Hiperrealitas: COVID-019 dan Recyled Signs Sunda Empire

Oleh: M. Yunis
Dosen Sastra Indonesia,
Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Andalas

Desember 2019, Kota Wuhan, Cina terjangkit virus baru. Kota tersebut dikunci (lockdown). Virus dikabarkan berasal dari pasar tradisional yang menjual daging liar di salah satu sudut Kota Wuhan. Sebagian orang Indonesia mencemooh atas kasus yang menimpa Wuhan. Ada yang menganggap ini azab karena ketidakadilan pemerintah Cina terhadap Etnis Uyghur dan ini hari pembalasan. Di Indonesia, banyak orang bersyukur atas kejadian yang menimpa Wuhan. Mereka yakin bahwa virus tersebut adalah mahkluk Tuhan yang sengaja dikirim sebagai azab untuk orang-orang yang sombong.

Berselang beberapa waktu, media menayangkan korban berjatuhan dan bergelimpangan di jalan-jalan Kota Wuhan. Tenaga medis meraung dan sebagian jadi korban keganasan virus baru ini. Atas kejadian itu, pemerintah Cina segera mengambil antisipasi dengan membangun rumah sakit dalam waktu singkat. Kemudian banyak yang bertanya-tanya ada apa dengan virus tersebut? Kenapa pemerintah Cina sangat serius menanggapi virus itu? Sebagai wujud perhatian negara sahabat, Indonesia sendiri mengekspor kebutuhan tenaga medis ke negara Cina, karena Indonesia dianggap negara yang aman dari ancaman virus dari Wuhan.

Kompas, 27 Februari 2020 memberitakan bahwa virus baru itu telah menyeberang ke 44 negara. Di saat korona menurun di Cina,  malahan di Italia dan Korea Selatan kasus ini melonjak drastis. Rincian negara yang terjangkit virus ini menurut Kompas di antaranya: Korea Selatan, Italia, Jepang, Iran, Singapura, Amerika Serikat, Thailand, Bahrain, Taiwan, Australia, Malaysia, Jerman, Perancis, Vietnam, Spanyol, UEA, Inggris, Kanada, Irak, Oman, Filipina, Kroasia, India, Israel, Rusia, Lebanon, Finlandia, Swedia, Pakistan, Austria, Afghaanistan, Nepal, Kamboja, Norwegia, Aljazair, Belgia, Georgia, Macedonia Utara, Swiss, Brazil, Mesir, Yunani, dan Sri Lanka. Negara-negara yang terjangkit meniru langkah Cina untuk melindungi negaranya dengan lockdown ataupun pembatasan untuk memutus rantai penyebaran korona. Warga dilarang keluar rumah dan slogan bekerja di rumah pun menggema ke seluruh pelosok. Sistem di negara-negara terjangkit rusak dan amburadul ditaklukkan oleh musuh yang tidak terlihat. Agenda-agenda politik berubah haluan seketika. Pemilu-pemilu ditangguhkan dalam jangka waktu tak tentu.

Word Health Organitation memberi nama memberi nama virus ini severe acute respiratory syndrome coronavirus-2 (SARS-Cov2) dan nama penyakitnya disebut Coronavirus desease 2019 (Covid-019) (WHO, dalam Yuliana, 2020). Pada mulanya transmisi virus ini belum dapat ditentukan apakah dapat menyebar dari manusia ke manusia atau tidak. Dalam waktu yang singkat, terbukti salah satu pasien menginveksi 15 orang petugas medis dan pasien tersebut dicurigai sebagai ‘’super spreader’’ (Yuliana, 2020). Pada akhirnya disimpulkan bahawa transmisi pneumonia ini dapat menular dari manusia ke manusia (Ramlam dalam Yuliana, 2020).

Awalnya, masyarakat Indonesia yakin bahwa negara ini aman dari virus. Indonesia negara beriklim tropis dan tidak terjamah oleh virus. Katanya korona takut sinar matahari. Jadi, segala kegiatan tetap diperbolehkan dan transportasi berjalan seperti biasa. Masyarakat masih santai dan enjoy sambil menonton dan membaca berita keganasan korona, sesekali mengutuk dengan sumpah serapah pada Wuhan, Cina. Di sisi lain, WHO sebagai organisasi kesehatan dunia mulai bertanya-tanya, ada apa dengan Indonesia? Pemerintah Indonesia tetap bersikukuh bahwa Indonesia bebas dari korona, tapi WHO tidak yakin dengan kegigihan pemerintah mempertahankan status ini. Banyak yang meramalkan Indonesia tidak siap dengan ancaman baru ini. Ada juga yang berpendapat bahwa Indonesia menyembunyikan fakta dan tidak memiliki alat untuk mendeteksi virus.

Senin, 2 Maret 2020, Kompas memberitakan bahwa terdapat dua warga Depok yang positif korona. Kasus ini diumumkan langsung oleh Presiden Jokowi. Semua terkejut mendengar berita ini. Ada yang percaya dan sebagian mengatakan hanya ikut-kutan trend untuk mengalihkan isu pemindahan ibu kota baru. Semua orang berharap bahwa kasus tersebut hanya berhenti hingga Depok, tetapi harapan itu tidak terkabul. Semakin hari kasus warga yang positif makin bertambah dan menjalar ke seluruh pelosok Indonesia. Masyarakat kalang kabut. Negara tidak siap menghadapi ancaman virus baru ini. Pada setiap provinsi di Indonesia, diberlakukan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), termasuk di Sumatera Barat. PSBB tahap pertama dimulai 22 April 2020—5 Mei 2020,  tahap 2 dimulai pada 6 Mei sampai 29 Mei 2020, dan tahap 3 diperpanjang hingga 7 Juni 2020.

Terdapat hal-hal yang menarik selama PSBB. Masyarakat merasa terpenjara, didoktrin perasaan was-was, dan terancam di dalam ketakukan. Mereka tidak bisa berbuat apa-apa, selain menunggu datangnya penyelamat vaksin-virus. Perekonomian hancur berantakan dikekang oleh pembatasan. Sebagian ada yang patuh dan sebagian lagi ada yang melanggar dengan alasan mencari makan. Kondisi tidak terbayangkan telah terjadi. Silaturrahmi terpaksa dipadatkan dalam ruang virtual. Praktik jual beli berpindah pada online yang hanya dikuasai oleh orang-orang melek teknologi. Kapitalisme baru ini (New Kapitalisme) memporak-porandakan pedagang kecil, dan menghabisi warung-warung kecil tetangga. Hal ini menjadi bukti bahwa wabah Covid-019 telah merusak tatanan sosial dan moral masyarakat.

Pada masa kondisi yang diduga paceklik, masyarakat pun protes. Masyarakat marah dan kecewa, bantuan tidak tepat sasaran, dampaknya warga berbondong-bondong mendatangi kantor wali nagari. Warga mengaku tidak terdata dalam penerima bantuan. Peristiwa itu terjadi di Tanjuang Bingkuang, Solok, Sumatera Barat seperti yang diberikan beritaminang.com tanggal 16 Mei 2020. Warga beramai-ramai mendatangi kantor wali nagari Tanjung Bingkuang dikarenakan bantuan tidak merata. Kasus selanjutnya terjadi di Kabupaten Padang Pariaman. Posmetropadang.co.id memberitakan tanggal 19 Mei 2020 bahwa masyarakat merasa pembagian Bantuan Langsung Tunai (BLT) Covid-19 tidak tepat sasaran dan tidak merata. Ratusan warga Nagari Katapiang, Kecamatan Batang Anai, Kabupaten Padang Pariaman melakukan aksi demo di kantor Wali Nagari Katapiang. Lalu, warga menyegel Kantor Wali Nagari Lengayang, di Pesisir Selatan. Covesia.com 09 Mei 2020 memberitakan bahwa penyegelan kantor wali nagari dilakukan karena bantuan yang disalurkan tidak merata dan tidak adil. Kasus serupa terjadi kantor wali nagari di Punggasan Pesisir Selatan. Cnnindonesia.com, 20 Mei 2010 memberitakan bahwa delapan ibu-ibu mendatangi ke kantor wali nagari karena tidak mendapat BLT. Berdasarkan catatan warga yang protes tidak termasuak dalam kategori penerima BLT, warga tersebut tidak terima dan merusak kantor wali nagari. Warga yang tetap menuntut dan semuanya berhak atas BLT, baik miskin maupun kaya. Penjelasan ini cukup menggambarkan, betapa rusaknya moral masyarakat. Di saat bantuan disalurkan kepada masyarakat miskin, semua orang mengaku miskin dan berhak mendapatkan bantuan. Hal ini juga diperparah oleh pejabat di daerah tidak bisa berlaku adil dan di dalam penyaluran bantuan lebih mengutamakan keluarga dekat. Sebuah gambaran yang sangat menyedihkan, kehilangan jati diri, dan tercerabut dari rasa malu sebagai masyarakat yang berbudaya.

Pasca-diberlakukannya PSBB Sumatera Barat, New Normal dianggap ancaman baru berupa pukulan psikologis baru bagi masyarakat. Banyak orang yang tidak dan belum siap berhadapan dengan situasi ini. Bagaimana tidak, New Normal yang disebut-sebut sebagai penyelamat perekonomian masyarakat menjadi trending topik sebagai momok yang menakutkan. Muncul praanggapan bahwa ancaman bahaya terbuka lebar di depan mata. Kecemasan ini cukup beralasan. Setelah New Normal berlaku pada hari Selasa, 9 Juni 2020 terjadi penambahan positif Covid-019 di Sumbar sebanyak 18 orang. Hal ini diperparah oleh realitas di lapangan. Tidak ada pengawalan ketat terhadap masyarakat, toko-toko kembali dibuka, dan tempat wisata kembali didatangi oleh wisatawan.

Sumatera Barat yang notabenenya wilayah kesatuan adat Minangkabau seharusnya mampu menjadi modal lokal sebab kebudayaan Minangkabau memiliki nilai-nilai filosofi adat dan budaya yang dapat menjadi alternatif dalam penanggulangan bencana. Kebudayan Minangakabau sesungguhnya telah banyak memiliki prestasi di zamannya. Budaya ini berfungsi sebagai kendaraan imanen dalam menghadirkan kesadaran nilai dan mediasi spiritual. Piliang menyebutnya sebagai perantara antara Tuhan dengan manusia, sehingga relasi dengan transenden dapat dibangun dan diperkukuh (2011: xxv). Lebih jauh, keterbangunan hubungan ini tidak hanya antara Tuhan dan manusia, tetapi juga dengan alam semesta sebagai tempat bernaung. Alam memberikan tanda-tanda pada manusia agar manusia tetap berpikir sebelum bertindak. Lingkungan memberikan pengajaran dalam arti lain disebut pengalaman yang berguna sebagai pedoman hidup selanjutnya. Kerbau pun tidak mau jatuh ke lubang untuk kedua kalinya, apalagi seorang manusia yang dibekali akal budi.

Realitas yang terjadi, waktu tidak dapat dihentikan. Kehidupan harus terus berjalan. Masyarakat Minangkabau yang memiliki latar belakang adat dan akar budaya yang kuat sebagaimana tercermin dalam filosofi adatnya, ‘’indak kayu janjang dikapiang, indak rotan aka pun jadi, malu alun kababagi’’ sesungguhnya telah mengajarkan generasi untuk menghadapi situasi sulit seperti saat ini. Pada masa lalu, masyarakat Minangkabau memiliki rangkiang, yang merupakan tempat penyimpanan hasil panen saat dihadapkan dengan situasi paceklik. Hanya saja sebagian masyarakat telah lupa dengan filosofi adatnya yang kuat. Sejarah telah mencatat bahwa banyak tokoh-tokoh nasional yang muncul dari kebudayaan Minangkabau. Sebagai produk kebudayaan Minangkabau, tokoh-tokoh tersebut telah banyak memberikan sumbangan bagi pendirian dan kemajuan bangsa ini, seperti Tan Malaka, M.Hatta, Syahrir, M. Yamin, dan H.Agus Salim.

Recyled Signs Sunda Empire

Rangga Sasana petinggi Sunda Empire agaknya memiliki pengetahuan sendiri tentang kondisi bumi. Rusaknya sistem negara negara di dunia seakan menjelma menjadi hiper –sign, yang mana telah memproduksi tanda baru yang dipernah dipromosikan oleh Piliang. Tanda ini dikenal sebagai tanda daur ulang (Recyled Signs).Tanda yang digunakan untuk menjelaskan peristiwa-peristiwa masa lalu dengan konteks ruang, waktu, dan tempatnya yang khas. Tanda ini digunakan untuk menjelaskan peristiwa masa kini yang sesungguhnya berbeda sama sekali. Pada hakikatnya, Rangga Sasana memiliki kemampuan daur ulang dari fakta-fakta yang terjadi di dunia kekinian. Fakta pertarungan dua ekonomi besar antara Amerika dengan Cina telah membuka ancaman perang dagang di antara keduanya. Pengembangan senjata-senjata nuklir oleh negara-negara adidaya tentunya dapat merusak sistem ekologi alam. Tidak tertutup pula kemungkinan bahwa Covid-019 jelmaan produk baru dari pertarungan negara berekonomi besar tersebut.

Analasis di atas telah membentuk kesimpulan baru bahwa kemunculan Covid-019 proyek dari konspirasi. Hal ini pernah diungkap Siti Fadilah Supari, dokter jantung dan mantan Menteri Kesehatan era SBY. Detik.com memberitakan 22 Mei 2020, Siti Fadilah berterus-terang tentang flu burung yang pernah viral Desember 1997 yang lalu. Menurutnya, flu burung tidak menular sehingga ia melayangkan protes pada PBB. Siti Fadilah Supari berhasil menghentikan pandemic flu burung dengan politik dan bukan dengan vaksin. Kasus serupa juga terjadi pada kasus pandemi Covid-019. Bill Gates seorang ahli komputer dengan lugas menyatakan bahwa akan terjadi pandemi virus korona. Penyataan ini dikeluarkan Bill Gates tahun 2015 (bbc.com, 19 Maret 2015). Ahli komputer ini pun telah menyiapkan vaksinnya. Memang aneh, sosok Bill Gates bukan dukun. Peramal tidak. Sufi juga tidak, tetapi hanya seorang ahli komputer yang memprediksi kemunculan virus baru. Vaksin ini tentunya akan dipasarkan pada seluruh negara yang terdampak covid-019 termasuk Indonesia. Namun, Siti Fadillah Supari membantah bahwa sampel virus di masing-masing negara terdampak akan berbeda. Artinya, sangat tidak mungkin vaksin virus yang dibuat dengan sampel virus di Amerika dapat digunakan di Indonesia sebagai vaksin. Virus di Indonesia hanya dapat takluk oleh vaksin virus yang dibuat dari sampel virus Indonesia.

Realitasnya sampai sekarang belum dilakukan keseriusan untuk menghadapi wabah Covid-019, termasuk membuat vaksin sendiri. Sebagian masih sibuk menghitung data pasien Covid-019. Kita masih percaya bahwa sesuatu yang datang dari luar lebih unggul. Kenyataannnya kita belum mampu berdiri di atas kaki sendiri. Kondisi ini disebut oleh Piliang sebagai masyarakat yang tercerabut dan tercelup. Hal ini tidak hanya disebabkan oleh dampak Covid-019, tetapi juga dampak dari kehidupan hiperrealitas masyarakat yang terlalu lama memanjakan diri dengan segala hal yang serba instan. Kondisi ini membentuk masyarakat komunal meninggalkan kearifan budaya lokal yang dimilikinya. Sebagian masyarakat menyebut dirinya masyarakat modern dan mengklaim bahwa tradisi masyarakat perkampungan tidak sesuai lagi dengan kebutuhan zaman. Pandangan-pandangan yang merendahkan semakin menjamur di dinding-dinding media sosial seperti yang dilakukan Ade Armando baru-baru ini. Inilah sebuah gambaran dunia yang dilipat. Seumpama melipat sehelas kertas hingga ke titik di mana kertas tidak bisa dilipat lagi (Piliang, 2010:37-64).

Penjelasan di atas seakan-akan telah menggambarkan terjadi perlipatan kesadaran. Informasi dianggap hidup tak ubahnya seperti manusia. Padahal awalnya, informasi digunakan oleh manusia untuk kepentingannya, tetapi yang terjadi malah sebaliknya. Di dunia kekinian, manusia sedang dimanfaatkan oleh informasi. Akibatnya, individu maupun masyarakat yang mengakui dirinya maju tidak mampu lagi melihat sistem kearifan budaya. Mereka tidak pernah tahu bahwa tradisi yang dijunjung tinggi oleh masyarakat perkampungan berisi ilmu pengetahuan yang belum pernah digali oleh masyarakat kekinian. Kecemasan ini juga pernah diungkap oleh Piliang (2017: 28—54) bahwa manusia sudah memasuki sebuah fase yang disebut dengan libidosofi di mana dunia telah dikuasai sepenuhnya oleh ide, gagasan, citra, dan objek yang merupakan refleksi dari hasrat-hasrat manusia. Hasrat mengalir tanpa batas sehingga sampai pada suatu titik di mana manusia merasa tidak memerlukan lagi kehadiran Tuhan. Fase ini sangat berbahaya bagi keberadaan kebudayaan tradisional. Tuhan tidak lagi diperlukan apalagi sistem nilai yang terkandung dibalik kebudayaan.Tuhan-Tuhan baru berbentuk virus akan menjadi pengendali kesungguhan realitas.

 

 

 

Comment