“Last Birthday”

    

Oleh :

(Anisa Novianti Putri/ Universitas Andalas)

Juara 1 Lomba Menulis Cerpen Festival Budaya Korea 2019 UPT Pusat Bahasa Universitas Andalas

    “Lee Hana!” panggil ibuku terus menerus. 

Aku yang tadinya tengah fokus di depan meja rias sedikit menoleh ke arah pintu kamarku.

    “Iya Eomma. Sebentar lagi selesai.” Balasku. Aku pun kembali menatap pantulanku di cermin. Kuoleskan sedikit liptint di bibirku agar tak terlihat pucat. Aku segera bangkit dan mengambil tas yang kuletakkan di atas kasur. Saat akan memegang gagang pintu, aku kembali melihat ponselku. Di sana terlihat fotoku dan saudara kembarku sebagai wallpaper. Kuperhatikan tanggal yang tertera di layar ponsel. 15 April 2014. Aku tersenyum tipis. Besok adalah ulang tahun kami.

Aku, Lee Hana  merupakan anak bungsu dari 3 bersaudara. Aku tinggal bersama Ibu dan kedua saudara laki-lakiku. Aku sedikit sedih saat membicarakan tentang ayah karena ayah telah meninggalkan kami. Bukan, Ayahku bukan lelaki yang akan meninggalkan kami demi wanita lain, tapi ayah pergi karena kecelakaan tepat di hari ulang tahunku dan Suho. Ia tertabrak mobil saat hendak membelikan kado untuk kami. Kakak pertamaku, Jinho oppa merupakan reporter di salah satu stasiun TV Korea, sedangkan Ibuku memiliki toko bunga dekat rumah kami. Terkadang saat libur, aku dan Suho membantunya mengurus toko bunga.

Kuhampiri Ibuku yang mempersiapkan sarapan di meja makan. Kulihat kedua kakakku tengah duduk sambil berbincang-bincang.

Eomma butuh bantuan?” tanyaku.

“Duduklah. Eomma sudah selesai.” Jawab ibuku.

Kami makan sambil mengobrol. Ibuku selalu bertanya tentang banyak hal. Ia bertanya tentang sekolahku dan Suho. Apa ada masalah yang terjadi dan apakah ada orang yang kami sukai di sekolah. Tak jauh berbeda dengan kami. Ibuku juga sering bertanya tentang pekerjaan Jinho oppa dan terkadang Ia bertanya kapan anak tertuanya ini membawa kekasihnya ke rumah. Ia juga selalu menasihati kami dengan lemah lembut. Senyum ibuku selalu terlihat hangat. Kurasa senyum ibuku adalah yang tercantik di dunia. Pantas saja ayah jatuh cinta kepada ibu.

“Kalian akan berangkat hari ini?” tanya Jinho oppa.

“Ya, mungkin kami akan berangkat sore atau malam hari. Tapi ada hal yang harus kami urus terlebih dahulu.” Jawab Suho. Aku hanya mengangguk.

“Kalian akan meninggalkan Eomma sendirian?” Ibuku tiba-tiba terlihat sedih saat kami membicarakan tentang rencana liburan sekolah.

“Kami hanya pergi beberapa hari Eomma. Itu tak lama. Kami bukan akan pergi meninggalkan Eomma untuk selama-lamanya.” Jawab Suho sambil terkekeh karena merasa Ibu kami terlalu berlebihan.

“Kami hanya pergi sebentar Eomma. Jangan bersedih.” Aku mencoba menghibur Ibuku.

Setelah sarapan, aku, Suho, dan Jinho oppa berpamitan kepada Eomma. Jinho oppa selalu mengantar kami ke sekolah sebelum ia berangkat kerja.

“Bawalah ini.” Ibu memberikan termos kecil kepadaku dan Suho.

“Apa ini Eomma?” tanyaku sambil menerima termos yang diberikan ibuku.

“Itu sup rumput laut. Besok adalah hari ulang tahun kalian. Eomma tak bisa memberikannya langsung kepada kalian besok.” Jawab Eomma sambil berkaca-kaca.

Besok memang hari pertama ulang tahun kami tanpa Ibu dan Jinho Oppa. Aku dan Suho hanya bisa tersenyum untuk menenangkan Eomma. Kami mendekat dan memeluknya secara bersamaan. Rasanya semakin berat untuk kami pergi walaupun hanya sebentar.

 

***

 

    “Jadilah anak baik dan dengarkan apa yang seonsaengnim katakan.” Kata Jinho oppa saat kami sampai di gerbang sekolah.

    “Tenang saja, Hyeong. Tolong jaga Eomma saat kami tidak ada.”  Jawab Suho yang dibalas anggukan oleh Jinho oppa.

    Aku dan Suho berangkat lebih awal karena memang harus mengurus beberapa hal sebelum keberangkatan bersama beberapa teman. Aku dan Suho merupakan siswa di SMA Dawon. Saat ini, sekolahku akan melaksanakan liburan ke pulau Jeju. Aku dan teman-temanku merasa sangat antusias. Kami bahkan telah membuat daftar kegiatan yang akan kami lakukan selama liburan nanti.

    Kami seharusnya berangkat dari pelabuhan pada pukul 18.30, namun karena kabut yang tebal keberangkatan kami terpaksa ditunda. Kami baru berangkat pukul 21.00 malam. Aku satu kamar bersama Minsoo, sahabatku dan beberapa siswi lainnya. Kami tak bisa tidur malam ini karena antusiasme yang sangat tinggi. Kami sangat tidak sabar untuk segera sampai ke Pulau Jeju.

    “Aku tahu Eomma-mu pasti sangat berat melepaskan kalian. Apalagi besok ulang tahunmu dan Suho. Bukankah kalian selalu merayakan ulang tahun bersama sebelumnya? Eomma-ku saja sangat sedih saat aku anaknya yang paling keras kepala ini bilang akan berlibur untuk beberapa hari. Memang perasaan seorang ibu yang paling sensitif.” Ucap Minsoo seraya memakan keripik kentang yang ada di tangannya.

    “Aku rasanya ingin pulang saja, Eomma pasti kesepian di rumah. Seharusnya aku tak ikut berlibur.” Aku merasa ingin menangis sekarang.

    “Itu gila! Jika kau tak pergi berarti Suho juga tak pergi. Semua orang tahu kalau kalian itu tak bisa terpisahkan. Aku bisa gila jika tak melihat Suho-ku sehari saja.” Canda Minsoo.

    “Kalau begitu jangan jadi sahabatku jika kau hanya ingin mendekati Suho. Langsung pacaran saja dengan Suho.” Jawabku.

    “Ide bagus. Tapi aku butuh restu darimu terlebih dahulu sebelum mendekati Suho. Kau tahu kalau Suho selalu menuruti katamu. Jika Suho bertanya untuk menikahiku tolong jawab iya.”

    Aku dan Minsoo tertawa bersamaan. Benar-benar tak ada rasa kantuk yang menghampiri kami. Kami bahkan tetap mengobrol dan bercanda hingga sangat larut. Kami bahkan tak pernah berpikir ini adalah obrolan panjang terakhir kami.

    Sekitar pukul 08.48, kami merasakan ada guncagan aneh pada kapal yang kami tumpangi. Guncangan itu terjadi beberapa saat hingga akhirnya kapal kami sedikit oleng ke arah kiri. Kami semua merasa panik. Banyak siswa yang langsung keluar kamar mereka termasuk Minsoo, Suho, dan aku. Suho langsung mendekatiku dan bertanya apakah aku baik-baik saja. Aku hanya menjawabnya dengan anggukan. Wajah panik terlihat di mana-mana. Kami tak tahu apa yang terjadi sebenarnya.

    Lama-kelamaan, keadaan kapal semakin miring. Melalui intercom awak kapal, kami diberitahu agar tidak panik dan tetap berada di dalam kabin. Untuk menghilangkan kepanikan, beberapa siswa bercanda satu sama lain. Ada juga yang mengabadikan kejadian tersebut dengan kamera mereka dan beberapa lainnya mencoba menghubungi keluarga dengan ponsel. Tak sedikit pula temanku yang menangis merengek ingin pulang.

    Kami mencoba menghibur diri sendiri dan percaya kami akan segera diselamatkan. Namun, lama-kelamaan kapal semakin miring bahkan kami bisa berdiri di dinding kabin sambil bersender di lantai. Keadaan semakin kacau. Orang-orang semakin panik.

    “Ambil ini.” Suho memberikan life vest-nya yang ia pakai kepadaku. Ia bahkan memakaikannya langsung ke badanku.

    “Bagaimana denganmu?” tanyaku. 

    “Aku akan mencari yang lain. Tunggu aku sebentar.” Ucapnya mulai beranjak pergi.

    “Cepatlah kembali.” Ucapku saat Suho semakin jauh.

    Semuanya benar-benar kacau. Orang-orang yang tadinya bercanda, sekarang tengah menangis meratapi nasib. Masih ada beberapa orang yang terus merekam kejadian itu.

    “Aku rindu Ibuku.”

    “Ayah, Ibu. Maafkan aku. Aku sayang kalian semua.”

    “Kakakku sedang wajib militer sekarang. Hyeong, maafkan aku. Aku pikir akan pergi setelah melihatmu. Ternyata aku pergi tanpa bisa berpamitan denganmu.”

    “Aku ingin pulang.”

    “Siapa pun tolong selamatkan kami.”

    Teman-temanku semakin menangis sejadi-jadinya. Mereka meraung meratapi nasib. Aku menangis di pelukan Suho, Ia memelukku semakin kuat. Sesekali, ia mengelus punggungku agar aku lebih tenang.

    “Aku rindu Eomma dan Jinho oppa.” Kataku sambil terisak. Suho hanya mengangguk sambil mengjawab “Aku juga.”

    “Semuanya tenanglah. Sebentar lagi regu penyelamat akan datang. Kita akan selamat.” Temanku mencoba menenangkan kami.

    “Kau bodoh? Bagaimana regu penyelamat menyelamatkan lebih dari 300 orang dalam keadaan seperti ini hanya dengan waktu yang singkat? Kita akan mati!” balas temanku yang lain.

    Keadaan benar-benar sudah tak terkendali lagi. Memang sudah tak ada harapan lagi untuk kami. Kru kapal melalui intercom terus-terusan meminta kami untuk tenang dan tak meninggalkan kabin. Mereka gila! Mereka tak tahu bagaimana keadaan kami sekarang. Temanku benar. Kami akan mati. 

    “Setidaknya jika harus mati, kita mati bersama.” Aku semakin mengeratkan pelukanku kepada suho.

    “Hana, aku lupa mengatakan sesuatu padamu.” Suho mengangkat daguku dan menghapus air mataku. “Selamat ulang tahun.” Lanjutnya.

    “Kau juga, selamat ulang tahun Oppa.” Balasku.

    Itu adalah pertama dan terakhir kalinya aku memanggil Suho dengan sebutan Oppa. Karena di saat yang bersamaan, air masuk ke dalam kabin melahap kami semua. Aku merasa tercekik. Suho semakin menguatkan pelukannya padaku. Jika memang begini akhirnya setidaknya aku pergi menyusul ayah bersama Suho.

    “Eomma, Jinho oppa. Maafkan kami karena meninggalkan kalian. Kami sayang kalian.”

 

***

 

    “Kapal Sewol diketahui melakukan beberapa belokan mendadak sebelum tenggelam. Saat ini, regu penyelamat sedang melakukan usaha evakuasi terhadap korban yang tersisa. Sejauh ini, hanya sedikit informasi yang dapat kami peroleh. Saya Lee Jinho beserta Tim melaporkan langsung dari lokasi kejadian.”

    Saat kamera dimatikan, tubuh Jinho kembali melemah. Ia terjatuh ke tanah. Tatapannya kosong. Ia melihat kearah kapal yang tenggelam. Ia tak menyangka ini yang akan terjadi. Seandainya tahu, ia akan mencegah kedua adiknya untuk pergi. Sekarang tak ada yang bisa ia lakukan. Ia hanya bisa menangis sambil berdoa agar kedua adiknya selamat.

    “Kumohon, tolong selamatkan kedua adikku. Jika ini mimpi, tolong bangunkan aku dari mimpi buruk ini.” Jinho membiarkan air matanya mengalir deras tanpa menyekanya. Ia tak menyangka kedua adik yang disayangi harus menyusul ayahnya. 

 

***

 

Kehebohan terjadi di mana-mana. Semua orang tua berkumpul di aula sekolah untuk protes dan menanyakan keadaan anak mereka. Teriakan dan tangisan terdengar di mana-mana. Di tempat kejadian pun tak kalah kacau. Anehnya, hanya ada sedikit wartawan yang meliput. Semua orang benar-benar marah saat tahu yang pertama kali diselamatkan adalah awak kapal. Ia seharusnya lebih tahu dan lebih berpengalaman dalam menghadapi keadaan seperti ini.

Ratusan nama dipanggil oleh orang tua dan sanak saudaranya. Mereka berharap nama yang dipanggil dapat selamat dan dapat kembali berkumpul dengan mereka. Namun tak ada satupun sahutan yang menjawab panggilan mereka. Nama-nama yang dipanggil telah pergi. Mereka tak akan bisa kembali lagi.

 

Seorang Ibu dengan tubuhnya yang renta bergetar saat mengetahui nama anak-anaknya ada di dalam daftar korban yang tidak selamat. Lee Suho dan Lee Hana tak bisa diselamatkan. Mereka adalah saudara kembar yang akur. Bahkan mereka kompak dalam membuat ibu dan kakaknya menangis karena kehilangan.

“Selamat ulang tahun anak-anakku.” Ibu itu memeluk foto kedua anaknya sambil terisak.

 

***

 

-Kisah ini diambil dan didedikasikan kepada para korban tragedi kapal Sewol yang tenggelam pada tanggal 16 April 2014 di perairan selat Maenggol,  semua tokoh dalam cerita ini hanya fiksi belaka.-

 

Comment