oleh

Penamaan Kuliner Jepang di Kota Padang

Oleh: Dini Maulia
Dosen Sastra Jepang, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Andalas

Hidangan khas Jepang saat ini sudah menjadi pilihan kuliner populer di masyarakat. Berbagai restoran Jepang baik yang bersifat franchise atau waralaba maupun usaha perorangan telah banyak bermunculan di kota-kota besar di Indonesia, termasuk salah satunya di Kota Padang. Tidak hanya dapat dijumpai pada restoran khas Jepang, namun warung-warung pinggiran jalan juga sudah mulai melakukan inovasi menu dengan menghadirkan menu Jepang dalam sajiannya. Ini menunjukkan bahwa cita rasa masakan Jepang sudah dapat diterima dengan baik oleh masyarakat lokal di Kota Padang. Untuk menawarkan hidangan Jepang dalam daftar menu, para pemilik restoran cenderung menciptakan nama-nama menu Jepang yang sangat menarik untuk dibahas.

Penamaan menu ini sangat unik, dikarenakan tak jarang nama menu tersebut disandingkan dengan nama masakan khas lokal. Kali ini, bentuk penamaan Kuliner Jepang tersebut akan dibicarakan dari sudut pandang linguistik atau ilmu bahasa. Kajian tentang penamaan tidak bisa terlepas dari budaya suatu komunitas sosial tempat nama tersebut dilahirkan. Bagaimanapun lahirnya sebuah nama, tentu memiliki latar belakang, tujuan, maupun manfaat sehingga sebuah nama dapat diciptakan. Malinowski dalam Stefani (2016) menyatakan bahwa kajian penamaan tidak bisa hanya terikat pada bentuk saja, tetapi juga harus dijelaskan secara meluas terkait konteks lingkungan di mana nama tersebut dibuat.

Budaya penamaan dapat menggambarkan kondisi lingkungan kapan nama tersebut muncul. Perubahan budaya seiring dengan perubahan paragdima masyarakat juga memberikan pengaruh pada sistem penamaan dalam suatu masyarakat. Hal ini menguatkan bahwa mengapa penamaan kuliner Jepang di Kota Padang memiliki keberagaman bentuk yang terkadang seolah-olah tidak memiliki struktur bahasa yang baik. Salah satu teori  penamaan dari sudut pandang linguistik adalah teori tipologi penamaan yang dikemukakan oleh Langendonck (2007). Menurut  Langendonck, tipologi penamaan dibagi atas dua bentuk, yaitu prototypical proper names dan nonprototypical proper names. Kajian penamaan merek dan barang dagang diklasifikasikan pada bentuk nonprototypical proper names. Dalam teori ini, dijelaskan bahwa, aspek-aspek pemasaran dan penerimaan masyarakat sangat memengaruhi keputusan para pemilik usaha untuk menciptakan nama pada barang produksi yang akan mereka hasilkan.

Sebagian besar penamaan kuliner Jepang di Kota Padang meniru secara keseluruhan bentuk ala Jepang. Adapun penamaan yang paling populer digunakan adalah: ramen, donburi, ocha, takoyaki, okonomiyaki, dorayaki, kare, dan lainnya. Penamaan menu ini hampir digunakan oleh kebanyakan restoran maupun warung makanan Jepang yang ada di Kota Padang. selain itu terdapat proses perubahan fungsi kata bahasa Jepang dalam penamaan kuliner. Kata yaki sudah tidak asing lagi digunakan dalam penamaan kuliner Jepang. Kata yaki dalam bahasa Jepang berarti ‘panggang’. Kata ini sering digunakan dalam masakan Jepang yang proses pembuatannya dipanggang. Namun, seiring berjalannya waktu, di Jepang sendiri penamaan kuliner dengan kata yaki tidak lagi dalam wujud makanan yang dipanggang, seperti makanan sukiyaki di Jepang. Dahulunya, makanan ini merupakan sajian daging sapi yang dipanggang dengan menggunakan panci. Namun seiring berkembangnya kepopuleran masakan sukiyaki di Jepang, proses memasak sukiyaki berangsur dimodifikasi dengan rebusan air dan menambahkan bumbu-bumbu di dalamnya (iroha-japan.net).

Penggunaan kata yaki dapat digunakan di depan maupun di belakang kata. Selain sukiyaki, dorayaki, juga terdapat yakiniku, yakisoba, dan lainnya. Dalam bahasa Jepang, penggabungan kata yaki dengan kata lainnya secara morfologis tergolong dalam pemajemukan kata. Secara bentuk, proses pemajemukan kata dalam bahasa Jepang ditulis tidak terpisah seolah-olah merupakan satu kata.  Ini sangat berbeda dengan proses morfologis dalam bahasa Indonesia. Pemajemukan kata dalam bahasa Indonesia ditulis terpisah. Apabila hadir beberapa unsur dalam suatu kata menempel antara satu dengan lainnya maka proses morfologis yang terjadi adalah afiksasi. Di Kota Padang, penggunaan penggunaan kata yaki ini berubah menjadi afiks atau imbuhan. Hal itu terlihat pada penamaan menu seperti, basoyaki, cheesyaki, dan sosiyaki, di mana kata yaki berlaku seolah-olah menempel seperti afiks di dalam kata.

Ini merupakan proses penggabungan kata yang unik dalam penamaan kuliner Jepang di Kota Padang. Penggabungan kata terjadi antara bahasa Jepang dengan bahasa Jepang, penggabungan dua bahasa antara bahasa Jepang dengan bahasa Inggris atau bahasa Indonesia, serta penggabungan tiga bahasa antara bahasa Jepang, bahasa Inggris, dan bahasa Indonesia. Penggabungan antara bahasa Jepang dengan bahasa Jepang terbilang sangat acak, seperti meiji jidai, kamakura jidai, edo jidai, dimana kata jidai berarti ‘era’ dalam bahasa Jepang. Kata meiji, kamakura, dan edo merupakan penamaan era dalam sejarah Jepang. Lalu, ada nama tokyo dome, sakura dome, sapporo dome, dimana kata dome berarti ‘stadion’. Selanjutnya, tokyo, sakura, dan sapporo merupakan nama stadion bola yang terdapat di negara Jepang. Juga ada nama bento naruto, bento sasori, bento obito, di mana kata bento berarti ‘bekal’ dalam bahasa Jepang, diikuti nama naruto, sasori, dan obito yang merupakan nama-nama tokoh film kartun atau anime dari Jepang. Pemilihan penggabungan nama-nama ini terlihat aneh, namun ada juga yang menggabungkan dalam bentuk sesuai dengan bentuk aslinya, seperti ebi katsu, tako sushi, karai ramen, dan lainnya.

Penggabungan antara dua bahasa menghasilkan nama makanan seperti beef teriyaki,chicken katsu, ramen chicken katsu. Kata bahasa Jepang ada yang berada di depan maupun di belakang kata. Kemudian ada gabungan dengan bahasa Indonesia, seperti ramen udang, nasi goreng karage, dalam bahasa Jepang juga dapat berada di depan maupun belakang kata. Menurut Kazuhide (2016:6), perbedaan mendasar antara kaidah kebahasaan bahasa Jepang dan bahasa Indonesia dapat dilihat dari struktur inti kata. Dalam bahasa Indonesia, dikenal dengan kaidah DM (Diterangkan-Menerangkan), sedangkan bahasa Jepang dikenal dengan kaidah MD (Menerangkan_Diterangkan). Apabila bahasa Indonesia memiliki inti pada bagian depan kata maka bahasa Jepang meletakkan bagian inti pada belakang kata. Oleh sebab itu, terdapat penggunaan nama beef teriyaki yang mengikuti kaidah bahasa Jepang dan juga bahasa Inggris, namun juga ada  yang mengikuti kaidah bahasa Indonesia seperti ramen chicken katsu, nasi goreng karage, yang meletakkan bagian inti di depan kata.

Penggabungan tiga bahasa juga menunjukkan struktur yang unik. Itu dapat dilihat dari posisi peletakan kata-kata dari bahasa yang berbeda disusun tanpa mengikuti kaidah kebahasaan apa pun, seperti nama nasi beef kare pedas, ramen sapi mix baso, spicy tuna kani roll, dan ramen sapi mix katsu. Bentuk penamaan ini menggunakan nama menu Jepang kare berarti ‘kari’, kani berarti ‘kepiting’, ramen merupakan sejenis ‘mi’ dalam masakan Jepang. Kata bahasa Inggris roll, mix, spicy sebagai penjelas keterangan makanan, dan pengunaan kata bahasa Indonesia pedas, sapi, dan nasi. Ketiga bahasa digabungkan secara acak tanpa bisa dirumuskan kaidahnya.

Penggunaan bahasa Jepang dalam penamaan kuliner di Kota Padang diklasifikasikan menjadi 3 (tiga) bentuk, yaitu penamaan hidangan, penamaan jenis makanan, dan penamaan bahan makanan. Penggunaan nama hidangan Jepang pada nama kuliner di Kota Padang, digunakan kata seperti bento merujuk hidangan dalam bentuk bekal dan don yang merujuk hidangan sajian dalam mangkuk (digunakan pada nama donburi, oyakodon, katsudon). Untuk penggunaan jenis makanan Jepang, sering ditemukan seperti kata ramen, yaitu sejenis ‘mi’ di Jepang, sushi, makanan berbentuk nasi yang digulung dengan isi beragam, kare, sejenis kari di Jepang, dan jenis lainnya. Penggunaan nama bahan makanan Jepang yang sering ditemukan, di antaranya ebi berarti ‘udang’, tamago berarti ‘telur’, tako ‘berarti gurita’, dan bahan makanan lainnya.

Beberapa penciptaan nama kuliner ala Jepang di Kota Padang menunjukkan bahwa penggunaan menu dengan bahasa Jepang memiliki strategi pemasaran yang menjanjikan. Bentuk-bentuk penamaan tersebut terkadang dapat mengikuti kaidah, namun banyak juga yang diciptakan secara unik agar terkesan Jepang. Ini menunjukkan segala tentang Jepang dapat diterima dengan baik oleh masyarakat lokal di Kota Padang. Apabila dilihat kembali bagaimana faktor apa yang membuat budaya Jepang dapat diserap dengan baik oleh masyarakat lokal, tentu tidak terlepas dari kemajuan tekhnologi yang terdapat pada barang-barang produksi negara Jepang. Masyarakat di Indonesia menggunakan produk-produk teknologi Jepang dalam keseharian dimulai dari kendaraan, barang elektronik, hingga peralatan rumah tangga.

Selain produksi barang, media hiburan dari Jepang juga sangat banyak digemari oleh generasi muda di Indonesia. Tidak hanya film kartun atau yang dikenal dengan anime, lagu-lagu Jepang pun juga menjadi aliran musik yang populer di Indonesia. Media hiburan dari Jepang menjadi sangat mudah digemari oleh generasi muda. Hal ini menyebabkan semua hal khas Jepang sangat mudah diterima dengan baik oleh masyarakat lokal, termasuk salah satunya cita rasa masakan Jepang sehingga pada akhirnya bisnis kuliner ala Jepang menjadi bisnis yang menjanjikan di Indonesia, salah satunya di kota Padang. Penamaan kuliner dengan bahasa Jepang pun seperti telah dijadikan strategi pemasaran oleh para pengusaha kuliner untuk dapat menarik banyak konsumen walaupun terkadang penamaan kuliner Jepang tersebut terkesan pelabelan saja. Bahan makanan, proses memasak, dan cita rasa yang disajikan pada menu-menu tersebut terkadang sangat jauh berbeda dengan masakan yang dapat ditemui di negara asalnya, Jepang .  

Komentar