Sepertinya ketika dia mencari dokumen yang kumaksud di folder sent, ia melihat e-mail-ku yang pernah kukirim untuk Nayya setahun yang lalu. Memang dokumen hasil scan itu juga sudah hampir setahun. Lalu, ia membalas dengan memakai nama Nayya. Padahal, e-mail yang kukirim itu tidak pernah dibalas oleh Nayya yang sesungguhnya. Wajar saja bukan? Ketika seorang perempuan baik-baik dengan suami baik-baik lalu mendapat e-mail seperti yang kukirim itu? Tidak membalasnya barangkali langkah yang paling bijak yang dipikirkan oleh Nayya. Hanya saja aku tidak menghapus email-ku ke Nayya. Kekeliruan terbesarku. Seandainya dibalas Nayya tentunya akan kuhapus supaya istriku tidak bisa melacaknya. Namun benar-benar tidak aku sadari bahwa e-mail itu akan tetap tersimpan di folder sent e-mail-ku, bahkan saat aku meminta istriku untuk membuka e-mail-ku, aku tidak pernah terpikir bahwa dia akan membaca e-mail-ku untuk Nayya.

Lalu, aku benar-benar kehabisan kata ketika membaca e-mail yang dibalas istriku sendiri.  Lima tahun pernikahan kami tidak pernah dilalui dengan hal yang serumit ini. Kami terbiasa dengan tantangan hidup, tapi tidak dengan tantangan perasaan masa lalu yang kusembunyikan lalu tersingkap tanpa pernah diduga. Setelah e-mail itu, istriku tidak lagi menanyakan kabar. Sesuatu yang tidak pernah lupa ia tanyakan setiap harinya. Biasanya ketika pagi aku mengaktifkan handphone-ku, di pagi hari waktu Eropa dan sore hari waktu Indonesia, selalu ada pesan.

“Ayah baik-baik saja di sana kan? Bunda dan anak-anak selalu mendoakan Ayah supaya sehat dan semangat belajar”

Di hari yang lain, istriku berkali-kali mengingatkanku.

“Ayah tidak perlu memikirkan keadaan kami ya. Kami di sini sehat-sehat dan baik. Yang penting Ayah sehat dan semangat belajar.”

Sejak e-mail itu, semuanya berubah. Istriku tidak pernah bertanya tentangku dan berberita tentang hari-harinya. Aku yang selalu bertanya tentang bagaimana keadaannya dan anak-anak. Setiap pesan yang kukirim dijawab dengan satu kata. Kadang ok. Kadang sehat. Di lain waktu, baik. Ketika aku menuliskan permintaan maaf, baik melalui e-mail maupun melalui pesan WhatsApp, dia tidak pernah menjawab. Ketika aku ingin menyampaikan permintaan maaf melalui video call, dia tidak mengangkat telepon dariku. Ketika kutanya kenapa? Dia jawab, handphone dipakai anak-anak main Youtube.

Suatu ketika aku tahu anak tertuaku masuk rumah sakit karena gejala tifus dan radang tenggorokan. Aku tahu dari status Facebook Andi, adik iparku yang menulis semoga ponakanku cepat sembuh dan bisa pulang ke rumah segera. Barangkali ia tidak tahu kalau istriku sudah lama tidak berbagi kabar denganku. Barangkali, istriku tetap tidak akan berkabar walaupun anakku dalam kondisi sakit. Barangkali istriku juga lupa memberitahunya untuk tidak meng-update status karena hanya berpikir bagaimana anak tertuaku bisa sembuh dari sakitnya.

Aku terkejut. Aku telepon istriku. Aku melihat status itu jam tujuh malam. Berarti sekitar jam satu malam waktu Indonesia. Aku benar-benar khawatir dengan anakku. Aku marah pada istriku yang tidak memberitahuku. Aku begitu jengkel. Aku ungkapkan marah dan jengkel itu pada istriku. Dia menangis.

“Bunda tidak ingin membuat Ayah khawatir. Bunda masih bisa kok. Tadi juga Andi datang ke sini” Katanya. Datar. Mungkin menyimpan sedih atau marah. Mungkin juga keduanya.

Aku tanya posisinya di mana. Katanya ia masih di rumah sakit sambil menggendong anakku yang kedua yang juga rewel tidak bisa tidur. Barangkali ia tidak nyaman karena ia tidur bukan di kamarnya. Ya, anak keduaku itu selalu sulit tidur kalau bukan di kamarnya.

***

Ah Nayya,

Perempuan masa lalu yang membuat aku tidak mampu menerima keberadaan perasaan.

Ah, istriku.

Rumit, itulah kesan pertamamu ketika pertama kali kita dulu berurai papar tentang hidup yang akan kita jalani. Memang aku kau temukan dalam diri yang rumit. Seorang lelaki yang memandang dunia penuh ketidakadilan dari kacamata idealisme yang kaku. Seorang lelaki yang meneruka ladang kata ketika rapuh hati datang ketika rendah diri menyambangi.

Lalu, akhirnya kita menikah dengan alasan sederhana. Sesama penyuka kedai kopi dan penikmat film-film Hollywood terbaru di bioskop. Namun kemudian kau tidak sesederhana itu. Kaulah perempuan yang menjadikan aku lelaki yang paling sempurna di matanya. Kau punya alasan untuk tidak membuat aku sempurna. Pekerjaan dan penghasilanmu yang lebih dariku, dilihat dari segenap sisinya. Ditambah kepergianku meninggalkanmu untuk melanjutkan studi dengan dua lelaki kecil kita dalam waktu yang tidak sebentar dan jarak yang lebih dari satu hari perjalanan udara.

Meninggalkanmu dalam jarak 17 jam penerbangan dan dalam waktu yang lama adalah sebuah keputusan yang hanya akan disetujui oleh istri, ibu, dan perempuan luar biasa sepertimu. Sudah tiga semester kita jalani. Selama itu pula aku tidak pernah pulang.

Kaulah perempuan yang ketika aku lupa tanggal pernikahan kita, padahal sudah tahun keempat, aku tidak menangkap marah yang sama ketika hal itu terjadi pada tahun pertama kita. Kata maaf cukup bagimu pendamai hati.

Kaulah perempuan yang senantiasa mengingatkanku untuk berbakti pada kedua ibuku. Mengajarkanku untuk senantiasa menyenangi berbagi pada orang-orang yang membutuhkan, baik ketika cukup maupun ketika dirasa belum cukup. Dalam diam, tanpa harus berkoar-koar di status Facebook, dirimu menunjukkan betapa utuhnya keyakinanmu akan kekuatan memberi. Lalu, semuanya berubah rumit. Serumit  pikiran dan perasaanku kini. Kenangan masa lalu yang tetap ada yang selama ini kusimpan rapat namun tidak lagi begitu pada akhirnya. Kenangan yang membuat aku kehilangan pertanyaan-pertanyaan tentang kabar dan ucapan-ucapan doa darimu.

Setahun lebih kita terpisah jarak. Aku hidup sendiri di benua biru ini. Barangkali, rasa sepi sendiri itu juga yang membuat aku berpikir setahun yang lalu mengirimkan e-mail kepada Nayya. Ah, sepi yang kusesali tidak mampu kugenapi dengan rasa setia.

Pagi ini adalah pagi dengan rumit yang lain. Kamu mengirim pesan melalui WhatsApp.

“Selesai ujian ini tolong diusahakan pulang. Libur kuliah kan satu bulan lebih? Kalau tidak cukup uang untuk tiket pesawat, biar dikirim dari Indonesia. Paling tiga hari saja kok.  Itupun paling lama. Banyak juga orang yang bisa selesai lebih cepat.”

Saarbrucken, Jerman, February 2013-Batam, Mei, 2020

 

 

 

Comment