MLI Komisariat Unand Sukses Gelar Simposium Dinamika Bahasa di Era 4.0

Keynote speaker, Dr. Tri Mastoyo Jati Kusuma,M.Hum., sedang memaparkan materi via link Zoom

Padang, Scientia–Masyarakat Linguistik Indonesia (MLI) Komisariat Unand mengadakan Simposium Nasional secara virtual pada Kamis, 25 Juni 2020. Kegiatan ini dilakukan dengan aplikasi Zoom dan disiarkan secara langsung via YouTube.

Simposium Nasional ini dibuka langsung oleh Rektor Unand dan dihadiri Wakil Dekan I, Kaprodi S2 Linguistik, dosen, mahasiswa FIB Unand, anggota MLI dari Cabang Bali, Batam, Lampung, dan dari beberapa daerah lainnya. Kegiatan yang diketuai Rona Almos, M.Hum. dan dimoderatori oleh Dr. Ike Revita, M.Hum. menghadirkan Keynote Speaker, Dr. Tri Mastoyo Jati Kusuma, M.Hum.

Beliau merupakan Dosen FIB UGM, Ketua MLI Cabang UGM, serta Ketua Program Studi Budaya dan Bahasa Korea UGM.
Prof. Dr. Yuliandri, S.H., M.H., Rektor Universitas Andalas dalam pembukaan acara simposium menyampaikan bahwa persoalan linguistik adalah satu hal yang secara prinsip dimiliki oleh semua orang.

Hal ini juga cenderung melakukan perubahan. Perubahan tersebut adalah hal yang wajar. Namun, perubahan lingustik harus tetap tunduk pada standar dan koridor kebahasaan yang ada.

“Saat ini, kita sedang berada pada Era 4.0 dan sebentar lagi akan menuju Era 5.0. Nah, tentu akan banyak cara-cara dalam berkomunikasi terutama berkaitan dengan teknologi. Ini merupakan tantangan bagi kita dalam gabungan masyarakat linguistik. Apabila bahasa dan teknologi dikolaborasi, tentu akan membentuk kekuatan yang tidak sederhana. Perlu juga kita ingat bahwa dengan bahasa orang bisa bersatu dan juga terpecah. Salah satu contohnya adalah Sumpah Pemuda.

Sumpah Pemuda itu yang menyatukan kita. Saya melihat bahwa bahasa adalah pilar utama yang menyatakan kita. Lalu, masyarakat milenial bahasanya beda lagi. Apalagi secara virtual ini. Mudah-mudah simposium ini bisa menjadi jembatan bagi kita untuk menghasilkan formulasi dalam menghadapi tantangan ke depan terutama di Era 4.0. dan 5.0. Sukses untuk kita semua dan selalu jaga kesehatan,” tuturnya.

Dr. Luh Anik Mayeni, M.Hum selaku Ketua Umum Masyarakat Linguistik Indonesia (MLI) Pusat memberikan apresiasi kepada MLI Komisariat Unand karena pembatasan fisik akibat pandemi Covid-19 tidak menjadi penghalang bagi MLI Komisariat Unand untuk terus berkarya dalam bidang linguistik.

Menurutnya, revolusi juga membawa dinamika pada Bahasa Indonesia. Maka dari itu, kita dipaksa mengalami perubahan dalam beberapa hal.
Dr. Gusdi Sastra, M.Hum. selaku Wakil Dekan I FIB Unand sangat medukung kegiatan simposium ini.

Menurutnya, kegiatan ini dapat memberikan kontribusi yang sangat berarti terutama di bidang kebahasaan. Ia juga menyampaikan bahwa MLI FIB Unand aktif mengadakan kegiatan-kegiatan kebahasaan setiap tahunnya. Di sisi lain, MLI FIB Unand juga turut aktif mengikuti kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh MLI Cabang lain yang ada di Indonesia.

“Dukungan dari Bapak Rektor sangat kami harapkan. Organisai MLI ini sudah berdiri sejak tahun 1975. Sampai sekarang masih berkomitmen untuk mengembangkan ilmu di bidang kebahasaan.

Mudah-mudahan apa yang sudah dikerjakan oleh panitia bernilai pahala di sisi Allah. Saya tutup sambutan ini dengan sebuah pantun: Dari padang ke Jakarta, Take off di BIMK dan landing di Soekarno Hata, Walau Covid-19 datang melanda, MLI dan bahasa tetap menyemangati kita semua,” akhirnya.

Dr. Tri Mastoyo Jati Kusuma, M.Hum selaku keynote speaker simposium ini memberikan materi tentang “Kecendrungan Penelitian Bahasa (Indonesia) di Zaman Now (Era 4.0)”. Ia menjelaskan bahwa dinamika perkembangan linguistik terjadi dalam berbagai bidang pada saat ini, seperti dalam bidang politik, hukum, dan bisnis.

“Banyak sekali metafora dan ungkapan-ungkapan linguistik yang muncul di bidang politik dan hukum. Persoalan tentang apa linguistik itu sendiri masih banyak diperdebatkan,” paparnya.

Dr. Tri Mastoyo Jati Kusuma, M.Hum. menjelaskan bahwa ilmu-ilmu yang berurusan dengan bahasa paling tidak dapat dibedakan menjadi lima kelompok, yaitu ilmu tentang aspek bahasa dalam arti harfiah linguistik, ilmu tentang bahasa dalam arti metaforis, ilmu yang salah satu dasarnya bahasa, ilmu tentang pendapat mengenai bahasa (metalinguistik), dan ilmu tentang ilmu bahasa (sejarah linguistik).

Lebih lanjut, dia mengatakan bahwa menurut Sudaryanto, dari kelima kelompok tersebut, yang murni linguistik adalah kelompok pertama, sedangkan kelompok yang lain pada hakikatnya bukan linguistik. Lanjut Dr. Tri Mastoyo lagi, objek penelitian linguistik terdiri atas tiga jenis menurut Abdul Chaer, yakni struktur internal bahasa, pemakaian bahasa, dan pengajaran bahasa.

Di sisi lain, Dr. Tri Mastoyo Jati Kusuma, M.Hum juga menyampaikan bahwa I Dewa Putu Wijana mengemukakan ada dua komponen pembentuk bahasa, yakni komponen internal dan eksternal bahasa. Komponen internal bahasa adalah elemen-elemen yang membentuk bahasa.

Cabang ilmu bahasa yang berkaitan dengan unsur internal bahasa adalah fonologi, morfologi, sintaksis dan semantik, sedangkan komponen eksternal adalah elemen-elemen luar bahasa (esktralinguistik) yang mempengaruhi pemakaian bahasa.

Cabang ilmu bahasa yang berkaitan dengan unsur eksternal adalah sosiolinguistik, pragmatik, penerjemah, dan pengajaran bahasa.
Menurut Dr. Tri Mastoyo Jati Kusuma, M.Hum, penelitian bahasa sejak akhir 1990-an hingga saat ini berkembang dengan sangat baik. Akan tetapi, penelitian bahasa dari unsur internal tidak banyak dilakukan.

“Tesis dan disertasi yang muncul saat ini kebanyakan tentang pragmatik, sosiolinguuistik, dan analisis wacana kritis. Dinamika penelitian sekarang lebih banyak pada tindak tutur kalau untuk bidang pragmatik. Dinamika bahasa pada Era 4.0 sebenarnya berkaitan dengan inovasi kita untuk menghadapi bahasa yang bergerak sesuai dengan perkembangan teknologi.

Ada beberapa pilihan, misalnya apakah kita akan menggunakan corpus? atau apakah kita akan mengggunakan komputasional?” jelasnya.

Peserta sangat antusias mengikuti kegiatan simposium ini. Mereka aktif menanyakan pertanyaan terkait materi presentasi yang disampaikan oleh pemateri. Salah satu peserta bernama Noviatri (Dosen FIB Unand) menanyakan tentang jika dikaitkan dengan dinamika bahasa masa kini, linguis mana yang lebih dekat dengan dinamika bahasa masa kini, dan jawabannya Pak Putu yang paling dekat.

Dr. Tri Mastoyo Jati Kusuma, M.Hum, menjelaskan bahwa akhir-akhir ini, terutama pada saat pandemi, banyak sekali ditemukan beberapa singkatan dalam dunia bahasa. Jika dipandang dari sisi positif, munculnya singkatan-singkatan ini menunjukkan adanya kreativitas dalam berbahasa.

Namun, jika dilihat dari efek negatifnya, seringkali masyarakat tidak memahami arti dari singkatan-singkatan tersebut secara tepat.

“Akibat masyarakat yang tidak paham dengan singkatan-singkatan yang berkembang, akhirnya sering diplesetkan dalam pemakaian bahasa sehari-hari, misalnya corona diplesetkan menjadi kopi, rokok, dan nasi.

Namun, ketika singkatan-singkatan itu dibuat, pembuatnya cenderung menggunakan bahasa yang enak didengar. Jadi, ketika singkatan itu sudah terbiasa di telinga masyarakat, akhirnya ia bisa menjadi kata. Kata pemilu dan tilang. Dua kata ini sudah masuk kamus besar daring dan luring sekarang,” ujarnya.

“Kalau dari leksikologi, ini tergantung nanti kaitannya dengan bagaimana penyusun kamus bisa menyusun kata-kata tersebut,” lanjutnya.

Prof. Dr. Oktavianus, M.Hum. selaku Ketua Program Studi S-2 Linguistik FIB Unand menutup kegiatan simposium ini menyampaikan beberapa hal. Menurutnya, seorang peneliti harus mampu melihat bahasa secara deskriptif.

Pada saat yang sama, dia juga harus mampu memandang bahasa dalam sudut pandang preskriptif. Menurutnya, semoga banyak mahasiswa yang mengalami kebingungan dengan penyampaian yang disampaikan pematei sehingga kebingungan tersebut dapat menghantarkan mereka pada antusias untuk menggali ilmu lagi mulai dari paparan awal hingga akhir. (rls)

Comment