Sentimen Positif, Rupiah Bangkit

Jakarta, Scientia –Pada pembukaan perdagan valuta pagi ini, Rabu (17/06), US$ 1 setara dengan Rp 14.060. Rupiah sempat melemah 0,29% dibandingkan posisi penutupan perdagangan hari sebelumnya.

Namun rupiah secara perlahan mulai meninggalkan zona merah. Pada pukul 09:04 WIB, US$ 1 dihargai Rp 14.000 atau menguat 0,14%.

Optimisme terhadap prospek pemulihan ekonomi yang membuncah membuat pelaku pasar berkerumun di sekitar aset-aset berisiko yang menjanjikan keuntungan besar.

Data ekonomi terbaru di AS mendongrak risk appetite di pasar. Pada Mei 2020, penjualan ritel di Negeri Paman Sam melonjak 17,7% dibandingkan bulan sebelumnya (month-to-month/MtM). Secara year-on-year (YoY) memang masih turun 6,08% tetapi jauh lebih baik dibandingkan April yang anjlok nyaris 20%.

Perbaikan penjualan ritel menunjukkan bahwa ada harapan perekonomian AS bisa pulih dengan cepat setelah dihajar oleh pandemi virus corona (Covid-19). Begitu AS menerapkan pelonggaran pembatasan sosial (social distancing), roda ekonomi bisa langsung berputar dengan cepat.

“Penjualan ritel adalah penyebab utama yang membuat pasar melesat. Namun aroma stimulus juga membantu,” kata Ryan Detrick, Senior Market Strategist di LPL Financial yang berbasis di North Carolina, seperti dikutip dari Reuters.

Sebelumnya, bank sentral AS (The Federal Reserve/The Fed) mengumumkan akan mengubah skema pembelian obligasi korporasi dengan memasukkan pendekatan indeksasi. Artinya, The Fed akan membeli obligasi korporasi di pasar sekunder yang kemudian menciptakan portofolio baru yang berbasis indeks pasar. The Fed akan menyerap obligasi korporasi berdasarkan indeks yang terbangun dari aset dengan rating minimum tertentu, tenor tertentu, dan berbagai kriteria lainnya.

Kemudian bank sentral Jepang (BoJ) berkomitmen untuk meningkatkan fasilitas pinjaman kepada korporasi hingga US$ 1 triliun dari sebelumnya sekitar US$ 700 miliar. Haruhiko KUroda, Gubernur BoJ, juga menegaskan siap meningkatkan jumlah fasilitas tersebut jika memang dibutuhkan.

Sementara dari penanganan virus corona, ada kabar baik yaitu pemberian obat dexamethasone terbukti mampu menurunkan risiko kematian pasien hingga sepertiga. Pemberian dexamethasone dalam dosis rendah dapat meningkatkan harapan hidup pasien positif virus corona.

“Pasien yang menggunakan ventilator yang diberikan dexamethasone bisa menghindari risiko kematian, ini bisa menyelamatkan nyawa. Harganya pun tidak mahal,” kata Martin Landray, Profesor di Oxford University, seperti dikutip dari Reuters.

Berbagai kabar baik ini menjadi penyebab investor enggan bermain aman. Arus modal mengalir deras ke pasar keuangan negara-negara berkembang, termasuk Indonesia. Hasilnya jelas, rupiah kembali nyaman menapaki jalur hijau.
“Kita mendapatkan kabar baik dalam upaya memerangi Covid-19. Reopening dan data yang sangat bagus memberi petunjuk bahwa pemulihan sudah terjadi dan lebih cepat dari perkiraan sebelumnya,” tambah Detrick. (*)

Source: [CNBC Indonesia]

Comment