oleh

Puisi-puisi Reno Wulan Sari

Kaba dari Laut

 

Seketika turun dari langit, berberita

Limbubu bernama angin, berjarak seperempat depa

dari tanah perkuburan

Tempat ia memakamkan hikayatnya

Sebab tak pandai lagi mengangkat tiang layar!

Ia takut terbawa arus. Ia cemas disapa hantu laut

Setelah pisaunya dilarikan bocah yang bermain layangan

Terkutuk! Teriaknya

Berabad kemudian,

Bocah lain menunggu angin. Limbubu bernama angin.

Berhembus dari tali pusarnya

Dan dukun pun memecahkan anatomi tubuh:

bagaimana yang harus digunting

Sebab pusarnya berpilin dari pangkal, dari Tuan, dari ibuku

Dari ibunya ibuku, yang dijadikan hadiah ketika berlayar

Perdamaian!

Di sana, rupanya, tempat para orang tua kita menanam oreng

Agar nasibmu bisa terbaca

Setelah dibaca, lalu ditulis di sebuah kertas layangan

Sebagai pengganti layar ketika melaut

Kini ia menunggu angin, hendak bertemu hantu laut

Untukbertanya, mengapa seluruh kulit dan ari-arinya

Juga digunting saat ia dilahirkan,

Ketika puting beliung datang ke kampung.

Apakah belulang dan kulitnya bisa bercerita kepada cucu-cucunya kelak,

Tentang asal mulanya yang lebam

Dan pijakannya yang kini mulai oleng

Serupa kapalnya yang merasai diambung pasang

Ah, limbubu! Habislah kau dimakan duyung.

 

Busan, Mei 2020.

 

TitikTepi

 

Bukankah pemaknaan datang dari luar pagar?

Bambu. Besi. Atau bonsai

Kau memotongnya

Tak terlihat lagi daun pintu

Atau gadis yang menyuruk

Dibalik tirai

 

Impian kita telah menguning, katanya

Seperti hilang kisah

Tapi bukankah rambutmu lebih kuning?

Bahkan tak selangsat  kulitmu

Juga inai yang memudar

Maka lepaslah daun!

Saya hilang nama, ceritanya

Tepat ketika  sajian  disembelih

Bahkan  dedaknya  masih berasa

Ajaib!

Kau masih berdiri di sana

Dengan lesung  pipi yang melisut

Siapa  namamu yang dapat kupanggil?

Sebab kau tercabut akar

 

Busan, Juni 2020

 

Candu

 

Ada sendu, sengau

Sesak, bernama kabut.

Engkau yang memasukkan senyumku ke dalam mangkukmu

Kukira  akan  kau  simpan di dalam lemari

Agar kelak siapa pun yang akan pulang

Tak akan pernah merasa lapar

Aku candu pada bayang yang kuciptakan sendiri

Aku candu pada sudut mataku

Yang menyimpan seribu kisah dalam hening

Aku candu pada ujung-ujung jariku

Yang ngilu-ngilu kuku menyentuh tubuhku

Keseluruh lekuk dan sejarahnya!

Hanya aku!

Di kandang kerbau belakang rumah,

Mangkuk itu kemudian tersimpan;

Menunggu kerbau menjadi fosil

Seperti belulangku yang sedang candu menghisap segala aroma

Benci dan rindu tersembunyi.

 

Busan, April 2020.

 

Penulis Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas
dan Dosen Tamu di Busan University of Foreign Studies,
Korea Selatan

Komentar

Berita Lainnya