oleh

Anak Ibu


Cerpen:
Azwar Sutan Malaka

Suara adzan yang merdu tak sanggup menjawab pertanyaan di kepala Sri.

Pertanyaan yang sudah lama ada dalam kepalanya. Pertanyaan tentang siapakah dirinya. Apakah hanya seonggok daging yang menempel pada tulang belulang, atau hanya mamalia yang kebetulan memiliki akal.

Lelah memikirkan dirinya, Sri menghela napas panjang saat berada di bingkai jendela. Tak mau berlama-lama disiksa pikiran, ia tutup jendela. Ia kemudian berjalan menuju kamar mandi untuk berwudhu. Air wudhu pun tidak dapat menghapus segala tanya di kepala Sri. Ia masih bertanya-tanya, siapakah aku? Setelah syariat terakhir Sri berwudhu, ia berjalan ke kamarnya. Ia memakai mukena, mengembangkan sajadah, lalu mengangkat takbir menemui Allah. Dalam salat, Alfatihah-nya berantakan. Ia gagal fokus. Pertanyaan-pertanyaan hakiki tentang manusia yang sejak tadi dia pikirkan, kini masih berkejaran di kepala.

Setelah selesai salat, Sri ke ruangan depan. Ia berkumpul bersama ayah dan ibunya yang sedang menikmati banyolan dari sebuah stasiun televisi swasta. Selesai salat magrib, niatnya akan langsung bertanya pada ayah dan ibunya. Ia ingin jawaban atas semua masalah yang kini di hadapinya, tapi Sri urung bertanya ketika ibu sudah membuka pembicaraan di antara suara riuh yang terdengar dari televisi.

“Mbak Siti menjual bayinya 30 juta,” kata Ibu sambil matanya tidak lepas dari layar kaca.

“Mbak Siti yang mana?” tanya Ayah tanpa melepaskan pandangannya dari televisi yang menghibur mereka.

“Mbak Siti yang ngontrak di ujung gang. Yang anak nya sering bareng Sri kalau pergi sekolah,” jelas Ibu. Kini, ibu melirik Sri yang terlihat murung.

“Ah…, yang benar saja?” tanya Ayah.

“Iya, sore kemarin Mbak Siti ke rumah sakit ditemani suaminya. Eh, tadi sore pulang-pulang hanya mereka berdua. Siti sudah dioperasi kata suaminya,” jelas Ibu panjang lebar. Beberapa saat mereka kembali diam. Ayah tidak lagi menanggapi pembicaraan Ibu.

Bagi mereka, cerita tentang jual-beli anak, atau bahkan mendapatkan anak di jalanan begitu saja, bukan berita baru. Beberapa bulan yang lalu, Mpok Inah yang jualan nasi uduk di dekat masjid juga mengambil anak dari Puskesmas. Kebetulan ada seorang perawat yang bekerja di Puskesmas yang ada di kelurahan mereka. Dari perawat itu, Mpok Inah mendapat kabar bahwa ada perempuan melahirkan di Puskesmas, tapi perempuan itu belum siap punya anak karena belum punya suami. Mpok Inah yang sudah bertahun-tahun ingin punya anak perempuan, dengan suka rela mengambil anak itu. Hanya dengan selembar surat perjanjian.

“Udah makan?” tanya Ibu pada Sri. Sri menggeleng. Wajahnya yang mirip perempuan-perempuan luar negeri itu masih kelihatan ragu. Bahkan, ia semakin tidak yakin ketika melihat wajah tua ayah juga melihatnya.

“Ayo makan sana. Ntar maag kamu kambuh lagi!” timpal Ayah.

“Udah makan tadi sebelum pulang kerja,” jawab Sri akhirnya.

Melihat kedua orang tuanya itu, ia undur diri untuk bertanya tentang apa yang dia pikirkan sejak sore tadi. Ia tak tega. Malah saat itu pikirannya dirampas oleh cerita Ibu tentang Mbak Siti dan suaminya yang tega menukar anak kandung mereka dengan uang 30 juta rupiah. “Sudah begitu sakitkah dunia ini?” Begitu pikir Sri.

Setelah beberapa waktu menemani Ibu dan Ayah nongkrong di depan televisi, Sri akhirnya masuk ke dalam kamar. Pertanyaannya yang sudah dia siapkan dari tadi, gagal dia sampaikan kepada ayah dan ibu. Kini, dia tidur dengan persoalan berat di kepala. Masih menggunakan mukena, sambil menunggu suara adzan isya, Sri tiduran di tempat tidur. Suharusnya, ia bisa istirahat setelah siang tadi sibuk bekerja, tapi pikirannya masih tidak bisa berdamai dengan persoalan-persoalan yang dihadapi.

“Papaku minta fotocopy akte kelahiranmu,” kata Fahri beberapa waktu lalu. Fahri tahu, pertanyaan itu sangat berat bagi Sri. tapi karena permintaan orang tuanya, Fahri menyampaikan itu pada Sri. Di akhir pembicaraan, dia coba menenangkan hati Sri.

“Tidak usah dipikirkan. Kalau tidak ada, tidak apa-apa,” ucap Fahri waktu itu.

Fahri, tunangan Sri, calon suami Sri, yang juga rekan kerjanya di kantor tentu sangat mencintai Sri. Sri tidak meragukan hal itu lagi, tapi permintaan sederhana Papa Fahri setelah acara pertunangan mereka itu tentu menjadi masalah bagi Sri.

“Aku anak kampung, Fahri… orang tuaku tidak bisa tulis baca. Jadi, mereka tidak mengenal akte kelahiran atau surat keterangan lainnya,” begitu jelas Sri.

Fahri paham, tapi ia belum punya cara untuk meyakinkan orang tua dan keluarga lainnya. Bagi papanya yang seorang ustadz itu, penting untuk melihat akte kelahiran Sri sebelum akad nikah dilangsungkan.

“Sri…,” Ibu masuk ke kamar Sri. Sementara itu, perempuan yang sebentar lagi melepas masa lajang itu masih rebahan di tempat tidurnya.

“Sudah salat isya, Nak?” tanya Ibu duduk di tepi ranjang tempat tidur Sri. Perempuan itu tahu kalau anaknya menghadapi masalah. Sebagai seorang Ibu, dia paham gelagat anaknya.

“Ada apa?” tanya Ibu perlahan.

Sri kini menangis, dia menghapus air matanya. Ibu ikut sedih melihat anak satu-satunya itu, yang beberapa hari lagi akan menikah. Pernikahan Sri tentunya juga akan memisahkan mereka. Seharusnya kedua orang tua itulah yang bersedih, karena nanti anak mereka akan meninggalkan rumah.

“Sudahlah. Jangan menangis” kata Ibu sambil mengusap kepala Sri.

“Tidak apa-apa. Hidup ya begini. Lahir, besar, kemudian menikah itu biasa. Cepat atau lambat kamu harus menikah. Kami sudah pahami itu bahwa suatu saat kau akan meninggalkan kami, tapi pernikahan itu tidak akan memutus hubungan anak dan orang tua. Hanya pindah rumah saja ke rumah suami.” Jelas ibu dengan tabah.

Sri bangun dari tempat tidur. Dia berusaha menghentikan tangisannya sebelum bicara. Dia rapikan mukena di kepalanya.

“Bu.., orang tua Fahri minta akte kelahiran Sri,” kata Sri dengan hati-hati. Ibu Sri melihat pada Ayah yang kini sudah berdiri di pintu kamar sambil bersandar pada bingkai pintu. Kedua orang tua itu saling berpandangan. Mereka seperti saling menguatkan. Mereka barangkali juga sudah lama menyiapkan diri untuk bisa menyampaikan hal terbesar dalam hidup mereka yang disimpan bertahun-tahun.

“Ayah hanya petugas kebersihan di bandara Sri. Ayah dan ibu orang kampung yang tidak tau apa-apa, apalagi akte kelahiran yang diminta calon mertuamu itu.” kata Ayah dengan suara berat. Ibu hanya tertunduk. Dia paham. Suaminya tak sanggup membuka rahasia itu. Sementara itu, Sri masih menangis. Ia tidak mampu membendung air mata. Sekali lagi ibunya melihat pada ayah. Kemudian dia lihat wajah anaknya yang cantik.

“Orang tua Fahri masih mempermasalahkan wajahmu dan wajah kami yang jauh berbeda?” tanya Ibu akhirnya. Memberanikan diri untuk bicara.

“Kalau persoalan itu, Ayah kan sudah ajarkan semenjak kamu kecil. Jangan dimasukkan ke hati pertanyaan itu.” kata Ayahnya. Beberapa kali Ayah melihat pada Ibu.

“Sudahlah. Salat Isya sana, lalu istirahat. Besok, kita harus ke rumah calon suamimu.” kata Ibu sambil beranjak dari tempat tidur. Ibu menyusul ayah yang sudah duluan meninggalkan kamar Sri. Sri memang sering diejek teman-temannya sejak kecil karena wajahnya yang mirip bule itu jauh berbeda dengan wajah kedua orang tuanya yang asli Jawa, berwajah Indonesia. Akan tetapi, sejak kecil, ayahnya mengajarkan untuk membiarkan saja ejekan itu. Jangan ambil hati, begitu pesan ayahnya. Bertahun-tahun Sri tidak mempedulikan ejekan itu, tapi kini datang pertanyaan krusial dari orang tua Fahri, calon mertuanya.

*****

Keesokan harinya, Sri beserta kedua orang tuanya sudah siap untuk melakukan kunjungan balasan ke rumah Fahri. Setelah beberapa waktu lalu Fahri bersama keluarga besarnya datang ke rumah untuk meminang Sri. Dengan mobil sewa online, Sri dan orang tuanya menuju rumah Fahri. Di atas mobil, Fahri masih mengirim pesan pada Sri agar tidak khawatir dengan permintaan orang tua Fahri untuk membawa akte kelahiran.

“Nanti saya yang bereskan” begitu pesan dari whatsapp Fahri pada Sri. Tidak begitu lama, Sri dan keluarganya sampai di rumah Fahri. Setelah berbasa-basi, kemudian menyantap hidangan yang disuguhkan keluarga Fahri, sampailah mereka pada inti kunjungan. Pembicaraan pernikahan Fahri dan Sri. Fahri yang merupakan anak orang terpandang tentu ingin memastikan pernikahan berjalan lancar.

“Hmm.., mohon maaf Sri, kalau permintaan kami beberapa waktu lalu tentang akte kelahiran mengganggu pikiranmu.” kata Papa Fahri setelah beberapa waktu pembicaraan berlangsung.

“Papa..” cegah Fahri agar orang tuanya tidak melanjutkan pembicaraan tentang akte kelahiran itu.

“Fahri, ini bukan apa-apa. Ini bukan masalah besar.” kata papanya ingin melanjutkan pembicaraan. Sri tertunduk, kedua orang tua Sri seperti sudah siap untuk menghadapi apa pun yang terjadi.

“Tapi bagi Sri ini masalah, Papa…” kata Fahri akhirnya.

“Papa hanya ingin melihat akte kelahiran Sri. Tidak masalah kan?,” kata Papa Fahri. Keluarga yang lain masih diam. Mereka serba salah ikut pembicaraan itu.

“Mohon maaf, Sri memang tidak punya akte kelahiran, bahkan kami tidak tahu kapan persisnya dia lahir,” begitu kata Ayah Sri dengan suara berat. Ia tertunduk. Ia tahu persis kemana arah pembicaraan orang tua Fahri itu. Dengan mempertanyakan akte kelahiran Sri, tentu saja mereka ingin tahu siapa sebenarnya Sri.

Jawaban itu sudah dia susun bertahun-tahun lamanya. Sepanjang hidupnya. Sejak dia menerima Sri dari seorang perempuan TKI yang baru saja pulang dari Arab Saudi, 23 tahun yang lalu. Sri adalah nama yang dia berikan bersama istrinya, untuk anak yang diberikan TKI itu dengan deraian air mata.

“Maaf Pak, bukan begitu maksud kami. Ini hanya memastikan. Kalau memang Sri bukan anak kandung Bapak, tidak masalah. Ini kan sudah jelas karena saya hanya ingin memastikan bahwa pernikahan anak kita sah secara hukum dan agama, kalau bukan anak kandung Bapak, Sri bisa dinikahkan oleh walinya. Itu saja, tidak masalah kan?” kata Papa Fahri.

Keluarga yang lain masih diam. Sri menangis di pelukan Ibunya yang juga tak tahan menahan air mata. Siang itu, acara ramah tamah antara keluarga Sri dan keluarga Fahri berjalan agak kaku. Keluarga besar Fahri sepertinya sudah siap dengan pesta pernikahan mereka, mulai dari akad nikah sampai resepsi nanti.

Di jalan pulang dari rumah Fahri, Sri masih menangis. Ibu juga masih menangis. Sri akhirnya bertanya di sela-sela tangisan.

“Jadi aku ini anak siapa Bu?” tanya Sri.

“Anak Ibu. Anak ibu.. Anak ibu.” kata Ibu histeris. Ayah menenangkan Ibu. Sri terdiam. Akhirnya dia memutuskan untuk memendam pertanyaan-pertanyaannya tentang siapa dirinya. Biarlah menjadi rahasia sepanjang hidupnya, apakah dia anak yang dipungut dari jalanan atau anak yang dibuang di tempat sampah sekali pun. Kini, sebagaimana kata ibu, dia adalah anak Ibu. (*)

Jakarta, 4 April 2018.

 

Komentar