Rang Piaman dan Jemputan

Oleh : Lismomon Nata
(Motivator dan Pemerhati Sosial)

Minangkabau merupakan salah satu suku bangsa yang ada dalam keragaman Indonesia. Secara wilayah adat, orang Minang mengenal dua pembagian daerah, yaitu daerah darek atau yang disebut dengan luhak nan tigo (Luhak Agam, Luhak 50 Koto, dan Luhak Tanah Datar). Daerah luhak ini diyakini sebagai daerah ‘asa’ (asal). Tambo menceritakan bahwa nenek moyang orang Minang turun dari daerah Pariangan, Padang Panjang ketika Gunuang Merapi sagadang talua itiak. Seiring dengan pertambahan waktu dan zaman yang terus berkembang membawa konsekuensi bertambahnya jumlah manusia maka dibutuhkan daerah baru yang dikenal dengan daerah rantau. Akar kata ‘rantau’ umumnya berati ‘pantai, sungai, dan luar negeri’. Bagi masyarakat Minang, rantau mempunyai arti khusus yaitu daerah-daerah yang berbatasan dengan darek atau biasa disebut sebagai daerah pasisia karena pada umumnya daerah perkembangan ini berada pada sepanjang pesisir pantai (Kato, 2005). Salah satunya adalah rantau Pariaman.

Pariaman, merupakan salah satu rantau yang sangat berpengaruh dalam perkembangan orang Minang. Hal ini ditandai dengan perkembangan masyarakatnya serta kebudayaan yang dimiliki. Letak yang strategis sehingga semenjak abad ke-16 daerah pantai pesisir barat tersebut, yaitu sekitar Pariaman dan Tiku telah menjadi primadona bagi pedagang-pedagang asing, seperti Arab, Cina, Gujarat, dan India. Berbagai komoditas darek dibawa ke sana untuk diperdagangkan. Salah satunya adalah emas. Komoditi tersebut dibawa melalui jasa parewa yang dibayar oleh pedagang atau dengan jasa pengangkutan barang, selama berhari-hari hingga sampai ke pantai Pariaman dengan menggunakan pedati. Kita mengenal nama Bukit Tambun Tulang yang diyakini sebagai sarang penyamun dan angker sebagai daerah yang dilewati. Keterbukaan masyarakat Pariaman dalam menerima orang lain menjadi salah satu faktor penting masyarakat tersebut mengalami akulturasi serta memberikan pengaruh terhadap kebudayaan yang dimiliki orang Pariaman, di antara kebudayaan tersebut adalah masyarakat Pariaman dikenal sejak dahulunya sebagai pembuat batik tanah liek yang diberi nama batik sampan atau laki-lakinya adalah para pelaut ulung, pedagang emas, hingga terkenal sebagai saudagar.

Dalam tulisan ini, penulis tertarik untuk bercerita tentang budaya bajapuik yang sangat erat hubungannya dengan gelar yang digunakan dalam stratifikasi masyarakat Pariaman. Petitih adat Minang menyebutkan “ketek banamo, gadang bagala” (laki-laki Minang sewaktu kecil dipanggil dengan nama yang diberikan orang tua, namun bila setelah besar atau menikah diberikan dan dipanggil gala atau gelar yang diberikan) dan dijadikan sebagai status sosial seseorang pada masyarakat Minangkabau. Pada masyarakat Pariaman ada tiga sebutan yang diberikan kepada laki-laki dewasa yaitu sidi, bagindo, dan sutan.

Lahirnya ketiga gelar tersebut tidak lain disebabkan oleh pengaruh budaya asing atas  perpaduan kebudayaan. Pengaruh bangsa Arab sangat besar dalam adopsi ketiga gelar tersebut. Historisnya, gelar-gelar itu berasal dari kata Syaidina (Yang Mulia) yang kemudian menjadi sidi, bagindo merupakan adopsi dari kata baginda, dan sutan merupakan adopsi dari kata sultan. Dengan demikian, lelaki Pariaman yang telah menikah disandangkanlah salah satu gelar tersebut pada dirinya.

Gelar yang melekat pada lelaki Pariaman merupakan suatu status sosial yang sangat penting dahulunya. Hal tabu bagi pihak perempuan (mertua atau saudara dari pihak istri ataupun orang lain) apabila menantunya tidak dipanggil dengan gelarnya sehingga gelar tersebut dianggap sebagai harga diri atau martabat. Pemilihan dari salah satu dari ketiga gelar tersebut ditentukan oleh proses bagaimana stratus sosial seorang laki-laki pada masyarakat Pariaman itu sebelum menjadi menantu. Hal ini dapat dilihat dari pertimbangan bebet, bobot, dan bibit seperti halnya masyarakat Jawa. Di sinilah bermulanya muncul budaya bajapuik (budaya menjemput) diberlakukan oleh masyarakat Pariaman.

Budaya bajapuik didasarkan kepada alasan logis terhadap peran yang akan dilaksanakan oleh lelaki saat dia menjadi kepala keluarga nantinya, yaitu menjadi seorang kepala keluarga akan memberikan konsekuensi dan peran sosial yang besar dan berat serta memiliki tanggung jawab besar dalam keluarganya kelak, baik keluarga inti (nucleus family) maupun pada keluarga besar (exstended family). Budaya bajapuik dahulunya adalah sebuah tanda dengan proses pemberian barang berharga, biasanya berupa emas oleh pihak perempuan dengan jumlah dan besaran tertentu sesuai dengan kesepakatan kedua belah pihak terhadap keluarga laki-laki.

Di lain sisi jemputan tersebut dilakukan sebagai bentuk penghargaan oleh pihak keluarga perempuan terhadap pihak keluarga laki-laki. Pernikahan yang dilakukan memberikan makna bahwa kehidupan perempuan menjadi tanggung jawab penuh oleh lelaki untuk menafkahinya secara lahir dan batin. Barang jemputan yang diberikan oleh pihak perempuan tersebut juga dapat berfungsi sebagai pegangan (simpanan/tabungan) bagi perempuan. Kehidupan berkeluarga tentu tidak selamanya akan dapat dipertahankan. Selalu ‘dibayang-bayangi’ oleh perceraian atau ditinggal mati suami. Bila itu terjadi maka jemputan tadi dapat dimanfaatkan oleh perempuan untuk melanjutkan keberlangsungan hidup diri dan anak-anaknya. Dengan kata lain, ‘jemputan’ tersebut pada dasarnya bukanlah sesuatu bentuk ‘perdagangan’ ataupun memberikan kesan semata-mata merugikan pihak perempuan bahkan dominasi pihak lelaki karena bisa saja jemputan tersebut akan dikembalikan dan bermanfaat bagi perempuan tadi yang dikembalikan sewaktu dilakukannya manjalang mintuo,  bahkan pada prosesi ini dapat saja jumlah barang atau nominal materi yang diberikan lebih besar dari jumlah yang materi yang diberikan pihak perempuan kepada pihak laki- laki saat prosesi jemputan, tersebab pihak keluarga laki- laki, sanak- saudaranya ikut dalam berpartisipasi untuk ‘mengisi’ benda-benda (materi) pada saat manjalang mintuo.

Masyarakat Pariaman juga mengenal istilah ‘uang hilang’ yaitu sejumlah uang yang diberikan oleh pihak perempuan kepada pihak laki-laki yang jumlahnya sesuai dengan kesepakatan kedua belah pihak sebagai bentuk rasa kepedulian pihak perempuan terhadap pihak keluarga laki-laki untuk melakukan pesta perkawinan, biasanya uang hilang ini disebut juga dengan ‘uang dapur’. Memang, pada uang hilang, tidak dikembalikan. Kedua konsep ini seringkali belum dapat dipahami secara utuh oleh sebagian besar masyarakat pada umumnya.

Seiring dengan perjalanan waktu, budaya bajapuik mulai terkikis dan bahkan hampir punah, apalagi di tengah-tengah kehidupan era modern, era milenial, dan era di mana semuanya serba ingin cepat saat ini. Begitupun dengan terjadinya pergeseran makna serta tidak jarang terjadinya salah persepsi terhadap budaya banjapuik itu sendiri. Hal ini ditandai dengan terjadinya perubahan pemahaman masyarakat dan pola yang dilakukan terhadap budaya bajapuik ini. Saat ini, jemputan identik hanya dengan memberikan sejumlah uang dalam jumlah besar atau barang mewah, seperti mobil. Dengan demikian, budaya tersebut menimbulkan persepsi bahwa bajapuik menjadi beban bagi pihak perempuan bahkan menjadi ‘momok’ yang menakutkan, menjadi suatu bahan cemooh. Budaya bajapuik tentu merupakan sebuah local genius yang ada dalam masyarakat Pariaman. Budaya bajapuik memiliki makna yang tinggi dalam tatanan keluarga, bukan pemahaman yang sempit seperti apa yang dipersepsikan oleh masyarakat pada umumnya. Akankah budaya bajapuik dapat bertahan seiring dengan kuatnya kesimpang siuran atau salah kaprah akan makna dalam mengartikan budaya bajapuik atau memang benar budaya ini akan hilang ditelan waktu?.

 

Comment