LIFE RIDDLE

    

Oleh :
(Fayra Asteriena Fazly/ Universitas Andalas)

Juara 2 Lomba Menulis Cerpen Festival Budaya Korea 2019 UPT Pusat Bahasa Universitas Andalas

Kupikir manusia itu menyukai hal-hal yang tinggi.

Pendidikan yang tinggi, gaji yang tinggi, derajat yang tinggi, segala yang tinggi. Kupikir manusia juga suka bermain teka-teki tingkat tinggi. Sulit untuk memahami dan menyadarinya di permulaan, seperti yang aku alami dulu. 

Di hari pertama sekolah setelah pindah dari Namyangju ke Seoul, aku bertemu Song. Satu dari sekian banyak murid yang sangat dingin. Dia duduk tepat di belakang kursiku dan tidak banyak bicara. Aku bahkan masih bisa menghitung berapa banyak kalimat yang pernah kudengar darinya sejak bersekolah di sana.

”Kau tahu apa yang tinggi di Korea?” 

Itu adalah kalimat sekaligus pertanyaan pertama yang ia lontarkan ketika jam istirahat di hari pertamaku. Bukan memperkenalkan nama atau menyambutku, dia malah mengajakku bermain tebak-tebakan.

Aku memutar tubuhku menghadap ke belakang. Di sana, Song tampak duduk tenang di kursinya sambil menunggu jawaban. Otakku berpikir. Kira-kira apa jawaban yang tepat. Pendidikan? Atau biaya pendidikannya? Nilai masuk universitas juga sangat tinggi. Itulah mengapa semua murid harus belajar sangat keras.

Dengan sedikit kelakar, aku menjawab seadanya. 

”Lee Kwang Soo. Tingginya hampir dua meter.””

Song tidak tertawa dengan leluconku. Mungkin dia tidak kenal siapa itu Lee Kwang Soo. Sungguh anak yang membosankan.

”Kau tidak kenal Lee Kwang Soo?”,tanyaku. Song hanya diam setelah membuang pandang. Tampak tidak tertarik.

Sejenak aku berpikir, betapa dinginnya anak ini. Aku tahu pemuda Seoul mungkin menjalani hidup yang lebih berat, tapi setidaknya mereka dapat bersikap sedikit lebih ramah terhadap teman baru. Namun raut wajahnya yang menunjukkan gurat kelelahan menyadarkanku sesuatu. Dia terlalu sibuk belajar. Berada di kelas tiga SMA pasti membuat segala hal terasa seperti beban. Tuntutan belajar keras untuk perguruan tinggi, untuk mendapatkan pekerjaan dengan gaji tinggi, untuk dapat membangun kehidupan bertaraf tinggi. Segala hal yang tinggi tadi. Semuanya seperti melilit leher dan siap mencekik. Aku bisa membaca semua itu saat melihat wajah kusam dan tubuhnya yang kurus.

Song kembali menatapku. Ia melipat tangan di depan dada dan menempelkan punggung ringkihnya ke sandaran kursi. Air mukanya tidak menunjukkan kehidupan. Jika boleh jujur, dia benar-benar seperti anak yang depresi bahkan sejak pertama kali melihatnya.

Pria itu kemudian berkata lagi dengan suara paraunya. 

”Jembatan Mapo, tingginya 21 meter. Terbentang indah melintasi Sungai Han. Namsan Tower, tingginya 236 meter, menjulang mengunci banyak cinta manusia. Gunung Gwanaksan, tingginya 629 meter, luas dan begitu damai. Aku pernah ke tempat-tempat itu, tapi ternyata tidak setinggi dan seindah kedengarannya.”

Itu adalah kalimat terpanjang Song yang pernah kudengar.

Tapi, aku justru sama sekali tidak mengerti apa yang dimaksud oleh anak itu. Apa dia sedang memberi teka-teki atau hanya sekadar bercerita tentang pengalamannya berwisata. Namun sebelum sempat bertanya, kelas sudah dimulai kembali hingga pukul sembilan malam. Semua siswa tampak lelah dan tak memiliki waktu yang cukup untuk bercengkrama satu sama lain. Hal itu sebenarnya wajar, bahkan di Namyangju. Namun di Seoul, segalanya terlihat jauh lebih buruk.

Keesokan harinya, Song kembali bicara random kepadaku di sela jam pelajaran.

”Kau tahu, apa lagi yang lebih tinggi?” bisiknya dari belakang punggungku.

Hampir aku menanggapinya dengan sebuah lelucon lain, namun Song dengan cepat menjawab pertanyaannya sendiri tanpa memberiku kesempatan bicara. 

”Langit,”  katanya.

Ya, tentu saja langit itu tinggi, tapi apa korelasinya dengan Jembatan Mapo, Namsan Tower, dan Gunung Gwanaksan? Song tidak menjawab lagi ketika aku bertanya. Dia hanya bilang, langit itu terlihat indah dari tempat kita berdiri.

Di hari ketiga, alih-alih menanyakan tempat yang tinggi, Song memberi tahuku sesuatu yang lain. 

“Kau tahu bagaimana cara menuju ke langit?””

Aku ingin menjawabnya dengan “naik pesawat” namun kuputuskan untuk berpura-pura tidak tahu saja. Dia mungkin punya satu petunjuk untuk teka-tekinya yang masih belum bisa kucerna ini. 

“Bagaimana caranya?”

Song mendekatkan badannya dan berbicara setengah berbisik seperti mengungkap sebuah rahasia besar. Mimik wajahnya sangat misterius, aku bahkan sampai menahan napas saat mendengar kalimat yang keluar dari mulutnya.

“Ternyata untuk mencapai sebuah tempat yang tinggi, kau harus turun jauh ke bawah.”

Setelah mengucapkan itu, dia menatapku dingin. Tatapan mata yang kosong seperti tak pernah ada kehidupan yang mengisi jiwa di dalam tubuh itu. Kemudian, sedikit senyum. Senyum yang dipaksakan.  Sepanjang hari aku memikirkan kenapa ia menatap dengan cara seperti itu. Di kelas pun tidak ada yang mau memberitahu. Mereka seolah tidak peduli atau benar-benar tidak peduli. Mereka terlihat sangat apatis dan itu membuatku geram. Bukankah Song adalah bagian dari mereka? Tapi kurasa jawabannya adalah tidak. Tidak ada yang menjadi bagian dari apapun di sini. Semua orang sibuk dengan kehidupannya masing-masing. Mengejar masa depan dengan berlari tak peduli hingga jatuh dan berdarah-darah.. Semua hal ‘tinggi’ yang manusia inginkan itu telah mengubah manusia itu sendiri. Sedikit banyak, aku ikut tertekan dibuatnya

Rangkaian teka-teki Song yang tidak pernah berhasil aku pecahkan itu, terjawab keesokan harinya. Tepat empat hari sejak aku duduk di kursi di depannya. Sebuah berita datang menggemparkan, membuat jantungku hampir berhenti berdetak dan darahku berdesir hebat.

Song ditemukan tidak bernyawa di kolam renang sekolah dengan kaki yang terikat batu seberat dua puluh kilogram. Malam itu, Song telah memutuskan untuk mengakhiri hidupnya yang memang tidak pernah terlihat seperti hidup. Kemudian aku mendengar, ternyata pria itu telah mencoba melakukannya berkali-kali. Di Jembatan Mapo, di Namsan Tower, dan di Gunung Gwanaksan. Namun ia tetap berhasil diselamatkan dan kembali menjalani hidup yang menyulitkan. Kini aku mengerti apa maksud kalimat terakhirnya itu. 

 “Turun jauh ke bawah untuk sampai ke tempat yang tinggi, hm?”

Aku bergumam di depan makam Song. Mulai mengerti satu per satu hal yang ia siratkan dalam setiap kalimat dan tatapan matanya. Song telah seputus asa itu. Ia tidak memiliki tempat berlabuh hingga ia memilih untuk berhenti. Ia bahkan mencari tempat-tempat indah untuk mengakhirinya. Mungkin ia berharap setidaknya ada yang menahannya untuk tetap tinggal.

Aku merasa buruk sekali. Jika saja aku mengerti sedikit lebih cepat, mungkin aku bisa melakukan sesuatu. Jika saja aku sedikit lebih peduli, mungkin ada yang berubah. Namun semuanya terlambat.

”Song, kau tahu apa lagi yang tinggi di Korea?” lirihku pelan di depan guci abunya. “Di banding Namsan Tower atau Gunung Gwanaksan, faktanya angka kematian di sini jauh lebih tinggi.”

Mungkin selama ini Song hanya berpura-pura memberi teka-teki tentang hal-hal yang tinggi. Namun kurasa yang ingin ia sampaikan sesungguhnya bukanlah itu. Jika ia jujur, mungkin tebak-tebakannya akan berbunyi seperti ini.

“”Kau tahu apa yang lebih menakutkan dari kematian? Yaitu kehidupan itu sendiri.”

Comment