Puisi-Puisi Tiara Nursyita Sariza

SANSAIKU COVID-mu (1)

 

Di sudut kota tanpa pembatas

Seorang lelaki nyalang di mata, namun resah di dada

Cerutu adalah teman setia pada jemarinya yang kesepian

Dan rupiah adalah racun yang harus ditawar

 

Di seberang jalan mobil sikijang

Tak ubah hiasan di tepi aspal

Patung berjemur

Lintang sumatra panggilan nyawa

Kapan sansai ini perginya?

 

Dunia adalah cambuk

Dan surga palsu bagi sang kafir

Koktail di cawan firdaus

Bolehkah aku kesana? Katanya

Sebab di sini dan di kampung

Jalan tertutup

Kotoran setumpuk

Paket tuhan tak kunjung mengotoriku

Aku tak sakit

Tak jua sehat

Aku adalah hama si aparat

Sansai adalah hidupku sekarang

Muak dan berang

Cerutu pada jemariku telah habis

Asap berkepul bibir menangis

Aku benar-benar kesepian

Musim suntuk berkeram panjang

                              Aceh Utara, 2020

 

SANSAIKU COVID-mu (2)

 

Jangan berkelit dengan menyebut madu padahal kausedang meneguk kopi.

Jangan berdusta kepada setiap cawan yang kausinggahi.

 

Di tempat aku berteduh. Setiap kedai kopi adalah markas demokrasi

selain istana negara. Di dalamnya ada tawa penggetar jakun dan telinga para pemuda. Mulut-mulut mereka pengganti rempah. Kumis tipis mereka pengganti sumpah

Serapah. Candaan indah. Racikan tumpah ruah.

 

Malam ini. bukan lagi kedai kopi selain rumah tempat mereka berteduh melahirkan keculasan suara yang mereka berkati

dan suara dari bawah kumis terdengar menjijikkan dari luar. ketika mereka tak lagi singgah di kedai kopi. maka kedai kopi adalah rumpi tersendiri.

di  tempat aku berteduh, ada sebelas dusta yang harus kuseduh. dengan gundah dan tabah.

 

                               Aceh Utara, 2020

 

DIARY PUISI-WANITA

 

Kaudatang membelah dada dengan pedang berlumur madu

pada sapaanmu tanpa disadari ada harapan dari seorang perempuan yang bimbang

di tangannya menggenggam ponsel– Sedang jemarinya mengetik tus-tus kerinduan.

Jangan kembali. Jangan menegur. Jangan menasihati

terpaksa ia membalas pesan singkat yang kaububuhi. Padahal Hatinya telah menjadi kuburan amsal yang selalu kauziarahi

dengan melati hitam

luka dan pedang

darah dan keharuman.
Menyeruak kemirisan.

 

                                Aceh Utara, 2020

Comment